Respons Obstetri-Ginekologi dalam Fase Akut Bencana

Triase, Stabilisasi, dan Manajemen Kegawatan

Semester 3 | Periode 2 | MK Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi (4 SKS) | Sesi 1 | Modul 3

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.

🚨 Fokus: Fase Akut 0-72 Jam πŸ“‹ Tugas Kelompok Minggu 3 ⚑ OB-START & ICS

πŸ“‹ Daftar Isi Modul

A. Deskripsi Modul

Pukul 06.17 WITA. Gempa 7,4 SR mengguncang Kabupaten Palu, Sulawesi Tengah.

Dr. Sari, SpOG., Subsp.Obginsos., baru saja menyelesaikan operasi sesar darurat ketika lantai ruang operasi bergetar hebat. Lampu padam. Generator cadangan menyala dua menit kemudian β€” cukup lama untuk membuat suasana menjadi kacau. Di luar, suara teriakan dan sirene bercampur.

Dalam 90 menit berikutnya, 43 perempuan hamil dan pasca persalinan dibawa ke halaman rumah sakit oleh keluarga dan relawan. Gedung rawat inap kebidanan retak di tiga titik dan dinyatakan tidak aman oleh tim teknik. Dua bidan senior tidak masuk karena rumah mereka roboh. Stok oksitosin di lemari obat darurat tidak diketahui kondisinya β€” belum ada yang sempat mengecek.

Dr. Sari berdiri di halaman rumah sakit, stetoskop di leher, melihat 43 pasien yang tersebar di atas tikar dan terpal seadanya.

Siapa yang harus ditangani pertama? Siapa yang dapat menunggu? Siapa yang β€” dengan jujur β€” tidak mungkin diselamatkan dengan sumber daya yang ada sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan pertanyaan akademik. Jawabannya harus keluar dalam hitungan detik, berbasis pada prinsip yang sudah dipelajari jauh sebelum bencana terjadi.

Fase akut bencana β€” 0 hingga 72 jam pertama β€” adalah fase di mana keputusan klinis dibuat dalam kondisi paling menantang: informasi tidak lengkap, sumber daya terbatas, infrastruktur rusak, dan tekanan psikologis yang ekstrem. Modul ini membangun kompetensi untuk beroperasi secara efektif dalam kondisi tersebut: dari sistem triase obstetrik yang tervalidasi, manajemen kegawatan maternal dalam keterbatasan sumber daya, hingga pengorganisasian respons tim yang cepat dan terstruktur.

B. Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Menerapkan sistem triase obstetrik yang sesuai untuk kondisi bencana massal
  2. Mengelola kegawatan obstetrik utama dalam kondisi keterbatasan sumber daya bencana
  3. Mengorganisasi respons tim kesehatan ibu dalam fase akut bencana
  4. Mengambil keputusan klinis etis dalam kondisi scarce resources dan mass casualty
  5. Mendokumentasikan tindakan klinis bencana secara ringkas dan akurat

C. Materi Inti

C.1. Sistem Triase Obstetrik dalam Bencana

C.1.1. Prinsip Triase Bencana dan Adaptasinya untuk Obstetri

βš–οΈ TRIASE KONVENSIONAL vs. TRIASE BENCANA:

πŸ₯ TRIASE KONVENSIONAL
  • Prioritas: pasien paling kritis mendapat penanganan pertama
  • Asumsi: sumber daya mencukupi untuk semua pasien
  • Tujuan: optimasi outcome individual
🚨 TRIASE BENCANA (MASS CASUALTY)
  • Prioritas: pasien yang paling mungkin selamat dengan sumber daya yang tersedia
  • Asumsi: sumber daya TIDAK mencukupi untuk semua
  • Tujuan: menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa dengan sumber daya yang ada
  • Implikasi etis besar: pasien yang dalam kondisi normal dapat diselamatkan mungkin dikategorikan "expectant" karena membutuhkan sumber daya terlalu besar
πŸ”΄ SISTEM TRIASE START (Simple Triage and Rapid Treatment)

DIGUNAKAN UNTUK:

  • Triase primer awal β€” sorting cepat dalam 2–3 menit per pasien
  • Dapat dilakukan oleh responder non-klinis yang terlatih

🎨 EMPAT KATEGORI START:

πŸ”΄ MERAH (IMMEDIATE)
  • Mengancam jiwa tapi dapat diselamatkan dengan intervensi cepat
  • Prioritas penanganan pertama
  • Contoh obstetrik: HPP aktif dengan respons terhadap resusitasi, eklampsia aktif, prolaps tali pusat dengan DJJ ada
🟑 KUNING (DELAYED)
  • Kondisi serius tapi stabil β€” dapat menunggu tanpa memburuk segera
  • Prioritas kedua
  • Contoh obstetrik: fraktur tanpa perdarahan aktif, nyeri persalinan tanpa komplikasi akut, luka laserasi yang sudah dikontrol
🟒 HIJAU (MINOR)
  • Cedera/kondisi ringan β€” "walking wounded"
  • Dapat menunggu lama atau dirawat mandiri
  • Contoh obstetrik: hamil trimester 1–2 tanpa komplikasi, pasca persalinan normal > 24 jam
⚫ HITAM (EXPECTANT/DECEASED)
  • Meninggal ATAU kondisi sangat berat dengan prognosis sangat buruk dan membutuhkan sumber daya terlalu besar
  • Contoh obstetrik: kematian janin yang sudah dikonfirmasi tanpa tanda persalinan aktif pada ibu stabil, trauma kepala berat dengan GCS < 6 tanpa respons

🀰 MODIFIKASI TRIASE UNTUK OBSTETRIK (OB-START):

❓ MENGAPA PERLU MODIFIKASI
  • Sistem START dirancang untuk trauma umum β€” tidak mempertimbangkan dua pasien dalam satu tubuh (ibu dan janin)
  • Fisiologi kehamilan mengubah parameter vital: tekanan darah dan nadi normal berbeda di setiap trimester
  • Kondisi obstetrik spesifik (perdarahan antepartum, eklampsia, persalinan aktif) memerlukan kriteria khusus

πŸ“Š PARAMETER TAMBAHAN DALAM OB-START:

πŸ“… USIA KEHAMILAN
  • < 20 minggu: janin belum viable β€” prioritas pada kondisi ibu
  • 20–28 minggu: zona kritis viabilitas β€” pertimbangkan kapasitas NICU yang tersedia
  • > 28 minggu: janin viable β€” status janin menjadi faktor triase yang relevan
  • Aterm / inpartu: prioritas lebih tinggi karena risiko komplikasi persalinan dalam kondisi bencana
⚠️ TANDA BAHAYA OBSTETRIK YANG OTOMATIS MERAH
  • Perdarahan aktif > 500 ml yang tidak terkontrol
  • Kejang aktif atau post-iktal dengan riwayat preeklampsia
  • Persalinan dengan presentasi abnormal (letak lintang, prolaps tali pusat)
  • Tanda-tanda ruptur uterus: nyeri abdomen tiba-tiba, abdomen tegang, DJJ hilang mendadak
  • Sepsis dengan tanda syok (TD < 90 sistolik, nadi > 120, akral dingin)

C.1.2. Triase Sekunder dan Reassessment

πŸ”„ TRIASE SEKUNDER
  • Dilakukan setelah triase primer awal selesai
  • Lebih detail: pemeriksaan obstetrik lengkap, DJJ, estimasi usia kehamilan, riwayat obstetrik singkat
  • Kategori triase dapat BERUBAH: pasien kuning bisa menjadi merah jika kondisi memburuk; pasien merah bisa menjadi hitam jika tidak merespons intervensi

⏱️ FREKUENSI REASSESSMENT:

πŸ“ PENCATATAN TRIASE:

C.2. Manajemen Kegawatan Obstetrik dalam Kondisi Bencana

C.2.1. Hemoragi Postpartum (HPP) dalam Keterbatasan Sumber Daya

🩸 KONTEKS BENCANA
  • HPP adalah penyebab kematian maternal terbesar di kondisi bencana
  • Tantangan spesifik:
    • Stok oksitosin dan ergometrin mungkin rusak, habis, atau tidak tersedia
    • Akses IV sulit dalam kondisi kacau
    • Transfusi darah hampir tidak mungkin di lapangan
    • Kamar operasi mungkin tidak berfungsi

πŸ”— PROTOKOL HPP BENCANA β€” PENDEKATAN BERLAPIS:

πŸ”Ή LAPIS 1 β€” UTEROTONIKA (JIKA TERSEDIA)
  • Oksitosin 10 IU IM atau IV lambat β€” first line jika tersedia
  • Misoprostol 800 mcg sublingual atau rektal: ALTERNATIF KRITIS dalam bencana β€” stabil pada suhu ruang, tidak perlu cold chain, dapat diberikan oleh bidan tanpa akses IV
  • Ergometrin 0.2 mg IM jika tidak ada hipertensi
  • Asam traneksamat 1 gram IV dalam 10 menit β€” berikan dalam 3 jam pertama HPP; terbukti menurunkan kematian akibat HPP
πŸ”Ή LAPIS 2 β€” INTERVENSI NON-FARMAKOLOGIS
  • Kompresi bimanual uterus:
    • Internal: kepalan tangan di forniks anterior, tangan luar kompresi fundus
    • Eksternal: dua tangan mengompresi uterus dari luar dinding abdomen
    • Pertahankan hingga uterus berkontraksi atau bantuan tiba
  • Aorta compression: kompresi aorta abdominalis di bawah umbilikus β€” teknik jembatan untuk gain time
  • Non-pneumatic anti-shock garment (NASG): dapat dibuat dari bahan yang tersedia; terbukti menurunkan syok hemorrhagik
πŸ”Ή LAPIS 3 β€” PROSEDUR BEDAH DARURAT
  • Dalam kondisi bencana: pertimbangkan prosedur damage control surgery
  • Tamponade uterus dengan balon improvisasi (kondom kateter Bakri improvised):
    • Kondom diikat di kateter Foley
    • Dimasukkan ke cavum uteri
    • Diisi saline 300–500 ml
    • Efektif sebagai bridge to definitive care
  • Kompresi suture (B-Lynch atau modifikasinya) jika OR tersedia
  • Histerektomi peripartum sebagai last resort

πŸ’§ RESUSITASI CAIRAN DALAM HPP BENCANA:

🎯 PRINSIP DAMAGE CONTROL RESUSCITATION
  • Target TD sistolik: 80–90 mmHg (permissive hypotension) β€” lebih tinggi meningkatkan perdarahan
  • Hindari cairan kristaloid berlebihan: hemodilusi memperburuk koagulopati
  • Jika tersedia: ratio PRC:FFP:Trombosit = 1:1:1
  • Jika tidak ada darah: RL atau NaCl 0.9% maksimal 1–2 liter sambil kontrol perdarahan
  • Posisi Trendelenburg modifikasi: efek minimal tapi tidak merugikan

C.2.2. Eklampsia dan Preeklampsia Berat dalam Bencana

⚑ TANTANGAN BENCANA
  • Magnesium sulfat (MgSO4) mungkin tidak tersedia atau habis
  • Monitoring ketat yang diperlukan sulit dilakukan dengan staf terbatas
  • Persalinan segera yang diperlukan mungkin tidak memungkinkan jika OR rusak

πŸ”— PROTOKOL EKLAMPSIA BENCANA:

⚑ SAAT KEJANG AKTIF
  • Lindungi jalan napas: posisi lateral, bersihkan sekret
  • Oksigen jika tersedia: 4–6 L/menit via masker atau nasal kanul
  • JANGAN masukkan apapun ke mulut selama kejang
  • Waktu dan catat durasi kejang
πŸ’Š MgSO4 β€” PROTOKOL PRITCHARD
  • Loading dose: 4 gram IV dalam 20 menit (larutan 20%: 20 ml)
  • Maintenance: 2 gram/jam IV ATAU 5 gram IM setiap 4 jam di bokong kanan-kiri bergantian
  • Monitoring tanda toksisitas MgSO4:
    • Refleks patela hilang: hentikan
    • RR < 12: hentikan
    • Diuresis < 25 ml/jam: kurangi dosis
  • Antidotum: kalsium glukonat 1 gram IV pelan jika toksisitas
πŸ”„ JIKA MgSO4 TIDAK TERSEDIA
  • Diazepam 10 mg IV pelan sebagai alternatif kejang akut β€” kurang efektif dari MgSO4 tapi dapat menyelamatkan jiwa
  • Nifedipin 10 mg sublingual untuk hipertensi berat (TD > 160/110) jika antihipertensi IV tidak tersedia
🀰 KEPUTUSAN PERSALINAN
  • Eklampsia = indikasi terminasi kehamilan segera setelah stabilisasi maternal 4–6 jam
  • Dalam bencana: pertimbangkan kapasitas yang tersedia
  • Jika OR tidak bisa: persalinan pervaginam dengan akselerasi dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu
  • Rujuk ke fasilitas yang berfungsi jika memungkinkan β€” prioritas tertinggi dalam sistem rujukan bencana

C.2.3. Persalinan Darurat dalam Kondisi Bencana

πŸ‘Ά PRINSIP PERSALINAN BENCANA
  • Jika persalinan tidak dapat dihindari: lakukan dengan kondisi seaman mungkin
  • Clean delivery kit sebagai standar minimum:
    • Blade/gunting steril
    • Penjepit atau klem tali pusat (2 buah)
    • Kain bersih
    • Sarung tangan bersih
    • Plastik untuk alas
  • 6 clean practices: tangan bersih, permukaan bersih, blade bersih, ikatan bersih, tidak menyentuh plasenta dengan tangan terbuka, mata bayi bersih

πŸ”„ PERSALINAN SUNGSANG DARURAT DI LAPANGAN:

πŸ‘Ά RESUSITASI NEONATUS DI LAPANGAN:

⏱️ GOLDEN MINUTE

60 detik pertama setelah lahir menentukan

Langkah-langkah:

  1. Hangatkan, keringkan, stimulasi
  2. Posisikan jalan napas
  3. Nilai: napas, tonus, warna
  4. Jika tidak bernapas: ventilasi tekanan positif (VTP)

VTP improvisasi jika Ambu bag tidak ada: mulut ke mulut-hidung dengan tiupan sangat kecil (volume tidal neonatus 6–8 ml/kg)

Kompresi dada: ratio 3:1 dengan VTP jika HR < 60

❄️ HIPOTERMIA NEONATUS
  • Ancaman terbesar neonatus dalam bencana
  • Kangaroo Mother Care: kontak kulit langsung di dada ibu adalah intervensi paling efektif dan tidak membutuhkan peralatan

C.3. Pengorganisasian Respons Tim dalam Fase Akut

C.3.1. Incident Command System (ICS) untuk Obstetri

βš™οΈ MENGAPA ICS
  • Dalam bencana, struktur komando yang jelas mencegah:
    • Duplikasi tindakan
    • Gap dalam penanganan
    • Konflik antar responder
    • Kelelahan tim yang tidak terkelola
  • ICS menetapkan: satu komandan, rentang kendali yang jelas (1:5 maksimal), dan komunikasi yang terstruktur

πŸ—οΈ STRUKTUR ICS OBSTETRI LAPANGAN:

πŸ‘‘ INCIDENT COMMANDER (SpOG senior atau dokter senior)
  • Keputusan strategis dan alokasi sumber daya
  • Liaison dengan komando medis bencana umum
  • Tidak terlibat dalam prosedur klinis langsung jika memungkinkan
βš•οΈ MEDICAL OFFICER (dokter)
  • Triase sekunder dan keputusan klinis kompleks
  • Supervisi prosedur kegawatan
🀱 MIDWIFERY LEAD (bidan senior)
  • Koordinasi semua bidan di lapangan
  • Manajemen persalinan normal dan kegawatan bidan
  • Pengelolaan stok obat dan alat
🏷️ TRIAGE OFFICER
  • Triase primer dan reassessment berkala
  • Pencatatan tag triase
πŸ“¦ LOGISTICS OFFICER
  • Inventaris sumber daya
  • Koordinasi supply dari luar
  • Pengaturan area kerja

πŸ—ΊοΈ PEMBAGIAN AREA KERJA:

πŸ”΄ ZONA MERAH (RESUSITASI)
  • Area paling dekat dengan sumber daya kegawatan
  • Kapasitas: 3–5 pasien simultan
  • Staf: dokter + 2 bidan
  • Peralatan: kit resusitasi, uterotonika, IV set, oksigen
🟑 ZONA KUNING (OBSERVASI AKTIF)
  • Pasien stabil dengan risiko deteriorasi
  • Monitoring setiap 30 menit
  • Staf: 1 bidan per 5 pasien
🟒 ZONA HIJAU (PENGUNGSIAN TERPADU)
  • Pasien ringan dan hamil normal
  • Penyuluhan, distribusi suplemen, deteksi risiko baru
  • Dapat melibatkan kader terlatih
⚫ ZONA HITAM
  • Area terpisah dan tertutup
  • Penanganan jenazah yang bermartabat
  • Pendampingan keluarga

πŸ—£οΈ KOMUNIKASI TIM:

πŸ“‹ BRIEFING AWAL (SAAT TIBA)
  • Maksimal 5 menit
  • Isi: situasi saat ini, jumlah pasien, sumber daya yang tersedia, pembagian peran, titik kumpul jika situasi memburuk
πŸ”„ HANDOVER ANTAR SHIFT
  • Gunakan format SBAR:
    • Situation: kondisi saat ini
    • Background: riwayat singkat
    • Assessment: penilaian klinis
    • Recommendation: tindakan yang diperlukan
πŸ“’ ESKALASI MASALAH
  • Setiap staf berhak dan wajib melaporkan masalah yang melebihi kapasitasnya
  • Tidak ada hierarki yang boleh menghambat laporan keselamatan pasien

C.4. Pengambilan Keputusan Etis dalam Mass Casualty Obstetri

βš–οΈ DILEMA ETIS SPESIFIK OBSTETRI BENCANA:

DILEMA 1 β€” DUA PASIEN SATU TUBUH:
β†’ Ketika kepentingan ibu dan janin bertentangan dalam kondisi keterbatasan sumber daya
β†’ Prinsip: dalam kondisi bencana massal, kehidupan ibu selalu diprioritaskan atas janin
β†’ Alasan: ibu adalah "sumber daya" yang tidak dapat digantikan bagi anak-anak yang sudah ada, dan intervensi untuk menyelamatkan janin sering membutuhkan sumber daya jauh lebih besar
DILEMA 2 β€” ALOKASI SUMBER DAYA LANGKA:
β†’ Ketika oksitosin hanya cukup untuk 3 pasien dan ada 7 yang membutuhkan
β†’ Kerangka etis yang digunakan: utilitarian dalam kondisi bencana massal β€” maksimalkan jumlah nyawa yang diselamatkan
β†’ Dokumentasikan keputusan: siapa, mengapa, atas dasar apa
DILEMA 3 β€” KATEGORI EXPECTANT:
β†’ Menempatkan pasien di kategori hitam (expectant) bukan berarti meninggalkan mereka
β†’ Kewajiban yang tetap ada:
  • Analgesia dan kenyamanan semampu yang tersedia
  • Pendampingan manusiawi
  • Reassessment jika sumber daya berubah
β†’ Keputusan expectant harus direview berkala: jika sumber daya bertambah, kategori dapat diubah

πŸ“ DOKUMENTASI ETIS:

⚠️ CRISIS STANDARDS OF CARE
  • Dalam kondisi bencana massal yang dinyatakan resmi: standar pelayanan yang berlaku bergeser dari "standar optimal" ke "standar krisis"
  • Ini bukan izin untuk lalai β€” tapi pengakuan bahwa standar yang sama tidak dapat diterapkan dalam kondisi yang fundamental berbeda
  • Crisis standards harus ditetapkan oleh otoritas kesehatan resmi, bukan oleh keputusan individual tenaga kesehatan

D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen β€” Minggu 3)

Pertanyaan 1: Dr. Sari menemukan seorang perempuan hamil 32 minggu dengan eklampsia berat β€” kejang sudah berhenti, tapi MgSO4 habis dan stok terakhir baru akan tiba 6 jam lagi. Di sebelahnya, perempuan hamil 38 minggu dengan HPP aktif yang merespons kompresi bimanual tetapi membutuhkan oksitosin segera. Stok oksitosin tersisa 2 ampul. (a) Bagaimana Dr. Sari mengalokasikan dua ampul oksitosin tersebut dalam konteks triase bencana? (b) Apa tindakan alternatif yang dapat dilakukan untuk pasien eklampsia tanpa MgSO4? (c) Bagaimana keputusan ini didokumentasikan secara etis?

Pertanyaan 2: Seorang bidan relawan baru tiba di lokasi bencana dan langsung ingin menangani pasien tanpa briefing. Ia berpengalaman 15 tahun tetapi belum pernah bekerja dalam sistem ICS. Ia menolak bergabung dalam struktur komando yang dibentuk Dr. Sari dengan alasan "tidak perlu birokrasi dalam keadaan darurat." (a) Apa risiko nyata dari pendekatan bidan relawan tersebut dalam konteks mass casualty? (b) Bagaimana Dr. Sari mengintegrasikan bidan berkapasitas tinggi ini ke dalam sistem tanpa konflik yang membuang waktu? (c) Apa prinsip ICS yang paling relevan untuk situasi ini?

E. Rangkuman

  1. Triase bencana berbeda fundamental dari triase konvensional β€” tujuannya bukan menangani yang paling kritis pertama, melainkan menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa dengan sumber daya yang terbatas; sistem OB-START mengadaptasi triase massal untuk konteks obstetrik dengan menambahkan parameter usia kehamilan, tanda bahaya obstetrik spesifik, dan pertimbangan dua pasien dalam satu tubuh
  2. HPP dalam kondisi bencana memerlukan protokol berlapis yang dimulai dari intervensi non-farmakologis dan obat yang paling mungkin tersedia β€” misoprostol sublingual adalah alternatif kritis karena tidak memerlukan cold chain, diikuti kompresi bimanual, kondom kateter improvisasi, dan damage control surgery sebagai eskalasi; damage control resuscitation dengan permissive hypotension mencegah hemodilusi yang memperburuk koagulopati
  3. Manajemen eklampsia dalam keterbatasan sumber daya bencana mengutamakan MgSO4 protokol Pritchard sebagai standar dengan monitoring toksisitas yang ketat, dengan diazepam sebagai alternatif kejang akut dan nifedipin sublingual untuk krisis hipertensi jika obat lini pertama tidak tersedia; keputusan persalinan harus mempertimbangkan kapasitas fasilitas yang nyata, bukan standar ideal
  4. ICS memberikan struktur komando yang mencegah duplikasi, gap, dan kelelahan tim β€” incident commander yang tidak terlibat langsung dalam prosedur klinis dapat mempertahankan gambaran situasi keseluruhan; pembagian zona kerja yang jelas dan komunikasi terstruktur (briefing SBAR) adalah komponen operasional yang tidak dapat diimprovisasi saat krisis sudah terjadi
  5. Keputusan etis dalam mass casualty obstetrik β€” termasuk kategori expectant dan alokasi sumber daya langka β€” harus didasarkan pada kerangka utilitarian yang jelas, didokumentasikan dengan detail konteks dan alasan, dan tidak pernah dibebankan pada satu individu tanpa dukungan sistem; crisis standards of care harus ditetapkan oleh otoritas resmi untuk melindungi tenaga kesehatan yang membuat keputusan sulit dalam kondisi ekstrem

F. Referensi

  1. WHO. Pregnancy, Childbirth, Postpartum and Newborn Care: A Guide for Essential Practice. 3rd ed. Geneva: WHO; 2015. URL: https://www.who.int/publications/i/item/9789241549356
  2. Bhutta ZA, Darmstadt GL, Hasan BS, Haws RA. Community-based interventions for improving perinatal and neonatal health outcomes in developing countries. Pediatrics. 2005;115(2 Suppl):519-617. DOI: https://doi.org/10.1542/peds.2004-1441
  3. FIGO. FIGO Guidelines: Management of the Second Stage of Labor. Int J Gynaecol Obstet. 2012;119(2):111-116. DOI: https://doi.org/10.1016/j.ijgo.2012.08.002
  4. Shakur H, Roberts I, Fawole B, et al. Effect of early tranexamic acid administration on mortality, hysterectomy, and other morbidities in women with post-partum haemorrhage (WOMAN trial). The Lancet. 2017;389(10084):2105-2116. DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(17)30638-4
  5. Magee LA, Pels A, Helewa M, et al. Diagnosis, evaluation, and management of the hypertensive disorders of pregnancy. Pregnancy Hypertension. 2014;4(2):105-145. DOI: https://doi.org/10.1016/j.preghy.2014.01.003
  6. Miller S, Hamza S, Bray EH, et al. First Aid for Obstetric Haemorrhage: The Pilot Study of the Non-Pneumatic Anti-Shock Garment in Egypt. BJOG. 2006;113(4):424-429. DOI: https://doi.org/10.1111/j.1471-0528.2006.00857.x
  7. SPHERE Project. Sphere Handbook: Humanitarian Charter and Minimum Standards in Humanitarian Response. 4th ed. Geneva: Sphere Association; 2018. URL: https://spherestandards.org/handbook
  8. UNFPA. Minimum Initial Service Package (MISP) for Reproductive Health in Crisis Situations. New York: UNFPA; 2020. URL: https://www.unfpa.org/resources/minimum-initial-service-package-misp
  9. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: Kemenkes RI; 2019.
  10. Christian MD. Triage. Critical Care Clinics. 2019;35(4):575-589. DOI: https://doi.org/10.1016/j.ccc.2019.06.009

TUGAS KELOMPOK 1 β€” SESI 1 (MINGGU 3)

Mata Kuliah: Manajemen Krisis & Bencana dalam Obstetri-Ginekologi
Semester 3 | Periode 2 | Sesi 1

Identitas Tugas Detail
Jenis TugasTugas Kelompok Pertama β€” Sesi 1
MingguMinggu ke-3
MateriModul 1–3
Bobot Nilai15% dari nilai akhir mata kuliah
PengerjaanKelompok (3–4 orang)
Batas PengumpulanAkhir Minggu ke-3 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format LuaranDokumen Protokol Respons Obstetrik Bencana, format Word atau PDF
Panjang2.000–2.800 kata (tidak termasuk tabel, algoritma, dan referensi)
ReferensiMinimal 5 referensi dalam format Vancouver

PETUNJUK PENGERJAAN

  1. Tugas ini bersifat aplikatif β€” kelompok harus menghasilkan dokumen protokol yang benar-benar dapat digunakan di lapangan, bukan sekadar ringkasan teori
  2. Kelompok didorong menggunakan pengalaman klinis anggotanya sebagai sumber konteks yang memperkaya analisis
  3. Protokol harus realistis untuk kondisi Indonesia: tidak mengasumsikan sumber daya yang tidak tersedia di fasilitas tingkat kabupaten

πŸ—ΊοΈ SKENARIO

Pukul 14.30 WIB. Banjir bandang melanda sebuah kecamatan di Kabupaten Flores Timur, NTT. Puskesmas Rawat Inap satu-satunya di kecamatan tersebut terendam setinggi 60 cm di lantai pertama. Listrik padam. Generator tersedia tapi bensin hanya cukup untuk 6 jam. Telepon seluler masih berfungsi dengan sinyal terbatas.

Dalam 2 jam pertama, 28 perempuan β€” hamil dan pasca persalinan β€” dibawa ke halaman Puskesmas yang berada di tanah yang lebih tinggi. Dokter umum satu-satunya sedang dalam perjalanan dari kota kabupaten dan diperkirakan tiba 3 jam lagi. Yang ada di lokasi: 2 bidan terlatih (satu senior 12 tahun pengalaman, satu junior 2 tahun), 1 perawat umum, dan 3 kader posyandu. Stok obat yang berhasil diselamatkan: misoprostol 8 tablet, MgSO4 2 vial, diazepam 4 ampul, infus RL 6 bag, kasa dan sarung tangan terbatas.

TUGAS

Bagian 1 β€” Triase Lapangan (Β±500 kata + Tabel Triase)

Berdasarkan skenario di atas, rancang sistem triase untuk 28 pasien yang tiba. Kelompok harus:

  • Menjelaskan bagaimana sistem OB-START akan diterapkan dengan staf yang tersedia (2 bidan + 1 perawat + 3 kader)
  • Membuat Tabel Triase Simulasi untuk 10 pasien berikut β€” tentukan kategori triase (Merah/Kuning/Hijau/Hitam) dan justifikasinya:
No Deskripsi Pasien Kategori Justifikasi
1G3P2A0, 38 minggu, kontraksi 3x/10 menit, DJJ 148, TFU sesuai, TD 120/80
2G1P0A0, 32 minggu, keluhan pusing hebat, TD 170/110, protein urin ++ (strip), tidak kejang
3P2A0, 6 jam pasca persalinan normal, perdarahan aktif ~700 ml, TD 80/50, nadi 124
4G2P1A0, 28 minggu, luka laserasi kepala 4 cm sudah terkontrol, gerakan janin (+), TD 110/70
5G4P3A0, aterm, DJJ tidak terdengar dengan fetoskop, ibu sadar, tidak ada kontraksi, TD normal
6P1A0, 2 hari pasca SC, luka operasi terbuka sebagian, tidak ada tanda infeksi sistemik, TD 110/70
7G1P0A0, 10 minggu, nyeri perut bawah ringan, perdarahan bercak, USG tidak tersedia
8G2P1A0, inpartu kala 2, kepala di H III+, DJJ 90 bradikardi, ibu kelelahan
9P3A0, 30 menit pasca persalinan, plasenta belum lahir, perdarahan minimal, uterus teraba
10G3P2A0, 36 minggu, kejang tonik-klonik aktif saat tiba, riwayat TD tinggi sejak trimester 3
  • Jelaskan bagaimana peran kader posyandu akan dioptimalkan dalam triase ini

Bagian 2 β€” Protokol Pengelolaan Dua Kasus Prioritas (Β±800 kata)

Pilih dua kasus dari tabel triase yang dikategorikan Merah, dan buat protokol pengelolaan lapangan untuk masing-masing yang:

  • Disesuaikan dengan stok obat yang tersedia (misoprostol, MgSO4, diazepam, RL)
  • Menetapkan urutan tindakan yang jelas dengan timeframe
  • Mengidentifikasikan titik keputusan: kapan harus eskalasi ke dokter (yang belum tiba) via telepon, dan kapan harus memutuskan rujukan segera
  • Menjelaskan bagaimana monitoring akan dilakukan dengan staf yang terbatas

Bagian 3 β€” Pengorganisasian Tim dan Sumber Daya (Β±500 kata + Bagan Organisasi)

Rancang struktur tim respons untuk 3 jam pertama sebelum dokter tiba:

  • Buat Bagan Organisasi sederhana yang menetapkan peran setiap anggota tim (2 bidan, 1 perawat, 3 kader)
  • Jelaskan pembagian zona kerja yang realistis dengan kapasitas yang ada
  • Rancang skema alokasi stok obat yang tersedia: bagaimana 8 tablet misoprostol dan 2 vial MgSO4 dialokasikan berdasarkan prioritas triase?
  • Jelaskan mekanisme komunikasi dengan dokter yang sedang dalam perjalanan: informasi apa yang harus dilaporkan, dalam format apa, dan seberapa sering?

Bagian 4 β€” Refleksi Etis (Β±400 kata)

Pasien nomor 5 (G4P3A0 aterm, DJJ tidak terdengar) dan pasien nomor 8 (inpartu kala 2, bradikardi DJJ 90) keduanya membutuhkan tindakan segera tetapi staf sangat terbatas. Analisis:

  • Keputusan etis apa yang harus dibuat dalam alokasi staf antara kedua pasien ini?
  • Bagaimana kerangka crisis standards of care memandu keputusan ini?
  • Bagaimana keputusan ini didokumentasikan secara benar?
  • Apa yang harus disampaikan kepada keluarga kedua pasien, dan siapa yang menyampaikannya?

RUBRIK PENILAIAN

Komponen Indikator Penilaian Bobot
Bagian 1 β€” Triase Ketepatan kategorisasi 10 pasien; kualitas justifikasi klinis; realisme pembagian peran staf termasuk kader 30%
Bagian 2 β€” Protokol Ketepatan klinis protokol; kesesuaian dengan stok yang tersedia; kejelasan timeframe dan titik eskalasi; realisme monitoring 35%
Bagian 3 β€” Organisasi Kelengkapan bagan; realisme pembagian zona; logika alokasi obat; konkretnya mekanisme komunikasi 20%
Bagian 4 β€” Etis Kedalaman analisis etis; ketepatan aplikasi crisis standards; konkretnya rencana komunikasi keluarga 15%

REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN

  1. WHO. Pregnancy, Childbirth, Postpartum and Newborn Care: A Guide for Essential Practice. 3rd ed. Geneva: WHO; 2015.
  2. UNFPA. Minimum Initial Service Package (MISP) for Reproductive Health in Crisis Situations. New York: UNFPA; 2020.
  3. Shakur H, et al. Effect of early tranexamic acid administration on mortality (WOMAN trial). The Lancet. 2017;389(10084):2105-2116.
  4. SPHERE Project. Sphere Handbook: Minimum Standards in Humanitarian Response. 4th ed. Geneva: Sphere Association; 2018.
  5. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: Kemenkes RI; 2019.