Semester 4 Periode 1 6 SKS Sesi 1

Formulasi Strategi dan Pemilihan Intervensi dalam Sistem Kesehatan Reproduksi

MK Perencanaan Strategis Bidang Kesehatan Reproduksi — Modul 4

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

A

Deskripsi Modul

Minggu keempat jabatan. Ruang kerja Dr. Rahmat, Dinkes Kabupaten Sumba Tengah. Pukul 19.30.

Di atas mejanya: tiga dokumen yang berbeda sumber.

Dokumen pertama — dari Kemenkes: daftar intervensi prioritas program KIA nasional. Dua puluh tujuh item. ANC terpadu, BEmONC, CEmONC, rumah tunggu kelahiran, posyandu prima, bidan desa, kelas ibu hamil, pemantauan wilayah setempat KIA, dan seterusnya.

Dokumen kedua — dari UNFPA perwakilan NTT: proposal kemitraan program. Menawarkan dukungan teknis dan pendanaan untuk tiga komponen: pelatihan bidan, sistem informasi KR, dan community mobilization. Total nilai: Rp 3,2 miliar selama dua tahun.

Dokumen ketiga — catatan Dr. Rahmat sendiri: diagnosis situasi dan tujuan strategis yang baru selesai difinalisasi timnya minggu lalu. AKI 412. Bidan desa kosong 23 posisi. Jalan rusak empat kecamatan. Kualitas ANC 43%. Kepercayaan pada dukun beranak yang kuat.

Dr. Rahmat membaca semua tiga dokumen dengan pensil di tangan.

Di dokumen pertama, ia memberi tanda centang pada sembilan intervensi yang relevan dengan diagnosis mereka. Lalu ia melihat anggarannya. Untuk menjalankan sembilan intervensi itu dengan serius, ia butuh empat kali lipat anggaran yang ada.

Di dokumen kedua, ia membuat lingkaran pada "pelatihan bidan" dan tanda tanya pada "community mobilization" — bagus secara prinsip, tapi apakah cocok dengan konteks Sumba Tengah?

Di dokumen ketiganya, ia menulis satu pertanyaan besar dengan huruf kapital:

DARI SEMUA YANG BISA DILAKUKAN, APA YANG HARUS DILAKUKAN LEBIH DULU?

Formulasi strategi adalah proses memilih — dan memilih berarti meninggalkan sesuatu. Dalam konteks sistem KR Indonesia dengan sumber daya yang terbatas dan masalah yang berlapis, kemampuan untuk memilih intervensi yang paling tepat berdasarkan evidence, konteks, dan kapasitas yang ada adalah inti dari kepemimpinan strategis. Modul ini membangun kerangka berpikir untuk membuat pilihan strategis yang dapat dipertanggungjawabkan: bukan memilih berdasarkan popularitas, tekanan donor, atau kebiasaan — melainkan berdasarkan logika kausal yang eksplisit dan bukti yang relevan.

B

Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. 1

    Menjelaskan prinsip-prinsip formulasi strategi dan pemilihan intervensi dalam sistem KR

  2. 2

    Menerapkan kerangka Theory of Change untuk menghubungkan intervensi dengan tujuan strategis

  3. 3

    Menggunakan kriteria pemilihan intervensi yang berbasis evidence untuk membuat pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan

  4. 4

    Merancang paket intervensi yang kohesif dan saling melengkapi dalam konteks sumber daya terbatas

  5. 5

    Menganalisis trade-off antara intervensi yang berbeda dan membuat argumen eksplisit untuk pilihan yang diambil

C

Materi Inti

C.1. Prinsip Formulasi Strategi

C.1.1. Strategi sebagai Pilihan

ESENSI FORMULASI STRATEGI — MEMILIH

→ Strategi yang mencoba melakukan segalanya bukan strategi — ia adalah daftar aktivitas tanpa prioritas

→ Michael Porter: "The essence of strategy is choosing what NOT to do"

→ Dalam konteks KR: dengan anggaran terbatas, setiap rupiah yang dialokasikan untuk satu intervensi berarti rupiah yang tidak tersedia untuk intervensi lain

TIGA PERTANYAAN FORMULASI STRATEGI

PERTANYAAN 1: "INTERVENSI APA YANG PALING MUNGKIN MENGHASILKAN PERUBAHAN YANG DIINGINKAN?"
  • → Berbasis kausal: apakah ada mekanisme yang jelas mengapa intervensi ini menghasilkan outcome yang ditargetkan?
  • → Berbasis evidence: apakah ada bukti dari konteks yang serupa bahwa intervensi ini bekerja?
  • → Berbasis bottleneck: apakah intervensi ini mengatasi hambatan yang paling membatasi sistem saat ini?
PERTANYAAN 2: "INTERVENSI APA YANG PALING FEASIBLE DALAM KONTEKS KITA?"
  • → Feasibility teknis: apakah kapasitas untuk mengimplementasikan ada atau dapat dibangun dalam waktu yang masuk akal?
  • → Feasibility finansial: apakah biaya intervensi dalam jangkauan anggaran yang tersedia atau dapat dimobilisasi?
  • → Feasibility politik dan sosial: apakah ada dukungan yang cukup dari pemangku kepentingan kunci dan komunitas yang akan dilayani?
PERTANYAAN 3: "INTERVENSI MANA YANG PALING COST-EFFECTIVE?"
  • → Cost-effectiveness: berapa biaya per unit outcome yang dihasilkan?
  • → Intervensi yang paling mahal tidak selalu yang paling berdampak
  • → Dalam konteks sumber daya terbatas: prioritas pada intervensi dengan cost-effectiveness terbaik untuk outcome yang ditargetkan

STRATEGI GENERIK UNTUK SISTEM KR

STRATEGI 1 — SUPPLY STRENGTHENING:
  • → Memperkuat sisi penawaran layanan: tenaga, fasilitas, obat, peralatan, sistem
  • → Tepat ketika: bottleneck utama adalah keterbatasan atau kualitas layanan yang tersedia
  • → Contoh: pelatihan BEmONC, penempatan bidan desa, penyediaan obat esensial persalinan
STRATEGI 2 — DEMAND GENERATION:
  • → Meningkatkan permintaan dan utilisasi layanan yang sudah tersedia
  • → Tepat ketika: layanan ada tapi tidak digunakan karena hambatan demand (pengetahuan, kepercayaan, norma sosial)
  • → Contoh: edukasi komunitas, kelas ibu hamil, pelibatan tokoh agama dan adat
STRATEGI 3 — ACCESS IMPROVEMENT:
  • → Mengurangi hambatan akses: geografis, finansial, atau budaya
  • → Tepat ketika: masyarakat ingin menggunakan layanan tapi tidak bisa menjangkaunya
  • → Contoh: rumah tunggu kelahiran, voucher transportasi, bidan motor, outreach aktif
STRATEGI 4 — QUALITY IMPROVEMENT:
  • → Meningkatkan kualitas layanan yang sudah tersedia dan sudah digunakan
  • → Tepat ketika: cakupan sudah cukup tinggi tapi outcome tidak membaik — "empty visits"
  • → Contoh: supervisi fasilitatif, audit klinis, coaching on the job, standar dan protokol
STRATEGI 5 — SYSTEMS INTEGRATION:
  • → Mengintegrasikan program yang saat ini berjalan silo menjadi sistem yang koheren
  • → Tepat ketika: banyak program baik tapi tidak saling terhubung dan tidak efisien
  • → Contoh: integrasi ANC dengan gizi, KB, HIV, dan imunisasi dalam satu kunjungan

MEMILIH STRATEGI BERDASARKAN DIAGNOSIS

→ Tidak ada strategi yang benar untuk semua konteks

→ Strategi yang tepat adalah yang menjawab bottleneck yang teridentifikasi dalam diagnosis:

  • • Jika bottleneck adalah supply: gunakan Strategi 1
  • • Jika bottleneck adalah demand: gunakan Strategi 2
  • • Jika bottleneck adalah akses: gunakan Strategi 3
  • • Jika bottleneck adalah kualitas: gunakan Strategi 4
  • • Jika bottleneck adalah fragmentasi: gunakan Strategi 5

→ Dalam praktik: beberapa strategi dikombinasikan — tapi dengan prioritas yang jelas, bukan semua dengan bobot yang sama

C.2. Theory of Change sebagai Alat Formulasi Strategi

C.2.1. Membangun Theory of Change untuk Sistem KR

APA ITU THEORY OF CHANGE (ToC)

DEFINISI:
  • → Narasi kausal yang eksplisit tentang bagaimana dan mengapa intervensi yang dilakukan akan menghasilkan perubahan yang diinginkan
  • → Menjawab: "Jika kita melakukan X, maka Y akan terjadi, karena Z" — dengan asumsi yang harus terpenuhi dinyatakan secara eksplisit
  • → Bukan: "Kita melakukan X dan berharap Y terjadi"

KOMPONEN ToC UNTUK SISTEM KR

KOMPONEN 1 — LONG-TERM OUTCOME:
  • → Perubahan kondisi KR jangka panjang yang menjadi tujuan akhir
  • → Sama dengan tujuan impact dalam hierarki tujuan strategis
  • → Contoh: "Tidak ada kematian ibu yang dapat dicegah di Sumba Tengah pada 2030"
KOMPONEN 2 — INTERMEDIATE OUTCOMES:
  • → Perubahan kondisi jangka menengah yang menjadi prasyarat outcome jangka panjang
  • → Beberapa intermediate outcomes dapat berjalan paralel
  • → Contoh:
    • • "Setiap perempuan hamil memiliki rencana persalinan dan bidan terlatih dalam jangkauan"
    • • "Komplikasi obstetrik teridentifikasi lebih awal dan dirujuk tepat waktu"
    • • "Persalinan di fasilitas mencapai 82% dengan kualitas yang terjamin"
KOMPONEN 3 — OUTPUTS:
  • → Produk dan layanan langsung dari intervensi
  • → Contoh:
    • • "23 posisi bidan desa terisi dengan tenaga terlatih"
    • • "100% Puskesmas memiliki kit BEmONC lengkap"
    • • "Rumah tunggu kelahiran beroperasi di 4 kecamatan terpencil"
KOMPONEN 4 — ACTIVITIES:
  • → Apa yang dilakukan untuk menghasilkan outputs
  • → Contoh:
    • • "Rekrutmen dan penempatan 23 bidan PTT daerah dengan insentif retensi"
    • • "Pelatihan BEmONC untuk 44 bidan dan 11 dokter Puskesmas"
    • • "Pembangunan dan operasionalisasi 4 rumah tunggu kelahiran"
KOMPONEN 5 — INPUTS:
  • → Sumber daya yang diperlukan
  • → Anggaran, tenaga, waktu, infrastruktur, kemitraan
KOMPONEN 6 — ASSUMPTIONS:
  • → Kondisi yang harus ada agar rantai kausal berfungsi
  • → Ini adalah komponen yang paling sering diabaikan tapi paling menentukan apakah ToC akan terbukti benar
  • → Contoh asumsi:
    • • "Bidan yang ditempatkan mau tinggal dan aktif di desa yang ditugaskan"
    • • "Komunitas mau memanfaatkan rumah tunggu kelahiran"
    • • "Anggaran yang dialokasikan cair tepat waktu"

MENGGUNAKAN ToC UNTUK MENGUJI STRATEGI

UJI 1 — UJI KAUSAL:
  • → Apakah logika sebab-akibat dari inputs ke outputs ke outcomes ke impact masuk akal?
  • → Di mana rantai paling lemah atau paling asumtif?
UJI 2 — UJI EVIDENCE:
  • → Apakah ada evidence bahwa mekanisme kausal ini bekerja dalam konteks serupa?
  • → Evidence kuat: RCT atau quasi-experimental dari setting serupa
  • → Evidence lemah: studi observasional atau analogi dari konteks yang sangat berbeda
UJI 3 — UJI ASUMSI:
  • → Seberapa realistis asumsi yang dibuat?
  • → Apakah ada rencana untuk memastikan asumsi kritis terpenuhi?
  • → Jika asumsi kritis tidak terpenuhi, apa yang dilakukan?
UJI 4 — UJI KONTRIBUSI:
  • → Apakah intervensi yang dirancang cukup untuk menggerakkan sistem — atau terlalu kecil untuk menghasilkan perubahan yang bermakna?
  • → "Dosage": apakah skala intervensi proporsional dengan skala masalah?

C.3. Kriteria Pemilihan Intervensi KR

C.3.1. Kerangka Evaluasi Intervensi

ENAM KRITERIA PEMILIHAN INTERVENSI KR

KRITERIA 1 — STRENGTH OF EVIDENCE:
  • → Seberapa kuat bukti bahwa intervensi ini bekerja untuk outcome yang ditargetkan?
  • → Hierarki evidence untuk KR:
    • • Systematic review dan meta-analisis dari RCT: paling kuat
    • • RCT tunggal berkualitas tinggi
    • • Quasi-experimental studies
    • • Observational studies berkualitas tinggi
    • • Expert consensus dan program experience
  • → Implikasi: intervensi dengan evidence kuat diprioritaskan; intervensi inovatif tanpa evidence hanya sebagai pilot dengan monitoring ketat
KRITERIA 2 — KONTEKSTUAL FIT:
  • → Seberapa cocok intervensi ini dengan konteks lokal — geografis, budaya, kapasitas sistem?
  • → Intervensi yang berhasil di Bangladesh belum tentu cocok untuk Sumba Tengah
  • → Pertanyaan kunci: apakah mekanisme yang membuat intervensi bekerja di konteks asalnya juga tersedia di konteks kita?
KRITERIA 3 — COST-EFFECTIVENESS:
  • → Berapa biaya per unit outcome — DALY dicegah, kematian ibu dicegah, atau cakupan yang meningkat?
  • → Referensi untuk Indonesia: intervensi KR primer umumnya sangat cost-effective; intervensi teknologi tinggi sering kurang cost-effective di tingkat primer
  • → Pertimbangan ekuitas: intervensi yang menjangkau yang paling terpinggir sering lebih mahal per unit tapi menghasilkan equity gain yang penting
KRITERIA 4 — IMPLEMENTABILITY:
  • → Apakah kapasitas untuk mengimplementasikan ada atau dapat dibangun?
  • → Dimensi:
    • • Ketersediaan SDM yang kompeten
    • • Infrastruktur yang diperlukan
    • • Sistem manajemen yang mendukung
    • • Regulasi yang memungkinkan
  • → Intervensi yang tidak dapat diimplementasikan dengan baik lebih berbahaya dari tidak diimplementasikan sama sekali
KRITERIA 5 — SUSTAINABILITY:
  • → Apakah intervensi ini dapat berlanjut setelah proyek atau periode rencana berakhir?
  • → Dimensi keberlanjutan:
    • • Finansial: apakah ada sumber pendanaan reguler?
    • • Kelembagaan: apakah intervensi diintegrasikan dalam sistem rutin?
    • • Kapasitas: apakah kapasitas lokal dibangun atau hanya bergantung pada expert luar?
    • • Politik: apakah ada dukungan kepemimpinan yang cukup untuk bertahan melewati pergantian pejabat?
KRITERIA 6 — EQUITY IMPACT:
  • → Apakah intervensi ini menjangkau kelompok yang paling terpinggir — atau hanya menambahkan layanan untuk yang sudah terlayani?
  • → "Inverse care law" (Tudor Hart): yang paling membutuhkan sering paling sedikit mendapat layanan
  • → Intervensi dengan equity impact tinggi diprioritaskan dalam sistem KR yang bertujuan mengurangi kesenjangan

MATRIKS PEMILIHAN INTERVENSI

→ Buat matriks dengan intervensi kandidat di baris dan enam kriteria di kolom

→ Beri skor 1–3 untuk setiap sel: 1 = lemah/tidak memenuhi; 2 = sedang; 3 = kuat/sangat memenuhi

→ Beri bobot per kriteria sesuai konteks: misalnya konteks dengan anggaran sangat terbatas memberi bobot lebih pada cost-effectiveness; konteks dengan kesenjangan besar memberi bobot lebih pada equity impact

→ Total skor tertimbang menghasilkan ranking intervensi

→ PENTING: matriks adalah alat bantu, bukan pengganti pertimbangan — intervensi dengan skor tinggi tapi tidak koheren dengan strategi lain tidak dipilih

C.4. Merancang Paket Intervensi yang Kohesif

C.4.1. Prinsip Paket Intervensi

MENGAPA INTERVENSI TUNGGAL SERING TIDAK CUKUP

→ Sistem KR adalah sistem yang kompleks: banyak faktor berinteraksi

→ Intervensi tunggal yang hanya menyentuh satu faktor sering terbatas dampaknya karena faktor lain tetap menjadi penghambat

→ Contoh: melatih bidan (supply strengthening) tanpa mengatasi hambatan akses komunitas menghasilkan bidan terlatih yang tidak digunakan; meningkatkan demand tanpa memperbaiki kualitas layanan menghasilkan perempuan yang datang lalu kecewa dan tidak kembali

PRINSIP PAKET INTERVENSI YANG KOHESIF

PRINSIP 1 — COMPLEMENTARITY:
  • → Setiap intervensi dalam paket mengatasi satu hambatan spesifik
  • → Bersama-sama mereka menutup semua hambatan kritis yang teridentifikasi
  • → Tidak ada hambatan kritis yang tidak ditangani oleh setidaknya satu intervensi dalam paket
PRINSIP 2 — SEQUENCING:
  • → Beberapa intervensi harus didahulukan sebelum intervensi lain dapat efektif
  • → Contoh: meningkatkan demand sebelum supply siap menghasilkan pengalaman buruk yang merusak kepercayaan; sebaliknya memperbaiki supply sebelum ada demand adalah investasi yang tidak terpakai
  • → Sequencing yang salah dapat menggagalkan paket yang secara individual baik
PRINSIP 3 — PROPORTIONALITY:
  • → Besarnya investasi dalam setiap intervensi proporsional dengan besarnya hambatan yang diatasi dan kontribusinya pada tujuan
  • → Jangan mengalokasikan 60% anggaran untuk intervensi yang mengatasi 20% dari masalah
PRINSIP 4 — PHASING:
  • → Tidak semua intervensi dimulai sekaligus
  • → Fase 1 (tahun 1–2): fondasi — intervensi yang menciptakan kondisi untuk intervensi selanjutnya
  • → Fase 2 (tahun 2–4): ekspansi — membangun di atas fondasi yang sudah ada
  • → Fase 3 (tahun 4–5): konsolidasi — memastikan keberlanjutan dan institutionalisasi

CONTOH PAKET INTERVENSI UNTUK SUMBA TENGAH

FONDASI MASALAH:

→ AKI 412; bidan desa kosong 23; akses terbatas 4 kecamatan; kualitas ANC 43%; dukun beranak lebih dipercaya

KOMPONEN A — TENAGA (mengatasi bottleneck workforce):
  • → Rekrutmen 23 bidan daerah dengan insentif retensi khusus terpencil
  • → Pelatihan BEmONC semua bidan dan dokter Puskesmas
  • → Supervisi bulanan berbasis coaching
KOMPONEN B — AKSES (mengatasi hambatan geografis):
  • → Rumah tunggu kelahiran di 4 kecamatan terpencil
  • → Motor dinas untuk bidan di desa yang hanya dapat dicapai dengan kendaraan roda dua
  • → Sistem komunikasi darurat berbasis radio/HP untuk koordinasi rujukan
KOMPONEN C — KUALITAS (mengatasi kualitas rendah):
  • → Pembaruan dan penerapan standar ANC 10T di semua Puskesmas
  • → Audit ANC triwulanan berbasis rekam medis
  • → Coaching on the job oleh bidan senior
KOMPONEN D — KOMUNITAS (mengatasi hambatan demand dan kepercayaan):
  • → Kemitraan dukun beranak: pelatihan deteksi bahaya dan fasilitasi rujukan
  • → Kelas ibu hamil di semua desa dengan komponen suami dan tokoh masyarakat
  • → Fasilitator kesehatan berbasis komunitas yang berbahasa Kambera
SEQUENCING:
  • → Bulan 1–6: rekrutmen bidan + standar ANC + pelatihan BEmONC (fondasi supply)
  • → Bulan 6–18: rumah tunggu + motor dinas + kemitraan dukun (akses dan komunitas)
  • → Bulan 12–36: kelas ibu hamil + audit + coaching (demand dan kualitas)
  • → Sepanjang periode: supervisi dan monitoring

C.5. Mengelola Trade-off dalam Formulasi Strategi

C.5.1. Trade-off yang Lazim dalam Strategi KR

TRADE-OFF 1 — CAKUPAN VS. KUALITAS

DILEMA:
  • → Memperluas cakupan dengan cepat vs. memastikan kualitas sebelum ekspansi
  • → Ekspansi cakupan yang terlalu cepat menghasilkan layanan berkualitas rendah yang tidak menurunkan AKI
  • → Terlalu fokus pada kualitas sebelum cakupan luas meninggalkan banyak perempuan tanpa layanan
RESOLUSI:
  • → Sequencing yang bijak: bangun kualitas minimum yang acceptable sebelum ekspansi
  • → Ekspansi bertahap: mulai dari area yang paling mudah dijangkau sambil membangun kapasitas untuk area yang lebih sulit
  • → Monitoring ketat: jika kualitas turun saat ekspansi, lambatkan ekspansi

TRADE-OFF 2 — INTERVENSI KLINIS VS. SOSIAL

DILEMA:
  • → Investasi dalam kapasitas klinis (pelatihan, peralatan) vs. investasi dalam determinan sosial (edukasi, pemberdayaan perempuan, keterlibatan komunitas)
  • → Intervensi klinis lebih mudah diukur dan dipercaya oleh pembuat kebijakan
  • → Determinan sosial sering lebih kritis untuk kelompok yang paling terpinggir tapi lebih sulit dibiayai dan diukur
RESOLUSI:
  • → Keduanya diperlukan — pilih proporsi berdasarkan diagnosis: jika bottleneck dominan adalah klinis, investasi lebih di klinis; jika bottleneck dominan adalah sosial, investasi lebih di sosial
  • → Hindari dikotomi palsu: banyak intervensi menggabungkan keduanya (kelas ibu hamil dengan komponen klinis dan sosial)

TRADE-OFF 3 — INOVASI VS. PROVEN APPROACHES

DILEMA:
  • → Mencoba pendekatan baru yang menjanjikan vs. menggunakan pendekatan yang sudah terbukti
  • → Inovasi tanpa evidence dapat menghabiskan sumber daya tanpa dampak
  • → Terlalu konservatif melewatkan peluang perbaikan
RESOLUSI:
  • → Portfolio approach: 80% anggaran untuk proven approaches; 20% untuk inovasi dengan monitoring ketat
  • → Inovasi dengan built-in evaluation: pilot dengan desain evaluasi yang memungkinkan pembelajaran sebelum scale-up

TRADE-OFF 4 — KEDALAMAN VS. JANGKAUAN

DILEMA:
  • → Program intensif untuk kelompok terbatas yang paling membutuhkan vs. program lebih tipis untuk cakupan yang lebih luas
  • → Kedalaman menghasilkan perubahan bermakna tapi hanya untuk sedikit orang
  • → Jangkauan luas tapi dangkal mungkin tidak menghasilkan perubahan yang cukup untuk siapapun
RESOLUSI:
  • → Stratifikasi risiko: intervensi intensif untuk kelompok risiko tinggi; intervensi lebih ringkas untuk populasi umum
  • → Leverage: intervensi yang menciptakan efek multiplikasi (melatih pelatih, memperkuat sistem supervisi) menghasilkan kedalaman dengan jangkauan lebih luas
D

Pertanyaan Diskusi

Thread Dosen — Minggu 4

1

Pertanyaan 1

Dr. Rahmat menerima tawaran dari UNFPA untuk mendanai tiga komponen: pelatihan bidan (Rp 1,5 M), sistem informasi KR (Rp 1 M), dan community mobilization (Rp 700 juta). Seluruh dana harus digunakan untuk tiga komponen tersebut dan tidak dapat dialihkan. Diagnosis situasi Sumba Tengah menunjukkan bahwa bottleneck utama adalah bidan desa yang kosong dan akses geografis — bukan sistem informasi.

Menerima atau Menolak

Apakah Dr. Rahmat sebaiknya menerima atau menolak tawaran ini — jelaskan dengan menggunakan kerangka kriteria pemilihan intervensi?

Integrasi Paket

Jika diterima, bagaimana ia mengintegrasikan tiga komponen yang ditawarkan UNFPA ke dalam paket intervensi yang sudah dirancang sesuai diagnosis, sehingga tetap kohesif meskipun satu komponen (sistem informasi) bukan prioritas utama?

Risiko Jangka Panjang

Apa risiko jangka panjang dari menerima program donor yang tidak sepenuhnya selaras dengan prioritas diagnosis lokal — dan bagaimana risiko ini dikelola?

2

Pertanyaan 2

Kepala Bidang Promosi Kesehatan mengusulkan intervensi: "kampanye media sosial berskala besar tentang pentingnya persalinan di fasilitas, dengan target 50.000 tayangan per bulan." Ia mengklaim ini cost-effective karena murah dan jangkauannya luas. Kepala Bidang KIA mengusulkan sebaliknya: "penempatan 5 bidan keliling yang secara aktif mengunjungi desa-desa terpencil setiap dua minggu" — lebih mahal tapi langsung menyentuh kelompok yang paling terpinggir.

Evaluasi dengan Enam Kriteria

Evaluasi kedua intervensi ini menggunakan enam kriteria pemilihan intervensi — mana yang lebih unggul secara keseluruhan untuk konteks Sumba Tengah?

Kondisi Tepat untuk Kampanye Media Sosial

Dalam kondisi apa kampanye media sosial bisa menjadi intervensi yang tepat dalam sistem KR — dan kondisi apa yang harus ada agar efektif?

Argumen untuk Bupati

Rancang argumen yang paling kuat untuk meyakinkan Bupati bahwa intervensi yang lebih mahal per unit tapi lebih menjangkau yang terpinggir adalah pilihan strategis yang lebih baik.

E

Rangkuman

1

Formulasi strategi pada intinya adalah proses memilih — dan memilih berarti secara eksplisit meninggalkan sesuatu; strategi yang mencoba melakukan segalanya dengan anggaran terbatas adalah strategi yang tidak berani mengambil keputusan, dan hasilnya adalah semua bergerak sedikit tanpa ada yang bergerak cukup untuk menghasilkan perubahan yang bermakna; lima strategi generik untuk sistem KR — supply strengthening, demand generation, access improvement, quality improvement, dan systems integration — dipilih dan dikombinasikan berdasarkan bottleneck yang teridentifikasi dalam diagnosis, bukan berdasarkan preferensi atau kebiasaan

2

Theory of Change adalah alat yang memaksa formulasi strategi untuk eksplisit tentang mekanisme kausal: bukan hanya "kita melakukan X dan berharap Y terjadi" melainkan "jika X dilakukan maka Y terjadi karena Z, dengan asumsi A, B, dan C terpenuhi"; komponen asumsi adalah yang paling sering diabaikan sekaligus paling menentukan, karena strategi yang logis secara teknis dapat gagal sepenuhnya jika asumsi kritis ternyata tidak terpenuhi di lapangan

3

Enam kriteria pemilihan intervensi yang harus diterapkan secara sistematis — kekuatan evidence, kontekstual fit, cost-effectiveness, implementability, sustainability, dan equity impact — memberikan kerangka evaluasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan dari memilih berdasarkan popularitas, tekanan donor, atau kebiasaan; matriks pemilihan adalah alat bantu yang berguna tapi tidak menggantikan pertimbangan strategis tentang koherensi paket secara keseluruhan

4

Paket intervensi yang kohesif dibangun di atas empat prinsip: complementarity yang memastikan semua hambatan kritis ditutup oleh setidaknya satu intervensi, sequencing yang meletakkan fondasi sebelum suprastruktur, proportionality yang mengalokasikan investasi proporsional dengan besarnya hambatan, dan phasing yang tidak memulai semuanya sekaligus melainkan membangun secara berlapis dari fondasi ke ekspansi ke konsolidasi

5

Empat trade-off yang harus dikelola secara eksplisit dalam formulasi strategi KR — cakupan versus kualitas, intervensi klinis versus sosial, inovasi versus proven approaches, dan kedalaman versus jangkauan — tidak memiliki jawaban yang berlaku universal; resolusinya bergantung pada diagnosis konteks, dan kepemimpinan strategis yang baik adalah yang berani membuat pilihan eksplisit dan mendokumentasikan alasan di balik pilihan tersebut sehingga dapat dievaluasi dan dipelajari

F

Referensi

  1. Porter ME. What is strategy? Harvard Business Review. 1996;74(6):61-78.
  2. Weiss CH. Evaluation: Methods for Studying Programs and Policies. 2nd ed. Upper Saddle River: Prentice Hall; 1998.
  3. Victora CG, Schellenberg JA, Huicho L, et al. Context matters: interpreting impact findings in child survival evaluations. Health Policy and Planning. 2005;20(Suppl 1):i18-i31.
  4. Glassman A, Giedion U, Smith PC (eds). What's In, What's Out: Designing Benefits for Universal Health Coverage. Washington DC: Center for Global Development; 2017.
  5. Lewin S, Glenton C, Oxman AD. Use of qualitative methods alongside randomised controlled trials of complex healthcare interventions: methodological study. BMJ. 2009;339:b3496.
  6. Tudor Hart J. The inverse care law. The Lancet. 1971;297(7696):405-412.
  7. Pawson R, Tilley N. Realistic Evaluation. London: SAGE; 1997.
  8. WHO. Everybody's Business: Strengthening Health Systems to Improve Health Outcomes. Geneva: WHO; 2007.
  9. Jamison DT, et al (eds). Disease Control Priorities. 3rd ed. Washington DC: World Bank; 2016.
  10. Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Tahun 2023. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
Minggu ke-4 Bobot 15%

TUGAS KELOMPOK 2 — SESI 1 (MINGGU 4)

Mata Kuliah: Perencanaan Strategis Bidang Kesehatan Reproduksi | Semester 4 | Periode 1 | Sesi 1

Identitas Tugas

Jenis Tugas Tugas Kelompok Kedua — Sesi 1
Minggu Minggu ke-4
Materi Modul 1–4
Bobot Nilai 15% dari nilai akhir mata kuliah
Pengerjaan Kelompok (3–4 orang, kelompok yang sama dengan TK1)
Batas Pengumpulan Akhir Minggu ke-4 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format Luaran Dokumen Strategi dan Paket Intervensi KR, format Word atau PDF
Panjang 2.500–3.200 kata (tidak termasuk tabel, bagan ToC, dan referensi)
Referensi Minimal 7 referensi dalam format Vancouver
PETUNJUK PENGERJAAN
  1. 1. Tugas ini melanjutkan langsung dari TK1 — kelompok menggunakan diagnosis situasi dan tujuan strategis yang sudah dirumuskan di TK1 sebagai fondasi formulasi strategi di tugas ini; tidak perlu mengulang isi TK1, cukup mereferensikannya
  2. 2. Kualitas argumentasi untuk pilihan yang dibuat dinilai lebih tinggi dari kelengkapan daftar intervensi — kelompok yang memilih tiga intervensi dengan argumen kuat lebih baik dari kelompok yang mendaftar dua belas intervensi tanpa argumen yang meyakinkan
  3. 3. Kejujuran tentang trade-off dan keterbatasan pilihan yang dibuat adalah bagian dari kompetensi yang dinilai
SKENARIO UTAMA

Melanjutkan peran sebagai tim inti yang membantu Kepala Dinas Kesehatan. Setelah kerangka strategis (visi, misi, tujuan) disetujui Bupati dalam sesi konsultasi, Kepala Dinas kini meminta tim untuk merancang strategi dan paket intervensi konkret yang akan menjadi isi utama Renstra. Dokumen ini adalah draf strategi yang akan dipresentasikan dalam lokakarya dengan seluruh kepala Puskesmas, bidan koordinator, dan mitra pembangunan dua minggu dari sekarang.

Bagian 1 — Pilihan Strategi Utama dan Justifikasinya (±600 kata)

Berdasarkan diagnosis dan tujuan strategis dari TK1, pilih dua atau tiga strategi generik (dari lima yang dibahas dalam Modul 4) yang paling relevan untuk sistem KR kabupaten yang dipilih. Untuk setiap strategi yang dipilih:

1a. Justifikasi pemilihan:

Jelaskan mengapa strategi ini dipilih — bottleneck atau determinan mana yang ia atasi, dan mengapa ini lebih prioritas dari strategi lain yang tidak dipilih.

1b. Justifikasi penolakan:

Dari strategi yang tidak dipilih sebagai prioritas utama, pilih satu dan jelaskan secara eksplisit mengapa ia tidak menjadi prioritas dalam konteks kabupaten ini — meskipun secara umum mungkin strategi yang baik.

1c. Integrasi antar strategi:

Jika kelompok memilih lebih dari satu strategi, jelaskan bagaimana keduanya saling melengkapi — bukan sekadar berjalan paralel, melainkan bagaimana strategi pertama menciptakan kondisi yang diperlukan strategi kedua untuk efektif.

Bagian 2 — Theory of Change (±600 kata + bagan)

Bangun Theory of Change untuk strategi yang dipilih. Tugas ini terdiri dari dua komponen:

2a. Bagan ToC:

Sajikan bagan visual yang menunjukkan rantai kausal dari inputs → activities → outputs → intermediate outcomes → long-term outcome. Bagan harus mencantumkan asumsi kritis di setiap tahapan transisi.

2b. Narasi ToC:

Tuliskan narasi yang menjelaskan logika kausal secara eksplisit — mengapa setiap tahapan transisi diharapkan terjadi. Narasi harus:

  • Merujuk pada evidence yang mendukung mekanisme kausal utama
  • Mengidentifikasikan dua atau tiga asumsi paling kritis yang jika tidak terpenuhi akan menggagalkan seluruh strategi
  • Menjelaskan bagaimana asumsi-asumsi kritis tersebut akan dikelola atau dipantau
Bagian 3 — Paket Intervensi (±800 kata + tabel)

Rancang paket intervensi konkret yang mengimplementasikan strategi yang dipilih. Paket harus terdiri dari minimal empat intervensi yang saling melengkapi.

3a. Matriks evaluasi intervensi:

Sajikan matriks yang mengevaluasi setiap intervensi dalam paket menggunakan enam kriteria: strength of evidence, kontekstual fit, cost-effectiveness, implementability, sustainability, dan equity impact. Beri skor 1–3 per sel dengan catatan singkat yang menjelaskan skor tersebut.

3b. Narasi paket:

Jelaskan bagaimana keempat atau lebih intervensi membentuk paket yang kohesif — bagaimana masing-masing mengatasi hambatan yang berbeda, bagaimana mereka disequence, dan mengapa kombinasi ini lebih baik dari masing-masing intervensi secara individual.

3c. Phasing:

Sajikan rencana phasing dalam tiga fase (fondasi, ekspansi, konsolidasi) yang menunjukkan intervensi mana dimulai kapan dan mengapa urutan tersebut dipilih.

Bagian 4 — Manajemen Trade-off (±400 kata)

Identifikasikan dua trade-off yang paling signifikan dalam paket intervensi yang dirancang dan jelaskan bagaimana kelompok mengelolanya:

4a. Trade-off pertama:

Deskripsikan trade-off, jelaskan kedua sisi argumen, dan nyatakan secara eksplisit pilihan yang dibuat beserta alasannya.

4b. Trade-off kedua:

Lakukan hal yang sama untuk trade-off kedua yang berbeda jenisnya dari yang pertama.

4c. Kondisi yang akan mengubah pilihan:

Identifikasikan satu kondisi atau perubahan konteks yang jika terjadi akan membuat kelompok merevisi salah satu trade-off yang sudah diputuskan — dan jelaskan bagaimana revisi tersebut akan dilakukan.

RUBRIK PENILAIAN

Komponen Indikator Penilaian Bobot
Bagian 1 — Pilihan Strategi Kekuatan argumentasi pemilihan dan penolakan strategi; kualitas analisis integrasi antar strategi; koherensi dengan diagnosis TK1 25%
Bagian 2 — Theory of Change Kelengkapan dan kejelasan bagan ToC; kualitas narasi kausal; relevansi asumsi kritis yang diidentifikasi; rencana pengelolaan asumsi 30%
Bagian 3 — Paket Intervensi Kualitas matriks evaluasi; koherensi paket sebagai keseluruhan; realisme phasing; kekuatan argumen complementarity 30%
Bagian 4 — Trade-off Kejujuran identifikasi trade-off; kekuatan argumen untuk pilihan yang dibuat; kemampuan mengidentifikasi kondisi yang akan mengubah pilihan 15%
REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN
  1. Porter ME. What is strategy? Harv Bus Rev. 1996;74(6):61-78.
  2. Weiss CH. Evaluation: Methods for Studying Programs and Policies. 2nd ed. Upper Saddle River: Prentice Hall; 1998.
  3. Tudor Hart J. The inverse care law. The Lancet. 1971;297(7696):405-412.
  4. Victora CG, et al. Context matters: interpreting impact findings in child survival evaluations. Health Policy Plan. 2005;20(Suppl 1):i18-i31.
  5. WHO. Everybody's Business: Strengthening Health Systems to Improve Health Outcomes. Geneva: WHO; 2007.
  6. Glassman A, Giedion U, Smith PC (eds). What's In, What's Out: Designing Benefits for Universal Health Coverage. Washington DC: CGD; 2017.
  7. Kementerian Kesehatan RI. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020–2024. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.

Dokumentasi bahan ajar subspesialis obstetri ginekologi sosial