Triase, Stabilisasi, dan Manajemen Kegawatan
Semester 3 | Periode 2 | MK Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi (4 SKS) | Sesi 1 | Modul 3
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Pukul 06.17 WITA. Gempa 7,4 SR mengguncang Kabupaten Palu, Sulawesi Tengah.
Dr. Sari, SpOG., Subsp.Obginsos., baru saja menyelesaikan operasi sesar darurat ketika lantai ruang operasi bergetar hebat. Lampu padam. Generator cadangan menyala dua menit kemudian β cukup lama untuk membuat suasana menjadi kacau. Di luar, suara teriakan dan sirene bercampur.
Dalam 90 menit berikutnya, 43 perempuan hamil dan pasca persalinan dibawa ke halaman rumah sakit oleh keluarga dan relawan. Gedung rawat inap kebidanan retak di tiga titik dan dinyatakan tidak aman oleh tim teknik. Dua bidan senior tidak masuk karena rumah mereka roboh. Stok oksitosin di lemari obat darurat tidak diketahui kondisinya β belum ada yang sempat mengecek.
Dr. Sari berdiri di halaman rumah sakit, stetoskop di leher, melihat 43 pasien yang tersebar di atas tikar dan terpal seadanya.
Siapa yang harus ditangani pertama? Siapa yang dapat menunggu? Siapa yang β dengan jujur β tidak mungkin diselamatkan dengan sumber daya yang ada sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan pertanyaan akademik. Jawabannya harus keluar dalam hitungan detik, berbasis pada prinsip yang sudah dipelajari jauh sebelum bencana terjadi.
Fase akut bencana β 0 hingga 72 jam pertama β adalah fase di mana keputusan klinis dibuat dalam kondisi paling menantang: informasi tidak lengkap, sumber daya terbatas, infrastruktur rusak, dan tekanan psikologis yang ekstrem. Modul ini membangun kompetensi untuk beroperasi secara efektif dalam kondisi tersebut: dari sistem triase obstetrik yang tervalidasi, manajemen kegawatan maternal dalam keterbatasan sumber daya, hingga pengorganisasian respons tim yang cepat dan terstruktur.
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
DIGUNAKAN UNTUK:
60 detik pertama setelah lahir menentukan
Langkah-langkah:
VTP improvisasi jika Ambu bag tidak ada: mulut ke mulut-hidung dengan tiupan sangat kecil (volume tidal neonatus 6β8 ml/kg)
Kompresi dada: ratio 3:1 dengan VTP jika HR < 60
Pertanyaan 1: Dr. Sari menemukan seorang perempuan hamil 32 minggu dengan eklampsia berat β kejang sudah berhenti, tapi MgSO4 habis dan stok terakhir baru akan tiba 6 jam lagi. Di sebelahnya, perempuan hamil 38 minggu dengan HPP aktif yang merespons kompresi bimanual tetapi membutuhkan oksitosin segera. Stok oksitosin tersisa 2 ampul. (a) Bagaimana Dr. Sari mengalokasikan dua ampul oksitosin tersebut dalam konteks triase bencana? (b) Apa tindakan alternatif yang dapat dilakukan untuk pasien eklampsia tanpa MgSO4? (c) Bagaimana keputusan ini didokumentasikan secara etis?
Pertanyaan 2: Seorang bidan relawan baru tiba di lokasi bencana dan langsung ingin menangani pasien tanpa briefing. Ia berpengalaman 15 tahun tetapi belum pernah bekerja dalam sistem ICS. Ia menolak bergabung dalam struktur komando yang dibentuk Dr. Sari dengan alasan "tidak perlu birokrasi dalam keadaan darurat." (a) Apa risiko nyata dari pendekatan bidan relawan tersebut dalam konteks mass casualty? (b) Bagaimana Dr. Sari mengintegrasikan bidan berkapasitas tinggi ini ke dalam sistem tanpa konflik yang membuang waktu? (c) Apa prinsip ICS yang paling relevan untuk situasi ini?
Mata Kuliah: Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi
Semester 3 | Periode 2 | Sesi 1
| Identitas Tugas | Detail |
|---|---|
| Jenis Tugas | Tugas Kelompok Pertama β Sesi 1 |
| Minggu | Minggu ke-3 |
| Materi | Modul 1β3 |
| Bobot Nilai | 15% dari nilai akhir mata kuliah |
| Pengerjaan | Kelompok (3β4 orang) |
| Batas Pengumpulan | Akhir Minggu ke-3 (7 hari sejak tugas dibuka) |
| Format Luaran | Dokumen Protokol Respons Obstetrik Bencana, format Word atau PDF |
| Panjang | 2.000β2.800 kata (tidak termasuk tabel, algoritma, dan referensi) |
| Referensi | Minimal 5 referensi dalam format Vancouver |
Pukul 14.30 WIB. Banjir bandang melanda sebuah kecamatan di Kabupaten Flores Timur, NTT. Puskesmas Rawat Inap satu-satunya di kecamatan tersebut terendam setinggi 60 cm di lantai pertama. Listrik padam. Generator tersedia tapi bensin hanya cukup untuk 6 jam. Telepon seluler masih berfungsi dengan sinyal terbatas.
Dalam 2 jam pertama, 28 perempuan β hamil dan pasca persalinan β dibawa ke halaman Puskesmas yang berada di tanah yang lebih tinggi. Dokter umum satu-satunya sedang dalam perjalanan dari kota kabupaten dan diperkirakan tiba 3 jam lagi. Yang ada di lokasi: 2 bidan terlatih (satu senior 12 tahun pengalaman, satu junior 2 tahun), 1 perawat umum, dan 3 kader posyandu. Stok obat yang berhasil diselamatkan: misoprostol 8 tablet, MgSO4 2 vial, diazepam 4 ampul, infus RL 6 bag, kasa dan sarung tangan terbatas.
Berdasarkan skenario di atas, rancang sistem triase untuk 28 pasien yang tiba. Kelompok harus:
| No | Deskripsi Pasien | Kategori | Justifikasi |
|---|---|---|---|
| 1 | G3P2A0, 38 minggu, kontraksi 3x/10 menit, DJJ 148, TFU sesuai, TD 120/80 | ||
| 2 | G1P0A0, 32 minggu, keluhan pusing hebat, TD 170/110, protein urin ++ (strip), tidak kejang | ||
| 3 | P2A0, 6 jam pasca persalinan normal, perdarahan aktif ~700 ml, TD 80/50, nadi 124 | ||
| 4 | G2P1A0, 28 minggu, luka laserasi kepala 4 cm sudah terkontrol, gerakan janin (+), TD 110/70 | ||
| 5 | G4P3A0, aterm, DJJ tidak terdengar dengan fetoskop, ibu sadar, tidak ada kontraksi, TD normal | ||
| 6 | P1A0, 2 hari pasca SC, luka operasi terbuka sebagian, tidak ada tanda infeksi sistemik, TD 110/70 | ||
| 7 | G1P0A0, 10 minggu, nyeri perut bawah ringan, perdarahan bercak, USG tidak tersedia | ||
| 8 | G2P1A0, inpartu kala 2, kepala di H III+, DJJ 90 bradikardi, ibu kelelahan | ||
| 9 | P3A0, 30 menit pasca persalinan, plasenta belum lahir, perdarahan minimal, uterus teraba | ||
| 10 | G3P2A0, 36 minggu, kejang tonik-klonik aktif saat tiba, riwayat TD tinggi sejak trimester 3 |
Pilih dua kasus dari tabel triase yang dikategorikan Merah, dan buat protokol pengelolaan lapangan untuk masing-masing yang:
Rancang struktur tim respons untuk 3 jam pertama sebelum dokter tiba:
Pasien nomor 5 (G4P3A0 aterm, DJJ tidak terdengar) dan pasien nomor 8 (inpartu kala 2, bradikardi DJJ 90) keduanya membutuhkan tindakan segera tetapi staf sangat terbatas. Analisis:
| Komponen | Indikator Penilaian | Bobot |
|---|---|---|
| Bagian 1 β Triase | Ketepatan kategorisasi 10 pasien; kualitas justifikasi klinis; realisme pembagian peran staf termasuk kader | 30% |
| Bagian 2 β Protokol | Ketepatan klinis protokol; kesesuaian dengan stok yang tersedia; kejelasan timeframe dan titik eskalasi; realisme monitoring | 35% |
| Bagian 3 β Organisasi | Kelengkapan bagan; realisme pembagian zona; logika alokasi obat; konkretnya mekanisme komunikasi | 20% |
| Bagian 4 β Etis | Kedalaman analisis etis; ketepatan aplikasi crisis standards; konkretnya rencana komunikasi keluarga | 15% |