Kesehatan Reproduksi dalam Pengungsian Jangka Panjang

Dari Respons Akut ke Pemulihan Berkelanjutan

Semester 3 | Periode 2 | MK Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi (4 SKS) | Sesi 2 | Modul 6

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

🏕️ Fokus: Pengungsian Jangka Panjang 🔄 Transisi MISP → Layanan Komprehensif 🧠 Trauma-Informed Care

📋 Daftar Isi Modul

A. Deskripsi Modul

Tiga bulan pasca gempa. Kamp pengungsian semi-permanen, Kabupaten Lombok Utara.

Dr. Sari kembali mengunjungi kamp yang sama tempat ia bekerja pada minggu pertama bencana. Tenda-tenda darurat sudah digantikan hunian sementara dari kayu dan terpal. Ada sekolah darurat di satu sudut. Di sudut lain, ada warung yang mulai berjualan.

Tapi di klinik kesehatan kamp, ia menemukan sesuatu yang tidak berubah — bahkan memburuk.

Bidan Yanti menyambut Dr. Sari dengan laporan yang membuat denyut jantungnya melambat: "Dokter, bulan ini ada tiga kehamilan remaja baru yang terdeteksi. Semuanya tidak direncanakan. Dua ibu hamil trimester dua tidak pernah datang ANC karena malu — mereka bilang terlalu ramai, tidak ada privasi. Satu perempuan yang saya curigai korban kekerasan dalam tenda menolak diperiksa. Dan KB? Tidak ada yang datang lagi sejak bulan kedua — mereka bilang 'nanti saja kalau sudah pindah ke rumah baru.'"

Dr. Sari duduk. Fase akut sudah lewat. MISP sudah diimplementasikan. Statistik kematian ibu dalam 90 hari pertama relatif terkendali. Tapi krisis KR yang berbeda — lebih senyap, lebih tersembunyi, lebih panjang — sedang berlangsung.

Bagaimana sistem kesehatan reproduksi dibangun kembali untuk populasi yang masih mengungsi, dalam ketidakpastian yang belum berakhir?

Fase pemulihan bencana — yang dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun — menghadirkan tantangan KR yang berbeda dari fase akut. MISP sudah tidak cukup, tapi program KR normal belum dapat sepenuhnya dipulihkan. Populasi pengungsian menghadapi kerentanan kumulatif: trauma psikologis, disruksi sosial, kemiskinan baru, dan ketidakpastian tempat tinggal yang menciptakan kondisi di mana kesehatan reproduksi memburuk secara sistemik jika tidak ditangani aktif. Modul ini membangun kompetensi untuk merancang dan mengimplementasikan program KR dalam fase pemulihan — dari transisi MISP ke layanan komprehensif, manajemen kebutuhan KR spesifik populasi pengungsi, hingga integrasi dengan rekonstruksi sistem kesehatan.

B. Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Menganalisis karakteristik kebutuhan KR yang berubah dari fase akut ke fase pemulihan bencana
  2. Merancang transisi dari MISP ke program KR komprehensif dalam konteks pengungsian
  3. Mengidentifikasi dan menangani kerentanan KR spesifik pada populasi pengungsian jangka panjang
  4. Mengintegrasikan layanan KR dalam rekonstruksi sistem kesehatan pasca bencana
  5. Merancang program KR yang responsif terhadap trauma dalam konteks pemulihan

C. Materi Inti

C.1. Karakteristik Kebutuhan KR dalam Fase Pemulihan

C.1.1. Pergeseran dari Fase Akut ke Fase Pemulihan

⚖️ PERBANDINGAN FASE AKUT vs. PEMULIHAN:

🚨 FASE AKUT (0–4 MINGGU)
  • Prioritas: mencegah kematian yang dapat dicegah
  • Intervensi: MISP, persalinan darurat, penanganan komplikasi
  • Populasi: masih dalam shock, mobilitas tinggi
  • Sistem kesehatan: lumpuh atau sangat terbatas
  • Koordinasi: klaster kemanusiaan aktif dengan dukungan internasional
🔄 FASE PEMULIHAN (1 BULAN – 2 TAHUN+)
  • Prioritas: membangun kembali layanan yang berkelanjutan
  • Intervensi: program KR komprehensif, rehabilitasi sistem
  • Populasi: menetap sementara di pengungsian, mulai membangun rutinitas baru
  • Sistem kesehatan: sedang direkonstruksi, kapasitas parsial
  • Koordinasi: transisi dari kemanusiaan ke pembangunan, donor mulai menarik diri

🔗 KERENTANAN KR KUMULATIF DALAM PENGUNGSIAN:

🩺 DIMENSI FISIK
  • Kondisi hunian sementara: kepadatan tinggi, minim privasi, toilet bersama
  • Nutrisi: defisiensi mikronutrien memperburuk outcome kehamilan
  • Air bersih: terbatas untuk kebersihan menstruasi dan persalinan
  • Fasilitas kesehatan: parsial, overcrowded, staf kelelahan
🧠 DIMENSI PSIKOSOSIAL
  • Trauma bencana: PTSD, depresi, gangguan kecemasan — semua mempengaruhi perilaku mencari layanan KR
  • Disruksi jaringan sosial: perempuan kehilangan support system normal (keluarga besar, tetangga, dukun beranak yang dikenal)
  • Perubahan dinamika keluarga: stres ekonomi meningkatkan konflik rumah tangga dan risiko KDRT
  • Hilangnya rutinitas: jadwal kontrasepsi terganggu, jadwal ANC tidak diikuti
💼 DIMENSI SOSIAL-EKONOMI
  • Kemiskinan baru: kehilangan aset, pekerjaan, dan sumber pendapatan
  • Ketergantungan pada bantuan: dinamika kekuasaan yang dapat menciptakan eksploitasi
  • Perubahan peran gender: dalam beberapa kasus bencana mengubah distribusi peran — bisa positif (perempuan lebih berdaya ekonomi) atau negatif (perempuan lebih rentan)
  • Biaya transportasi ke fasilitas: kamp pengungsian sering jauh dari fasilitas kesehatan yang masih berfungsi

🎯 KEBUTUHAN KR SPESIFIK YANG MUNCUL DALAM PEMULIHAN:

🤰 KEHAMILAN YANG MENINGKAT
  • Paradoks pemulihan: setelah fase akut, angka kehamilan sering meningkat
  • Penyebab: gangguan kontrasepsi yang berkelanjutan, "baby boom" pasca trauma (psikologis), pernikahan dini yang meningkat sebagai strategi ekonomi keluarga
  • Implikasi: sistem ANC dan persalinan harus sudah berfungsi sebelum gelombang kehamilan ini mencapai trimester ketiga
👧 KEHAMILAN REMAJA
  • Meningkat signifikan dalam kondisi pengungsian jangka panjang
  • Faktor: sekolah terganggu, pengawasan orang tua berkurang, pernikahan dini meningkat, kurangnya program KRR
  • Risiko ganda: obstetrik (CPD, HPP, preeklampsia) dan psikososial (isolasi, putus sekolah, kekerasan oleh pasangan)
🛡️ GBV YANG TERSEMBUNYI
  • Dalam fase akut: GBV relatif terlihat dan dilaporkan
  • Dalam pemulihan: GBV berlanjut tapi semakin tersembunyi karena:
    • "Normalisasi" kekerasan dalam kondisi stres
    • Rasa malu yang meningkat seiring konsolidasi komunitas
    • Kurangnya layanan yang tersedia
    • Ketergantungan ekonomi pada pelaku
💭 KESEHATAN MENTAL DAN KR
  • Hubungan bidireksional: gangguan kesehatan mental mempengaruhi perilaku KR; masalah KR (kehamilan tidak direncanakan, GBV) memperburuk kesehatan mental
  • Depresi maternal dalam pengungsian: prevalensi 2–3x lebih tinggi dari populasi umum
  • PTSD mempengaruhi hubungan intim, kepatuhan kontrasepsi, dan utilisasi layanan ANC

C.2. Transisi MISP ke Layanan KR Komprehensif

C.2.1. Kapan dan Bagaimana Melakukan Transisi

🚦 SINYAL KESIAPAN TRANSISI
  • Populasi sudah relatif stabil (tidak ada perpindahan besar)
  • Minimal satu fasilitas kesehatan per zona pengungsian berfungsi dengan staf tetap
  • Rantai pasok obat dan alat KR mulai terpulihkan
  • Sistem rujukan ke fasilitas yang lebih tinggi berfungsi
  • Biasanya: 4–8 minggu pasca bencana, tergantung skala bencana

🔄 KOMPONEN TRANSISI:

🤰 DARI CDK KE LAYANAN PERSALINAN TERSTRUKTUR
  • Identifikasikan semua bidan yang ada di zona pengungsian — aktif maupun yang terdampak bencana
  • Buat jadwal on-call 24 jam yang mencakup seluruh zona
  • Tetapkan tempat persalinan: mana yang berfungsi sebagai pusat persalinan utama
  • Pastikan stok EMONC (BEmONC minimum) tersedia di setiap fasilitas yang melayani persalinan
  • Aktivasi sistem rujukan tertulis yang berfungsi
💊 DARI DISTRIBUSI KONDOM KE LAYANAN KB LENGKAP
  • Mulai dengan metode jangka pendek yang mudah didistribusikan: kondom, pil, suntik
  • Dalam 2–3 bulan: tambahkan metode jangka panjang (IUD, implan) jika kapasitas tersedia
  • Konseling KB: tidak hanya distribusi — pastikan perempuan memahami pilihan dan dapat membuat keputusan informasi
  • Khusus untuk ibu pasca persalinan: konseling KB pasca persalinan sebelum meninggalkan fasilitas
🦠 DARI PEP KE LAYANAN HIV/IMS KOMPREHENSIF
  • Identifikasikan semua ODHA yang sudah dalam pengobatan — pastikan kelanjutan ARV tanpa interupsi
  • Layanan testing HIV yang tersedia (minimal rapid test)
  • PMTCT untuk ibu hamil dengan HIV: tidak boleh terganggu dalam fase apapun
  • Layanan IMS: skrining dan pengobatan tersedia di fasilitas primer
🛡️ DARI LAYANAN DARURAT GBV KE PROGRAM TERSTRUKTUR
  • Layanan one-stop crisis center atau setara: medis, psikososial, dan hukum dalam satu titik
  • Sistem pelaporan yang aman dan terpercaya
  • Kelompok dukungan perempuan: komunitas perempuan yang saling mendukung sebagai fondasi program GBV jangka panjang
  • Melibatkan laki-laki dan remaja laki-laki dalam program pencegahan

🤰 ANTENATAL CARE DALAM PENGUNGSIAN:

🔄 ADAPTASI ANC UNTUK PENGUNGSIAN
  • Frekuensi: minimal 4 kunjungan (WHO) atau 8 kunjungan (WHO 2016 update) — sesuaikan dengan kapasitas
  • Lokasi: ANC sebaiknya outreach ke titik-titik pengungsian, bukan menunggu ibu datang ke fasilitas
  • Bundling layanan: ANC + KB konseling + skrining GBV + nutrisi + imunisasi TT dalam satu kunjungan untuk efisiensi
  • Register ANC pengungsian: sistem pencatatan sederhana yang memastikan continuity of care meskipun ada perpindahan

📋 KOMPONEN ANC MINIMUM DALAM PENGUNGSIAN:

C.3. Layanan KR yang Responsif Trauma

C.3.1. Prinsip Trauma-Informed Care dalam KR Bencana

❓ MENGAPA TRAUMA-INFORMED CARE KRITIS DALAM PENGUNGSIAN
  • Mayoritas perempuan dalam pengungsian jangka panjang mengalami satu atau lebih bentuk trauma: kehilangan anggota keluarga, kehilangan rumah, menyaksikan kekerasan, pengalaman GBV
  • Trauma mempengaruhi cara seseorang mengalami dan merespons layanan kesehatan:
    • Pemeriksaan ginekologi dapat memicu flashback pada korban GBV
    • Lingkungan klinik yang ramai dan tidak privat dapat membuat perempuan trauma tidak dapat berbicara jujur
    • Relasi otoritas (dokter-pasien) dapat mereplikasi dinamika kekuasaan yang traumatik

⚙️ ENAM PRINSIP TRAUMA-INFORMED CARE (SAMHSA):

🔐 PRINSIP 1 — KEAMANAN
  • Lingkungan fisik dan psikologis yang aman
  • Praktis: ruang konsultasi dengan privasi, tirai penutup, tidak ada percakapan klinis yang terdengar dari luar
  • Perempuan harus merasa aman sebelum dapat berbicara jujur tentang kondisi reproduksi dan seksualnya
🤝 PRINSIP 2 — KEPERCAYAAN DAN TRANSPARANSI
  • Setiap tindakan dijelaskan sebelum dilakukan
  • Tidak ada prosedur yang dilakukan tanpa persetujuan eksplisit
  • Batasan kerahasiaan dijelaskan dengan jujur
✅ PRINSIP 3 — PILIHAN
  • Perempuan selalu diberikan pilihan kapanpun memungkinkan: pemeriksaan sekarang atau nanti, dokter perempuan atau laki-laki, metode KB apa
  • Kontrol atas tubuh sendiri adalah fondasi pemulihan trauma
👥 PRINSIP 4 — KOLABORASI
  • Layanan dilakukan bersama, bukan kepada pasien
  • Pasien adalah ahli tentang pengalaman dan kebutuhan mereka sendiri
💪 PRINSIP 5 — PEMBERDAYAAN
  • Fokus pada kekuatan dan kapasitas, bukan hanya masalah dan defisit
  • Membangun kapasitas perempuan untuk merawat diri dan membantu sesama
🌍 PRINSIP 6 — SENSITIVITAS BUDAYA DAN GENDER
  • Layanan yang mengenali dan menghormati perbedaan budaya, gender, dan konteks sosial
  • Bukan mengabaikan standar klinis atas nama budaya — tapi menyampaikan standar klinis dengan cara yang menghormati konteks

🔍 SKRINING KESEHATAN MENTAL DALAM LAYANAN KR:

📋 PHQ-2 (PATIENT HEALTH QUESTIONNAIRE)

2 pertanyaan untuk skrining depresi:

  1. "Dalam 2 minggu terakhir, seberapa sering Anda merasa kurang tertarik atau tidak bergairah melakukan apapun?"
  2. "Dalam 2 minggu terakhir, seberapa sering Anda merasa sedih, murung, atau putus asa?"

Skor ≥ 3: lakukan skrining lanjutan atau rujuk ke layanan psikososial

🛡️ SKRINING KEKERASAN

Pertanyaan tunggal yang tervalidasi:
"Apakah ada seseorang di rumah atau di sekitar Anda yang membuat Anda merasa tidak aman atau takut?"

Prosedur: Ditanyakan secara privat, tanpa anggota keluarga atau pendamping lain yang hadir

Respons positif: tidak dipaksa melapor — tapi diberikan informasi tentang layanan yang tersedia dan bagaimana mengaksesnya

C.4. Integrasi KR dalam Rekonstruksi Sistem Kesehatan

C.4.1. Prinsip "Build Back Better" untuk Sistem KR

🏗️ BUILD BACK BETTER DALAM SISTEM KR
  • Rekonstruksi pasca bencana adalah kesempatan — bukan hanya untuk mengembalikan sistem ke kondisi sebelumnya, tetapi untuk membangun sistem yang lebih baik
  • Dalam banyak kasus, sistem KR sebelum bencana sudah memiliki kelemahan struktural yang berkontribusi pada tingginya AKI dan kematian neonatal
  • Bencana, dalam kepahitannya, membuka kesempatan untuk reformasi yang sulit dilakukan dalam kondisi normal

🔧 KOMPONEN YANG HARUS DIPERKUAT DALAM REKONSTRUKSI:

🏥 INFRASTRUKTUR
  • Puskesmas baru: desain yang memperhitungkan risiko bencana masa depan (lokasi lebih tinggi, konstruksi tahan gempa)
  • Ruang bersalin: yang memenuhi standar privasi dan keamanan
  • Sistem air dan sanitasi: yang memadai untuk layanan KR
👥 SUMBER DAYA MANUSIA
  • Rekrutmen bidan baru untuk menggantikan yang meninggalkan wilayah pasca bencana
  • Pelatihan BEmONC yang tertunda atau terputus karena bencana
  • Integrasi pelatihan bencana dan MISP dalam kurikulum bidan dan dokter lokal
📊 SISTEM INFORMASI
  • Digitalisasi register KIA yang sering hilang dalam bencana
  • Sistem backup data: register paper + digital + off-site storage
  • Indikator KR dalam sistem monitoring kabupaten yang secara rutin dilaporkan
📦 RANTAI PASOK
  • Pre-positioning stok obat dan alat KR di lokasi strategis sesuai peta risiko bencana daerah
  • Buffer stock yang cukup untuk 3 bulan di setiap fasilitas primer
  • Diversifikasi jalur distribusi: tidak bergantung pada satu rute yang rentan terputus

👨‍⚕️ PERAN SUBSP. OBGINSOS DALAM PEMULIHAN JANGKA PANJANG:

D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen — Minggu 6)

Pertanyaan 1: Bidan Yanti melaporkan tiga kehamilan remaja baru dalam tiga bulan pertama di kamp pengungsian. Dua di antaranya sudah memasuki trimester kedua tanpa ANC karena malu dan kurangnya privasi. (a) Rancang strategi outreach ANC yang spesifik untuk menjangkau ibu hamil remaja di kamp pengungsian yang tidak datang sendiri ke klinik. (b) Bagaimana prinsip trauma-informed care diterapkan ketika bidan pertama kali melakukan kunjungan kepada remaja yang hamil dalam kondisi pengungsian? (c) Komponen layanan apa yang harus dibundling dalam satu kunjungan ANC untuk efisiensi maksimal di kamp pengungsian?

Pertanyaan 2: Tiga bulan setelah bencana, donor internasional utama yang membiayai layanan KR di kamp pengungsian mengumumkan akan menarik pendanaan dalam 60 hari dengan alasan "fase akut sudah selesai." Sistem KR di kamp masih sangat bergantung pada pendanaan donor — bidan on-call, stok obat, dan layanan GBV semuanya didanai dari sumber yang sama. (a) Apa risiko kesehatan konkret yang akan terjadi jika pendanaan ditarik tiba-tiba? (b) Bangun argumen advokasi kepada Bupati dan Kepala Dinas Kesehatan untuk mengambil alih pembiayaan layanan KR kamp dalam APBD darurat. (c) Komponen layanan mana yang paling kritis untuk dipertahankan jika anggaran sangat terbatas — dan bagaimana memilih?

E. Rangkuman

  1. Fase pemulihan bencana menghadirkan tantangan KR yang berbeda dari fase akut — bukan lagi tentang mencegah kematian akut, tetapi tentang mencegah kerentanan kumulatif yang menumpuk: kehamilan yang meningkat termasuk kehamilan remaja, GBV yang tersembunyi dan berlanjut, gangguan kontrasepsi yang berkelanjutan, dan depresi maternal yang tidak tertangani; semua ini terjadi dalam konteks sistem kesehatan yang masih dalam rekonstruksi
  2. Transisi dari MISP ke layanan KR komprehensif harus dimulai ketika populasi relatif stabil dan minimal satu fasilitas berfungsi dengan staf tetap — biasanya 4–8 minggu pasca bencana; transisi ini mencakup penggantian clean delivery kit dengan layanan persalinan terstruktur, distribusi kondom dengan konseling KB penuh semua metode, PEP dengan layanan HIV komprehensif termasuk PMTCT, dan respons GBV darurat dengan program one-stop crisis center
  3. ANC dalam pengungsian memerlukan adaptasi aktif: model outreach ke titik-titik pengungsian lebih efektif dari menunggu ibu datang ke fasilitas, bundling layanan ANC dengan KB konseling, skrining GBV, dan nutrisi dalam satu kunjungan memaksimalkan efisiensi, dan register ANC yang memastikan continuity of care meskipun ada perpindahan populasi
  4. Trauma-informed care adalah pendekatan yang tidak opsional dalam layanan KR pengungsian — enam prinsipnya (keamanan, kepercayaan, pilihan, kolaborasi, pemberdayaan, sensitivitas budaya-gender) mengubah cara layanan disampaikan sehingga dapat dijangkau oleh perempuan yang trauma; skrining kesehatan mental terintegrasi (PHQ-2) dan skrining kekerasan dalam setiap kunjungan KR adalah standar yang harus tercapai dalam fase pemulihan
  5. Prinsip "build back better" menjadikan rekonstruksi pasca bencana sebagai kesempatan untuk memperkuat sistem KR yang sebelum bencana sudah lemah — infrastruktur yang lebih aman, sumber daya manusia yang lebih terlatih, sistem informasi yang lebih resilient, dan rantai pasok yang lebih terdiversifikasi; Subspesialis Obginsos berperan sebagai multiplier yang paling berdampak melalui pelatihan, supervisi, advokasi, dan evaluasi — bukan hanya melalui layanan klinis langsung yang kapasitasnya inherently terbatas

F. Referensi

  1. IAWG. Inter-Agency Field Manual on Reproductive Health in Humanitarian Settings. Revised ed. Geneva: IAWG; 2018. URL: https://iawg.net/resources/field-manual
  2. UNHCR/UNFPA. Reproductive Health in Refugee Situations: An Inter-Agency Field Manual. Geneva: UNHCR; 1999.
  3. WHO. Mental Health and Psychosocial Support in Emergencies. Geneva: WHO; 2013. URL: https://www.who.int/mental_health/emergencies/en
  4. SAMHSA. SAMHSA's Concept of Trauma and Guidance for a Trauma-Informed Approach. Rockville: SAMHSA; 2014. URL: https://store.samhsa.gov/product/SAMHSA-s-Concept-of-Trauma-and-Guidance-for-a-Trauma-Informed-Approach/SMA14-4884
  5. Doocy S, Lyles E, Delbiso TD, Robinson C. Internal displacement and the Syrian crisis: an analysis of trends from 2011–2014. Conflict and Health. 2015;9:33. DOI: https://doi.org/10.1186/s13031-015-0060-x
  6. Tanabe M, Schaus K, Rastogi S, Krause SK, Patel P. Tracking down a critical gap: sexual and reproductive health care for survivors of sexual violence in humanitarian settings. Conflict and Health. 2015;9(Suppl 1):S4. DOI: https://doi.org/10.1186/1752-1505-9-S1-S4
  7. Murray SM, Seng JS. Trauma-informed care in the perinatal period. Clinical Obstetrics and Gynecology. 2020;63(3):671-681. DOI: https://doi.org/10.1097/GRF.0000000000000540
  8. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Reproduksi pada Situasi Bencana. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
  9. Hynes M, Sheik M, Wilson HG, Spiegel P. Reproductive health indicators and outcomes among refugee and internally displaced persons in postemergency phase camps. JAMA. 2002;288(5):595-603. DOI: https://doi.org/10.1001/jama.288.5.595
  10. Tappis H, Freeman J, Black RE, Doocy S. Effectiveness of interventions, programs and strategies for child survival in humanitarian crises: protocol for a systematic review. Systematic Reviews. 2013;2:115. DOI: https://doi.org/10.1186/2046-4053-2-115