Semester 4 Periode 2 4 SKS Sesi 1

Komunikasi Strategis dan Framing Pesan Advokasi KR

MK Advokasi Kebijakan & Diplomasi Kesehatan

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

A

Deskripsi Modul

Selasa sore. Ruang pers Kementerian Kesehatan. Jakarta. Pukul 15.30.

Dr. Amira, SpOG., Subsp.Obginsos., Ketua Divisi Advokasi POGI, berdiri di depan tiga belas wartawan dari media nasional. Di tangannya: rilis pers dua halaman tentang krisis AKI Indonesia.

Pertanyaan pertama dari wartawan Metro TV langsung menusuk.

"Bu Dokter, angka AKI Indonesia 189 per 100.000 kelahiran hidup. Malaysia 24, Thailand 37. Artinya perempuan Indonesia empat kali lebih mungkin mati saat melahirkan dibanding perempuan Malaysia. Siapa yang bertanggung jawab atas ini?"

Dr. Amira berhenti sebentar.

Ini pertanyaan yang berbahaya. Jika saya jawab "pemerintah bertanggung jawab" — saya mungkin mendapat liputan tapi kehilangan mitra kebijakan yang saya butuhkan untuk perubahan nyata. Jika saya menjawab "tidak ada yang bertanggung jawab" — saya kehilangan momentum advokasi.

Tapi ada pilihan ketiga.

"Perbandingan itu tepat dan penting," ia menjawab. "Tapi saya ingin menambahkan satu perspektif: Malaysia butuh dua puluh tahun untuk menurunkan AKI dari level kita sekarang ke level mereka. Indonesia bisa melakukannya lebih cepat karena kita bisa belajar dari mereka. Pertanyaannya bukan siapa yang salah — pertanyaannya adalah investasi apa yang harus kita buat sekarang agar sepuluh tahun lagi wartawan bertanya kepada menteri kesehatan Malaysia mengapa AKI mereka lebih tinggi dari Indonesia."

Ruangan hening. Lalu beberapa wartawan mulai mencatat.

Komunikasi strategis adalah kemampuan menyampaikan pesan yang benar kepada audiens yang tepat melalui saluran yang sesuai pada waktu yang tepat — dengan cara yang menggerakkan audiens tersebut menuju tindakan yang diinginkan. Dalam konteks advokasi KR, komunikasi bukan hanya tentang berbicara dengan baik atau membuat data terlihat menarik. Ia tentang memahami apa yang menggerakkan setiap audiens, memilih framing yang paling efektif, dan membangun narasi yang dapat bertahan dalam jangka panjang terhadap tekanan balik yang pasti datang.

B

Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. 1

    Menjelaskan prinsip-prinsip komunikasi strategis dalam konteks advokasi kebijakan KR

  2. 2

    Menerapkan teknik framing pesan untuk berbagai audiens dan konteks advokasi

  3. 3

    Merancang narasi advokasi yang kohesif dan tahan terhadap counter-framing

  4. 4

    Menggunakan berbagai saluran komunikasi secara strategis untuk advokasi KR

  5. 5

    Mengelola komunikasi dalam situasi yang berisiko atau berpotensi kontroversi

C

Materi Inti

C.1. Fondasi Komunikasi Strategis dalam Advokasi KR

C.1.1. Mengapa Fakta Saja Tidak Cukup

PARADOKS KOMUNIKASI ADVOKASI

  • Data AKI Indonesia sudah tersedia dan diketahui semua pihak selama bertahun-tahun — tapi kebijakan tidak berubah secepat yang seharusnya
  • Jika fakta saja cukup untuk mengubah kebijakan, program KR Indonesia sudah jauh lebih baik dari yang ada sekarang
  • Kesimpulan yang tidak nyaman: masalah bukan pada kurangnya data, melainkan pada bagaimana data dikomunikasikan dan apakah komunikasi itu menyentuh kepentingan dan nilai audiens yang harus bergerak

MENGAPA ORANG BERGERAK

BERGERAK KARENA KEPENTINGAN
  • Keputusan yang menguntungkan mereka: karir, popularitas, anggaran yang dikelola, konstituennya
  • Advokasi yang menunjukkan bagaimana program KR menguntungkan pembuat kebijakan lebih efektif dari yang hanya menunjukkan manfaat untuk pasien
  • Contoh: Gubernur yang AKI-nya turun semasa jabatan: legacy dan elektabilitas yang meningkat

BERGERAK KARENA NILAI
  • Keyakinan tentang apa yang benar dan penting
  • Framing KR sebagai hak asasi perempuan bekerja untuk audiens yang memiliki nilai tersebut — tidak bekerja untuk yang tidak
  • Framing berbeda diperlukan untuk audiens yang berbeda nilai

BERGERAK KARENA IDENTITAS
  • Apa yang konsisten dengan siapa mereka
  • "Pemimpin yang peduli perempuan" adalah identitas yang ingin dimiliki banyak politisi — program KR yang terhubung dengan identitas ini lebih mudah mendapat dukungan

BERGERAK KARENA NARASI
  • Kisah manusia konkret yang membuat abstraksi statistik menjadi nyata
  • Satu kisah kematian ibu yang dapat dicegah sering lebih menggerakkan dari seribu angka AKI
  • Kombinasi optimal: narasi yang menggerakkan hati + data yang meyakinkan pikiran

TEORI FRAMING DALAM ADVOKASI

DEFINISI FRAMING
  • Memilih aspek tertentu dari realitas yang dipersepsikan dan membuatnya lebih menonjol dalam komunikasi untuk mendorong interpretasi tertentu terhadap masalah, penyebab, evaluasi moral, dan rekomendasi tindakan
  • Entman (1993): semua komunikasi adalah framing — pertanyaannya bukan apakah kita mem-frame melainkan apakah kita mem-frame secara sadar dan strategis

EMPAT FUNGSI FRAME

1. Mendefinisikan masalah:

apa yang sedang terjadi?

2. Mendiagnosis penyebab:

mengapa terjadi?

3. Membuat penilaian moral:

apakah ini baik atau buruk?

4. Menyarankan solusi:

apa yang harus dilakukan?

CONTOH FRAMING BERBEDA UNTUK FAKTA YANG SAMA
FRAME "KEGAGALAN PEMERINTAH"
  • Masalah: pemerintah gagal melindungi perempuan
  • Penyebab: kebijakan yang salah dan alokasi anggaran yang tidak adekuat
  • Penilaian: ini tidak dapat diterima
  • Solusi: desak pemerintah bertanggung jawab
FRAME "INVESTASI NASIONAL"
  • Masalah: Indonesia kehilangan potensi pembangunan manusia yang signifikan
  • Penyebab: underinvestment dalam kesehatan ibu
  • Penilaian: ini adalah kesempatan yang terlewat
  • Solusi: tingkatkan investasi dalam program KR yang terbukti efektif
FRAME "HAK PEREMPUAN"
  • Masalah: perempuan tidak mendapatkan hak dasarnya atas kesehatan reproduksi
  • Penyebab: sistem yang tidak adil dan diskriminatif
  • Penilaian: pelanggaran hak asasi
  • Solusi: reformasi sistem untuk menjamin hak

Masing-masing frame akurat tapi menyoroti aspek yang berbeda — efektivitasnya tergantung pada siapa audiens dan apa yang menggerakkan mereka

C.2. Strategi Framing untuk Berbagai Audiens

C.2.1. Satu Pesan, Banyak Bahasa

SEGMENTASI AUDIENS ADVOKASI KR

SEGMEN 1
EKSEKUTIF POLITIK (GUBERNUR, BUPATI, MENTERI)

Yang menggerakkan:

legacy, elektabilitas, return on investment pembangunan, perbandingan dengan daerah/negara lain

Frame yang efektif:

"Investasi pembangunan manusia dengan return terukur" dan "kepemimpinan yang dikenang"

Bahasa:

ekonomi, angka yang konkret, perbandingan benchmark, dampak yang dapat diklaim sebagai prestasi

Yang harus dihindari:

jargon klinis, narasi yang menyalahkan kebijakan yang sudah ada, tuntutan yang tidak realistis

SEGMEN 2
LEGISLATIF (DPRD, DPR)
  • Yang menggerakkan: kepentingan konstituennya, visibilitas publik, posisi sebagai pembela kepentingan rakyat
  • Frame yang efektif: "Ibu di daerah pemilihan Anda yang menghadapi risiko ini" dan "legislator yang memperjuangkan perempuan"
  • Bahasa: kisah konkret dari konstituen, dampak lokal dari kebijakan nasional, peran DPRD dalam pengawasan anggaran KIA
  • Yang harus dihindari: argumen teknis yang terlalu mendalam tanpa terjemahan ke dampak lokal

SEGMEN 3
MEDIA
  • Yang menggerakkan: nilai berita (konflik, angka mengejutkan, kisah manusia), audiens mereka yang ingin mereka layani
  • Frame yang efektif: kontras yang kuat (Indonesia vs. negara tetangga), kisah individual yang mewakili masalah sistemik, "solusi yang ada tapi tidak diambil"
  • Bahasa: sederhana, konkret, ada angle yang menarik pembaca awam
  • Yang harus dihindari: jargon medis tanpa penjelasan, angka tanpa konteks, pesan yang terlalu kompleks untuk format berita

SEGMEN 4
KOMUNITAS PROFESIONAL KESEHATAN
  • Yang menggerakkan: standar profesi, evidence klinis, peran profesional dalam sistem
  • Frame yang efektif: "standar global yang belum terpenuhi" dan "tanggung jawab profesi"
  • Bahasa: terminologi klinis, evidence dari literatur, implikasi praktis untuk pelayanan
  • Yang harus dihindari: oversimplifikasi yang meremehkan kompleksitas klinis

SEGMEN 5
MASYARAKAT SIPIL DAN KOMUNITAS
  • Yang menggerakkan: keadilan, solidaritas, pengalaman langsung yang relevan
  • Frame yang efektif: "ini bisa terjadi pada siapapun dari kita" dan "kita bisa mengubah ini bersama"
  • Bahasa: cerita nyata, bahasa sehari-hari, koneksi ke kehidupan sehari-hari
  • Yang harus dihindari: bahasa top-down yang membuat masyarakat merasa sebagai objek, bukan agen perubahan

PRINSIP FRAMING YANG EFEKTIF

PRINSIP 1 — BINGKAI SOLUSI, BUKAN HANYA MASALAH
  • Advokasi yang hanya menggambarkan masalah menciptakan kesedihan atau kemarahan tanpa arah
  • Setiap pesan tentang masalah harus diikuti dengan pesan tentang solusi yang konkret dan dapat dilakukan
  • Dr. Amira kepada wartawan: mengakui masalah (kesenjangan dengan Malaysia) tapi langsung mengarahkan ke solusi (Indonesia bisa belajar dan lebih cepat)

PRINSIP 2 — HUMANISASI STATISTIK
  • Angka memberi magnitude; kisah memberi makna
  • "189 per 100.000 kelahiran hidup""Setiap hari, sekitar 20 ibu meninggal saat melahirkan di Indonesia — setara satu bus penuh perempuan produktif yang tidak pulang ke keluarganya"

  • Kisah satu orang yang mewakili masalah sistemik lebih diingat dari statistik agregat

PRINSIP 3 — ANCHOR DENGAN REFERENSI YANG FAMILIAR
  • Perbandingan dengan yang familiar membuat angka abstrak menjadi konkret
  • Benchmark negara tetangga yang dipahami audiens
  • "Biaya program ini setara dengan membangun dua kilometer jalan kabupaten" — perbandingan yang langsung dimengerti oleh Bupati

PRINSIP 4 — KONSISTENSI NARATIF
  • Frame yang berubah-ubah merusak kredibilitas dan membingungkan audiens
  • Satu narasi inti yang konsisten yang kemudian diadaptasi untuk berbagai audiens — bukan narasi yang berbeda-beda untuk setiap forum

C.3. Saluran Komunikasi Strategis

C.3.1. Memilih Medium yang Tepat

LANDSCAPE SALURAN KOMUNIKASI ADVOKASI KR

SALURAN 1 — MEDIA TRADISIONAL
TELEVISI
  • Jangkauan: sangat luas, terutama di luar kota besar
  • Efektif untuk: membangun kesadaran publik, memengaruhi opini umum, menciptakan tekanan politik
  • Keterbatasan: pesan harus sangat singkat (sound bite 10–30 detik), sulit mengontrol framing final
  • Strategi: siapkan satu kalimat kunci yang dapat dikutip; selalu sertakan angka yang kuat dan kisah yang menyentuh

MEDIA CETAK DAN ONLINE
  • Jangkauan: lebih sempit dari TV tapi lebih dalam — pembaca aktif yang mencari informasi
  • Efektif untuk: argumen yang lebih kompleks, memengaruhi pembuat kebijakan dan elite yang membaca media ini
  • Strategi: op-ed yang ditulis oleh pemimpin KR dengan data dan argumen yang kuat; media backgrounding untuk wartawan yang meliput isu kesehatan

SALURAN 2 — MEDIA SOSIAL
TWITTER/X
  • Efektif untuk: menjangkau jurnalis, pejabat pemerintah, akademisi; membangun percakapan publik di kalangan elite; real-time response terhadap isu yang muncul
  • Format: thread yang berisi data dengan visualisasi; live-tweet dari pertemuan kebijakan penting
INSTAGRAM
  • Efektif untuk: menjangkau publik yang lebih luas terutama muda; infografis yang memvisualisasikan data KR; kisah personal dengan wajah dan nama
  • Format: infografis yang kuat secara visual; Reels untuk pesan singkat yang emosional
YOUTUBE
  • Efektif untuk: penjelasan yang lebih mendalam; menjangkau masyarakat yang lebih luas melalui konten yang dapat dibagikan
  • Format: video pendek 2–5 menit dengan narasi yang kuat; dokumenter mini tentang kisah ibu hamil dan bidan
SALURAN 3 — KOMUNIKASI LANGSUNG
POLICY BRIEF
  • Dokumen satu sampai empat halaman yang merangkum masalah, bukti, dan rekomendasi kebijakan untuk pengambil keputusan yang tidak punya waktu membaca laporan panjang
  • Struktur efektif: satu kalimat masalah, tiga poin bukti kunci, dua hingga tiga rekomendasi spesifik, satu call to action
  • Format: satu halaman utama yang dapat dibaca dalam dua menit; lampiran teknis untuk yang ingin lebih dalam

PRESENTASI LANGSUNG
  • Momen advokasi paling efektif tapi paling langka
  • Prinsip: mulai dengan yang paling penting (kesimpulan dulu, bukan metodologi); antisipasi pertanyaan sulit; tinggalkan satu pesan yang paling diingat

PERTEMUAN BILATERAL
  • One-on-one dengan pengambil keputusan kunci: paling efektif untuk advokasi yang nuanced dan responsif
  • Persiapan: ketahui kepentingan dan agenda orang yang ditemui; siapkan jawaban untuk keberatan yang paling mungkin; bawa sesuatu yang dapat ditinggalkan

KOMUNIKASI DALAM SITUASI BERISIKO

PRINSIP MANAJEMEN KOMUNIKASI KRISIS
PRINSIP 1 — BE FIRST

Jika ada kabar buruk tentang program KR atau kematian ibu yang mendapat perhatian publik: lebih baik kita yang menyampaikan dulu dengan framing yang tepat daripada media yang menyampaikan tanpa konteks

PRINSIP 2 — BE ACCURATE

Jangan pernah membantah fakta yang benar — ini menghancurkan kredibilitas jangka panjang

Akui apa yang tidak diketahui: "kami sedang menginvestigasi dan akan memberikan informasi lebih lengkap dalam 48 jam"

PRINSIP 3 — BE EMPATHETIC

Dalam konteks kematian ibu: selalu mulai dengan empati sebelum penjelasan teknis

"Kehilangan ini sangat menyedihkan. Kami berkomitmen untuk memahami apa yang terjadi dan memastikan tidak terulang" — bukan langsung menuju statistik

PRINSIP 4 — BRIDGE TO ACTION

Dari setiap pertanyaan sulit, jembatani ke pesan inti tentang solusi dan komitmen

Teknik bridging: "Pertanyaan itu penting dan relevan. Yang juga perlu diketahui adalah..."

Dr. Amira menggunakan ini dengan sempurna: dari pertanyaan "siapa yang bertanggung jawab" dia bridge ke "apa yang bisa kita lakukan"

D

Pertanyaan Diskusi

Thread Dosen — Minggu 3

1

Pertanyaan 1

Dr. Amira berhasil mengubah pertanyaan "siapa yang bertanggung jawab" menjadi "apa yang bisa kita lakukan" dalam konferensi pers.

Analisis Teknik Komunikasi

Analisis teknik komunikasi strategis yang ia gunakan — framing apa yang dipilih, mengapa efektif untuk audiens wartawan, dan apa risikonya jika framing ini dikritik sebagai "membela pemerintah"?

Tiga Versi Pesan

Rancang tiga versi pesan inti tentang AKI Indonesia yang sama-sama akurat tapi di-frame berbeda untuk tiga audiens: Gubernur yang sedang kampanye pilkada, jurnalis investigasi yang sedang menulis tentang korupsi di sektor kesehatan, dan komunitas ibu-ibu di pedesaan.

Pertahankan Momentum

Apa yang harus Dr. Amira lakukan dalam 48 jam setelah konferensi pers ini untuk memastikan pesan yang sudah berhasil di-frame dengan baik tidak kehilangan momentum?

2

Pertanyaan 2

Sebuah organisasi advokasi KR sedang merancang kampanye media sosial untuk mendorong peningkatan anggaran ANC dalam APBD. Target utama: DPRD Komisi IV dan Bupati.

Strategi Saluran Terintegrasi

Rancang strategi saluran komunikasi yang menggunakan minimal tiga saluran berbeda secara terintegrasi — jelaskan peran spesifik setiap saluran dan bagaimana mereka saling memperkuat.

Risiko dan Respons

Identifikasikan dua risiko komunikasi yang paling mungkin dalam kampanye ini — misalnya counter-framing dari pihak yang menentang, atau isu yang dapat mengalihkan perhatian — dan rancang respons proaktif untuk masing-masing.

Mengukur Efektivitas

Bagaimana organisasi mengukur efektivitas kampanye komunikasinya — bukan hanya engagement di media sosial tapi dampak nyata pada proses kebijakan yang menjadi target?

E

Rangkuman

1

Komunikasi strategis dalam advokasi KR melampaui penyampaian fakta yang akurat karena fakta saja terbukti tidak cukup untuk mengubah kebijakan; orang bergerak karena kepentingan pribadi yang terlayani, nilai yang terpenuhi, identitas yang dikonfirmasi, atau narasi yang menyentuh — memahami apa yang menggerakkan setiap segmen audiens adalah prasyarat untuk komunikasi yang efektif, bukan sekadar mengetahui data yang ingin disampaikan.

2

Framing adalah memilih aspek tertentu dari realitas untuk ditonjolkan dalam cara yang mendorong interpretasi yang diinginkan tentang masalah, penyebab, penilaian moral, dan solusi; fakta AKI yang sama dapat di-frame sebagai kegagalan pemerintah, investasi nasional yang terlewat, atau pelanggaran hak perempuan — masing-masing akurat tapi memiliki efektivitas yang berbeda untuk audiens yang berbeda; pemimpin KR yang menguasai framing dapat memilih secara sadar dan strategis, bukan sekadar menyampaikan data secara netral.

3

Segmentasi audiens menentukan framing yang dipilih: eksekutif politik memerlukan framing return on investment dan legacy, legislatif memerlukan koneksi ke kepentingan konstituen, media memerlukan angle yang bernilai berita dan kisah manusia, profesional kesehatan memerlukan evidence klinis dan standar profesi, serta komunitas memerlukan bahasa sehari-hari dan koneksi ke pengalaman langsung; satu narasi inti yang konsisten diadaptasi untuk berbagai audiens lebih efektif dari narasi yang berbeda-beda untuk setiap forum.

4

Saluran komunikasi yang berbeda memiliki kekuatan dan keterbatasan yang berbeda: televisi untuk jangkauan luas dengan pesan yang sangat singkat, media cetak dan online untuk argumen yang lebih mendalam kepada elite kebijakan, media sosial untuk membangun percakapan publik dan tekanan dari bawah, policy brief untuk pengambil keputusan yang sibuk, dan pertemuan bilateral untuk advokasi yang paling nuanced; strategi komunikasi yang efektif menggunakan kombinasi saluran yang saling memperkuat, bukan bergantung pada satu saluran saja.

5

Komunikasi dalam situasi berisiko mengikuti empat prinsip yang tidak dapat dibalik: be first dengan menyampaikan kabar buruk sebelum media menyampaikannya tanpa konteks, be accurate dengan tidak pernah membantah fakta yang benar meskipun tidak menyenangkan, be empathetic dengan mendahulukan empati sebelum penjelasan teknis khususnya dalam konteks kematian ibu, dan bridge to action dengan selalu menjembatani dari pertanyaan sulit menuju pesan tentang solusi dan komitmen.

F

Referensi

  1. Entman RM. Framing: toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication. 1993;43(4):51-58.
  2. Lakoff G. Don't Think of an Elephant! Know Your Values and Frame the Debate. White River Junction: Chelsea Green Publishing; 2004.
  3. Dorfman L, Krasnow ID. Public health and media advocacy. Annual Review of Public Health. 2014;35:293-306.
  4. Wallack L, Dorfman L, Jernigan D, Themba M. Media Advocacy and Public Health: Power for Prevention. Newbury Park: SAGE; 1993.
  5. Shiffman J, Smith S. Generation of political priority for global health initiatives. The Lancet. 2007;370(9595):1370-1379.
  6. Labonte R, Sanger M. Assessing treaties' implications for global health and health equity: WHO's TRIPS agreement and access to medicines. Bulletin of the World Health Organization. 2006;84(3):252.
  7. Goffman E. Frame Analysis: An Essay on the Organization of Experience. New York: Harper & Row; 1974.
  8. Chapman S. Public Health Advocacy and Tobacco Control: Making Smoking History. Oxford: Blackwell; 2007.
  9. Tilly C. Social Movements 1768–2004. Boulder: Paradigm Publishers; 2004.
  10. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Komunikasi Publik Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
Minggu ke-3 Bobot 15%

TUGAS KELOMPOK 1 — SESI 1 (MINGGU 3)

Mata Kuliah: Advokasi Kebijakan & Diplomasi Kesehatan | Semester 4 | Periode 2 | Sesi 1

Identitas Tugas

Jenis Tugas Tugas Kelompok Pertama — Sesi 1
Minggu Minggu ke-3
Materi Modul 1–3
Bobot Nilai 15% dari nilai akhir mata kuliah
Pengerjaan Kelompok (3–4 orang)
Batas Pengumpulan Akhir Minggu ke-3 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format Luaran Paket Komunikasi Advokasi KR, format Word atau PDF
Panjang 2.200–2.800 kata (tidak termasuk tabel dan referensi)
Referensi Minimal 6 referensi dalam format Vancouver

PETUNJUK PENGERJAAN

  1. 1 Tugas ini mengintegrasikan tiga modul pertama MK19: fondasi advokasi kebijakan (Modul 1), analisis kebijakan dan aktor (Modul 2), dan komunikasi strategis serta framing (Modul 3)
  2. 2 Kelompok memilih satu isu KR spesifik di satu wilayah yang dikenal minimal satu anggota kelompok — isu yang cukup konkret untuk dianalisis secara mendalam tapi cukup representatif untuk menghasilkan pembelajaran yang dapat digeneralisasikan
  3. 3 Produk akhir adalah paket komunikasi yang dapat langsung digunakan — bukan dokumen akademis yang hanya mendeskripsikan pendekatan

SKENARIO UTAMA

Kelompok Anda adalah tim advokasi yang baru dibentuk oleh Pengurus Wilayah POGI atau asosiasi profesi KR setara di provinsi yang dipilih. Kepala Pengurus Wilayah meminta kelompok menyiapkan paket komunikasi advokasi untuk satu isu KR prioritas yang akan diadvokasikan kepada dua target utama dalam enam bulan ke depan.

Bagian 1 — Analisis Isu dan Target Advokasi (±500 kata)

1a. Definisi isu dan situasi saat ini

Pilih satu isu KR yang spesifik dan dapat diadvokasikan — bukan isu yang terlalu luas seperti "penurunan AKI" melainkan sesuatu yang lebih konkret seperti "peningkatan cakupan ANC berkualitas di kabupaten terpencil", "reformasi tarif BPJS untuk persalinan normal", atau "pemenuhan formasi bidan di daerah terpencil". Deskripsikan situasi saat ini dengan data yang mendukung.

1b. Dua target audiens kunci

Identifikasikan dua target audiens yang paling kritis untuk isu ini — siapa yang memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan yang diperlukan. Untuk setiap target: posisi mereka saat ini terhadap isu, kepentingan yang dimiliki, nilai yang dipegang, dan hambatan yang ada untuk bergerak.

1c. Jendela kebijakan yang tersedia

Identifikasikan satu jendela kebijakan (policy window) yang tersedia atau akan tersedia dalam 6–12 bulan ke depan — Musrenbang, penyusunan RPJMD, momentum pemilihan, perubahan pejabat — yang dapat dimanfaatkan untuk advokasi. Jelaskan mengapa jendela ini relevan dan bagaimana memanfaatkannya.

Bagian 2 — Strategi Framing dan Pesan Inti (±700 kata)

2a. Narasi inti advokasi

Kembangkan satu narasi inti yang konsisten tentang isu yang dipilih — maksimal tiga kalimat yang menangkap masalah, penyebab yang dapat diatasi, dan solusi yang diadvokasikan. Narasi ini harus: akurat secara faktual, meyakinkan secara emosional, dan mengundang tindakan.

2b. Framing untuk dua target audiens

Untuk setiap target audiens yang diidentifikasikan, kembangkan framing yang spesifik: menggunakan bahasa yang relevan, menyentuh kepentingan atau nilai mereka, dan mengarah pada tindakan spesifik yang diminta. Sajikan dalam format tabel: target audiens, kepentingan/nilai yang digunakan, framing spesifik, tindakan yang diminta.

2c. Antisipasi counter-framing

Identifikasikan satu counter-framing yang paling mungkin muncul dari pihak yang menentang atau tidak mendukung isu ini — dan rancang respons yang mempertahankan narasi inti tanpa terlihat defensif.

Bagian 3 — Paket Komunikasi Konkret (±700 kata + materi)

3a. Policy brief satu halaman

Susun policy brief satu halaman yang dapat langsung diberikan kepada pengambil keputusan. Policy brief harus mencakup: satu kalimat pernyataan masalah, tiga poin bukti kunci (data + kisah), dua hingga tiga rekomendasi spesifik, dan satu call to action yang jelas.

3b. Pesan untuk media sosial

Rancang tiga pesan untuk media sosial yang berbeda platform (satu untuk Twitter/X, satu untuk Instagram caption, satu untuk WhatsApp broadcast ke jaringan profesional) untuk isu yang sama. Setiap pesan harus: sesuai format platform, menggunakan framing yang tepat untuk audiens platform tersebut, dan terhubung dengan narasi inti.

3c. Strategi saluran tiga bulan

Rancang strategi penggunaan saluran komunikasi dalam tiga bulan pertama kampanye advokasi: saluran apa, pesan apa, kepada siapa, pada saat apa. Sajikan dalam timeline sederhana yang menunjukkan urutan dan logika aktivitas.

RUBRIK PENILAIAN

Komponen Indikator Penilaian Bobot
Bagian 1 — Analisis Spesifisitas isu; ketajaman analisis target audiens; relevansi jendela kebijakan yang diidentifikasi 25%
Bagian 2 — Framing Kekuatan narasi inti; ketepatan framing per audiens; kualitas antisipasi counter-framing 35%
Bagian 3 — Paket Komunikasi Kualitas policy brief; relevansi pesan media sosial per platform; logika strategi tiga bulan 40%

Dokumentasi bahan ajar pendidikan subspesialis obstetri ginekologi sosial