Pencegahan, Respons Klinis, dan Pemulihan
Semester 3 | Periode 2 | MK Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi (4 SKS) | Sesi 2 | Modul 8
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Empat bulan pasca gempa. Klinik kesehatan kamp pengungsian, Lombok Utara.
Bidan Yanti mengetuk pintu ruang konsultasi Dr. Sari dengan pelan. Di luar, seorang perempuan — sekitar 28 tahun, dua anak kecil di sampingnya — duduk dengan kepala menunduk. Yanti berbisik: "Ibu Rahma. Hamil 16 minggu. Masuk dengan keluhan nyeri perut. Tapi waktu saya periksa, ada memar di lengan dan punggung bawah. Waktu saya tanya, dia bilang jatuh. Tapi mata dia tidak bilang begitu."
Dr. Sari masuk dengan tenang, duduk sejajar dengan Ibu Rahma — bukan di kursi dokter yang lebih tinggi — dan memulai dengan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan nyeri perut: "Ibu Rahma, bagaimana kondisi tidur Ibu belakangan ini?"
Dua puluh menit kemudian, setelah kepercayaan perlahan dibangun, Ibu Rahma bercerita. Suaminya kehilangan pekerjaan dan rumah dalam gempa. Frustrasi itu berubah menjadi kekerasan sejak bulan pertama di kamp. Dua kali. Tiga kali. Sekarang hampir setiap minggu. "Saya tidak bisa ke mana-mana, Dokter. Anak-anak saya di sini. Saya tidak punya uang. Dan di kamp ini semua orang saling kenal."
Dr. Sari mendengarkan. Tidak terburu-buru. Tidak langsung memberikan solusi. Ia tahu bahwa langkah pertama bukan memberikan jawaban — melainkan membuat Ibu Rahma merasa bahwa untuk pertama kalinya sejak bencana, ada seseorang yang benar-benar mendengar.
Kekerasan berbasis gender dalam bencana bukan anomali — ia adalah pola yang terdokumentasi dengan konsisten di seluruh krisis kemanusiaan di dunia. Bencana tidak menciptakan kekerasan dari ketiadaan; ia memperkuat dan memperparah ketidaksetaraan dan kekerasan yang sudah ada sebelumnya. Modul ini membangun kompetensi komprehensif untuk mengenali, merespons, dan berkontribusi pada pencegahan GBV dalam konteks bencana — dari tanda-tanda klinis yang sering terlewat, protokol respons medis yang menyelamatkan nyawa, hingga pendekatan yang menempatkan korban sebagai pusat dari seluruh respons.
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
Tindakan yang dilakukan seseorang untuk mengendalikan hasil reproduksi pasangan tanpa persetujuan mereka
Tanyakan secara privat:
"Sebagai bagian dari layanan kesehatan kami untuk semua perempuan di kamp, kami menanyakan beberapa pertanyaan tentang keamanan."
Ini menormalisasi pertanyaan — bukan singling out pasien
PEP HIV (< 72 JAM):
EMERGENCY CONTRACEPTION (< 72 JAM, ideal < 24 JAM):
PROFILAKSIS IMS:
HEPATITIS B:
Pertanyaan 1: Ibu Rahma (28 tahun, hamil 16 minggu) mengungkapkan kepada Dr. Sari bahwa ia mengalami KDRT berulang dari suaminya yang kehilangan pekerjaan pasca bencana. Ia tidak ingin melaporkan kepada polisi karena takut suaminya ditangkap dan anak-anaknya tidak ada yang menafkahi. Ia juga tidak ingin meninggalkan suaminya. (a) Bagaimana Dr. Sari merespons keputusan Ibu Rahma yang tidak sesuai dengan yang Dr. Sari anggap "terbaik" untuk keselamatannya? (b) Tindakan medis apa yang dapat dan harus dilakukan terlepas dari keputusan Ibu Rahma tentang pelaporan? (c) Bagaimana safety planning yang realistis untuk Ibu Rahma dalam konteks keterbatasan kamp pengungsian?
Pertanyaan 2: Seorang kepala kamp (laki-laki) menolak usulan Dr. Sari untuk memindahkan toilet perempuan lebih dekat ke hunian dan memasang lampu di jalur menuju toilet, dengan alasan "tidak ada anggaran dan perempuan di sini aman-aman saja." Dua minggu sebelumnya, satu kasus pelecehan dilaporkan terjadi di jalur gelap menuju toilet pada malam hari. (a) Bagaimana Dr. Sari merespons penolakan ini dengan argumen berbasis data yang tidak dapat diabaikan? (b) Jalur eskalasi apa yang dapat digunakan jika kepala kamp tetap menolak? (c) Siapa saja pemangku kepentingan yang harus dilibatkan dalam advokasi desain kamp yang aman untuk perempuan?
Mata Kuliah: Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi
Semester 3 | Periode 2 | Sesi 2
| Identitas Tugas | Detail |
|---|---|
| Jenis Tugas | Tugas Kelompok Ketiga — Sesi 2 |
| Minggu | Minggu ke-8 |
| Materi | Modul 6–8 |
| Bobot Nilai | 15% dari nilai akhir mata kuliah |
| Pengerjaan | Kelompok (3–4 orang, kelompok yang sama) |
| Batas Pengumpulan | Akhir Minggu ke-8 (7 hari sejak tugas dibuka) |
| Format Luaran | Protokol GBV Bencana + Rancangan Program Pencegahan, format Word atau PDF |
| Panjang | 2.200–3.000 kata (tidak termasuk tabel, bagan, dan referensi) |
| Referensi | Minimal 5 referensi dalam format Vancouver |
Lima bulan pasca gempa. Kamp pengungsian semi-permanen di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Populasi: 3.200 jiwa (1.847 perempuan, 1.353 laki-laki). Estimasi: 128 perempuan hamil, 64 di antaranya trimester ketiga. Fasilitas kesehatan: satu klinik dengan 2 bidan, 1 dokter umum yang hadir 3 hari seminggu. Tidak ada SpOG. Anda adalah tim Sub-Klaster KR yang ditugaskan membangun sistem respons GBV dan program pencegahan untuk kamp ini.
Data awal yang tersedia: dalam 5 bulan terakhir, hanya 3 kasus GBV yang dilaporkan secara resmi. Namun skrining informal oleh bidan menemukan tanda-tanda yang mengkhawatirkan: 7 perempuan dengan memar yang tidak konsisten dengan cerita yang diberikan, 4 perempuan yang datang dengan pasangan yang mendominasi seluruh kunjungan, dan 2 remaja hamil yang tidak mau menjelaskan konteks kehamilannya. Tidak ada sistem rujukan GBV yang berfungsi. Toilet perempuan berada 120 meter dari hunian dan tidak ada pencahayaan malam.
Berdasarkan data awal yang tersedia:
Rancang protokol skrining GBV yang akan diimplementasikan dalam setiap kunjungan KR di klinik kamp:
Rancang protokol respons klinis untuk kasus kekerasan seksual yang datang dalam 72 jam di klinik kamp yang tidak memiliki SpOG:
Rancang program pencegahan GBV 3 bulan untuk kamp ini dengan sumber daya yang realistis:
Dua situasi etis berikut terjadi dalam implementasi program Anda:
Situasi A: Seorang bidan menemukan tanda-tanda kekerasan yang jelas pada seorang perempuan hamil 34 minggu. Perempuan tersebut menolak untuk mengakui ada masalah dan menolak semua bentuk rujukan atau layanan tambahan. Bayinya diperkirakan lahir dalam 4–6 minggu.
Situasi B: Kepala kamp menawarkan untuk mengumumkan ketersediaan layanan GBV melalui pengeras suara kamp agar lebih banyak perempuan mengetahuinya — sebuah niat baik yang dapat meningkatkan akses, tapi juga berpotensi membahayakan korban yang tinggal bersama pelaku.
Analisis kedua situasi dengan mempertimbangkan:
| Komponen | Indikator Penilaian | Bobot |
|---|---|---|
| Bagian 1 — Analisis | Ketepatan estimasi skala; kedalaman identifikasi faktor risiko; koherensi argumen underreporting | 15% |
| Bagian 2 — Skrining | Keamanan protokol; ketepatan pertanyaan; kelengkapan alur respons; realisme adaptasi populasi khusus | 25% |
| Bagian 3 — Respons Klinis | Ketepatan farmakologis; keamanan prosedur; konkretnya pembagian peran staf terbatas; ketepatan indikasi rujukan | 30% |
| Bagian 4 — Pencegahan | Berbasis bukti dan argumen yang kuat; inklusivitas perempuan sebagai agen; realisme bagan implementasi; spesifisitas mitigasi risiko | 20% |
| Bagian 5 — Etis | Kedalaman identifikasi konflik prinsip; keberanian dan kejernihan keputusan; konkretnya dokumentasi | 10% |