A. Deskripsi Modul
November 2023. Dr. Rahmat menerima undangan yang tidak biasa: diminta mempresentasikan temuan AMP provinsi kepada Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Sulawesi Tengah — forum yang dihadiri Bupati dan Kepala Dinas Kesehatan dari seluruh kabupaten.
Ia memiliki data yang kuat. Dua belas bulan terakhir, timnya telah menganalisis 47 kematian maternal dari 8 kabupaten menggunakan pendekatan RCA yang lebih ketat. Root cause yang paling konsisten muncul — di 31 dari 47 kasus — adalah ketidaksiapan fasilitas PONED: tidak ada sistem monitoring stok obat emergensi, tidak ada jadwal on-call yang berfungsi, tidak ada drill kegawatan yang pernah dilakukan.
Tetapi Dr. Rahmat tahu dari pengalaman MK10 yang ia pelajari bahwa data saja tidak menggerakkan kebijakan. Ia perlu mengubah data tersebut menjadi argumen yang berbicara dalam bahasa yang dimengerti para Bupati dan Kepala Dinas.
Bagaimana saya mengubah 47 kasus dan tumpukan tabel menjadi sesuatu yang membuat mereka tidak bisa diam?
Modul ini adalah titik di mana seluruh kompetensi AMP — surveilans, audit, analisis, RCA — bertemu dengan kompetensi yang lebih luas: kemampuan mengubah temuan teknis menjadi argumen kebijakan yang bermakna. Ini adalah modul tentang pemanfaatan data, bukan hanya produksi data.
B. Capaian Pembelajaran Modul
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
- Mensintesis temuan AMP dari beberapa siklus menjadi laporan analitik yang dapat digunakan untuk perencanaan program dan kebijakan
- Mengidentifikasikan indikator kinerja kunci yang relevan untuk monitoring program penurunan AKI berbasis data AMP
- Merancang presentasi temuan AMP kepada berbagai audience — teknis, manajerial, dan politis — dengan framing yang tepat untuk masing-masing
- Menghubungkan temuan AMP dengan siklus perencanaan anggaran daerah (musrenbang, APBD) untuk memastikan rekomendasi mendapat alokasi sumber daya
- Membangun sistem dokumentasi pembelajaran yang memungkinkan akumulasi pengetahuan lintas siklus AMP
C. Materi Inti
C.1. Dari Data AMP ke Laporan yang Bermakna
C.1.1. Anatomi Laporan AMP yang Efektif
Laporan yang tidak digunakan:
- Tebal, penuh tabel dan angka
- Ditulis dalam bahasa teknis yang hanya dipahami klinisi
- Tidak ada narasi yang menghubungkan data ke implikasi kebijakan
- Tidak ada rekomendasi yang diprioritaskan
- Diserahkan, diarsip, dilupakan
Mengapa ini terjadi:
- Penulis laporan adalah klinisi yang terlatih menghasilkan data, bukan mengkomunikasikan kebijakan
- Tidak ada tradisi dalam komunitas AMP untuk menulis laporan yang "policy-ready"
- Pembaca target tidak pernah ditetapkan secara eksplisit
PRINSIP 1 — AUDIENCE PERTAMA:
Sebelum menulis satu kalimat, tanyakan:
- Siapa yang akan membaca laporan ini?
- Apa keputusan yang perlu mereka buat?
- Apa yang mereka perlu ketahui untuk membuat keputusan itu?
Implikasi:
- Laporan untuk tim klinis: detail teknis, analisis RCA mendalam, SOP yang perlu direvisi
- Laporan untuk Kepala Dinas: pola sistemik, rekomendasi kebijakan, implikasi anggaran
- Laporan untuk Bupati/legislatif: narasi yang kuat, angka kunci yang mudah dipahami, biaya inaksi vs. biaya solusi
EXECUTIVE SUMMARY (1-2 halaman):
- Angka kunci: berapa kematian, tren vs. periode sebelumnya
- Temuan utama: 1-3 root cause yang paling dominan
- Rekomendasi prioritas: tidak lebih dari 5 rekomendasi utama
- Kebutuhan sumber daya: estimasi biaya implementasi
- Ini adalah satu-satunya bagian yang dibaca oleh kebanyakan pengambil keputusan
BAGIAN 1 — KONTEKS DAN METODOLOGI:
- Periode laporan
- Jumlah kasus yang diaudit vs. total kematian yang dilaporkan
- Kelengkapan data (completeness estimate)
- Metode analisis yang digunakan
BAGIAN 2 — TEMUAN:
- Profil epidemiologi kematian (usia, paritas, penyebab medis, lokasi kematian)
- Distribusi Tiga Terlambat
- Pola root cause yang teridentifikasi
- Faktor protektif yang teridentifikasi (apa yang mencegah kematian di kasus near-miss)
BAGIAN 3 — ANALISIS IMPLIKASI SISTEM:
- Apa yang temuan ini katakan tentang sistem secara keseluruhan?
- Tren antar siklus: apakah root cause yang sama terus berulang?
- Perbandingan antar wilayah: mana yang menunjukkan praktik baik?
BAGIAN 4 — REKOMENDASI:
- Diprioritaskan berdasarkan: frekuensi root cause, feasibilitas, dampak potensial
- Setiap rekomendasi dalam format SMART+
- Dipetakan ke level yang bertanggung jawab: fasilitas/kabupaten/provinsi
LAMPIRAN:
- Data kasus individual (anonim)
- Tabel analisis lengkap
- Metodologi detail
Prinsip:
- Setiap tabel atau grafik harus menjawab satu pertanyaan spesifik
- Judul grafik adalah kesimpulan, bukan deskripsi: "Perdarahan tetap menjadi penyebab terbesar selama 3 siklus berturut-turut" bukan "Distribusi penyebab kematian maternal 2021-2023"
- Highlight apa yang penting — jangan biarkan pembaca menyimpulkan sendiri
Jenis visualisasi yang berguna:
- UNTUK TREN WAKTU: Line chart: AKI per tahun atau per siklus AMP; Slope chart: perbandingan dua titik waktu untuk beberapa indikator
- UNTUK DISTRIBUSI: Bar chart: distribusi penyebab kematian, lokasi kematian; Stacked bar: distribusi Tiga Terlambat per kategori penyebab
- UNTUK GEOGRAFI: Choropleth map: AKI per kecamatan atau kabupaten; Dot map: lokasi kematian yang dioverlay dengan lokasi fasilitas
- UNTUK SISTEM / PROSES: Flow diagram: alur kasus dari gejala pertama ke kematian — dengan titik-titik kegagalan yang ditandai; Fishbone yang divisualisasikan untuk presentasi
C.2. Indikator Kinerja untuk Monitoring Program
C.2.1. Memilih Indikator yang Tepat
Indikator yang baik adalah yang:
- VALID: mengukur apa yang dimaksud untuk diukur
- RELIABLE: menghasilkan nilai yang sama ketika diukur oleh orang berbeda dalam kondisi yang sama
- SENSITIVE: berubah ketika kondisi yang diukur berubah
- FEASIBLE: data yang diperlukan tersedia atau dapat dikumpulkan dengan sumber daya yang ada
- ACTIONABLE: dapat dipengaruhi oleh intervensi yang dalam kendali pengambil keputusan
INPUT: Sumber daya yang tersedia
- % Puskesmas PONED yang memiliki stok obat emergensi obstetri lengkap
- % bidan yang memiliki sertifikat pelatihan PONED yang masih berlaku
- % ambulans yang berfungsi dan memiliki sopir on-call
PROSES: Aktivitas yang dilakukan
- % kematian maternal yang dinotifikasikan dalam 24 jam
- % kematian yang di-review dalam siklus AMP berikutnya
- % rekomendasi AMP yang diimplementasikan dalam tenggat waktu
- % Puskesmas yang melakukan drill kegawatan obstetri minimal 2x/tahun
OUTPUT: Hasil langsung dari aktivitas
- % rekomendasi AMP yang diimplementasikan
- % Puskesmas yang memenuhi standar kesiapan PONED
- % kader yang terlatih tentang tanda bahaya
OUTCOME: Perubahan yang diharapkan
- % kematian maternal yang dikategorikan "dapat dicegah": tren menurun
- Proporsi kematian akibat root cause yang sudah diintervensi: tren menurun
- Mortality Index near-miss: tren menurun
IMPACT: Perubahan jangka panjang
- AKI kabupaten/provinsi: tren menurun
- AKB perinatal: tren menurun
INDIKATOR KUALITAS PROSES AMP SENDIRI:
- % kematian yang dilengkapi dengan autopsi verbal
- Rata-rata waktu dari kematian ke review
- % pertemuan AMP yang menghasilkan rekomendasi SMART+
- % rekomendasi yang memiliki penanggung jawab yang eksplisit
Mengapa penting:
- Jika kualitas proses AMP rendah, semua output dan outcome lainnya tidak valid
- "Garbage in, garbage out": AMP yang dilakukan secara ritual tidak menghasilkan data yang dapat dipercaya untuk monitoring apapun
Untuk kabupaten dengan sumber daya terbatas: pilih 5-7 indikator yang paling kritis dan HANYA itu yang dimonitor secara konsisten
Contoh dashboard minimal:
- Jumlah kematian maternal per bulan (absolut)
- % notifikasi dalam 24 jam
- % kematian dengan autopsi verbal
- % rekomendasi AMP yang diimplementasikan
- % Puskesmas PONED dengan stok obat emergensi lengkap
- AKI triwulanan (estimasi)
Ini lebih baik dari:
→ Dashboard dengan 30 indikator yang tidak ada satupun dimonitor secara konsisten
C.3. Mengkomunikasikan Temuan AMP kepada Berbagai Audience
C.3.1. Strategi Komunikasi Berbasis Audience
AUDIENCE 1 — TIM KLINIS (Bidan, Dokter, Perawat):
- Apa yang mereka pedulikan: Apa yang seharusnya dilakukan secara klinis yang tidak dilakukan?; Bagaimana kondisi kerja mereka berkontribusi?; Apa yang perlu mereka lakukan berbeda?
- Format yang efektif: Case-based learning: presentasikan kasus anonim dan ajak diskusi; SOP yang diperbarui berdasarkan temuan; Simulasi dan drill berdasarkan skenario yang teridentifikasi
- Hindari: Presentasi yang terasa menghakimi; Rekomendasi yang tidak realistis dengan kondisi kerja yang ada
- Apa yang mereka pedulikan: Apa yang perlu diubah dalam sistem yang mereka kelola?; Berapa biayanya?; Apa risikonya jika tidak ada perubahan?; Bagaimana perubahan ini dapat dimasukkan dalam perencanaan?
- Format yang efektif: Laporan ringkas dengan prioritas yang jelas; Rekomendasi yang terpetakan ke anggaran dan sumber daya; Perbandingan dengan kabupaten/fasilitas lain (benchmarking); Studi kasus keberhasilan: "Ini yang dilakukan Puskesmas X dan hasilnya..."
- Hindari: Detail teknis klinis yang berlebihan; Rekomendasi tanpa estimasi biaya; Bahasa yang terasa mengancam atau menyudutkan manajemen
- Apa yang mereka pedulikan: Seberapa besar masalah ini?; Apa konsekuensi politik dan publik?; Berapa biayanya untuk menyelesaikan vs. tidak menyelesaikan?; Apakah ada yang sudah berhasil — bisa kita replikasi?
- Format yang efektif: One-pager: satu halaman dengan angka kunci dan rekomendasi utama; Narasi yang kuat: cerita konkret tentang dampak pada keluarga dan komunitas; Framing yang relevan: AKI sebagai indikator IPM, sebagai isu hak asasi, sebagai potensi embarrassment jika tidak ditangani; Cost of inaction: berapa yang hilang secara ekonomi setiap kematian ibu
- Hindari: Angka yang terlalu banyak tanpa narasi; Jargon teknis; Presentasi yang lebih dari 10 menit tanpa interaksi
Data saja tidak cukup:
→ "47 kematian maternal dalam 12 bulan"
→ Angka ini abstrak bagi politisi yang tidak pernah melihat kematian maternal
Data + Narasi:
→ "47 ibu meninggal — di antaranya Ny. Sari, 32 tahun dari Banggai, meninggalkan 3 anak yang masih kecil, karena oksitosin habis di Puskesmas dan tidak ada yang merasa bertanggung jawab memastikan stoknya tersedia. Ini bukan kemalangan — ini adalah kegagalan sistem yang dapat diperbaiki."
Data + Narasi + Solusi:
→ Tambahkan: "Dengan anggaran Rp 180 juta per tahun untuk memperkuat sistem manajemen stok obat dan pelatihan bidan di 47 Puskesmas PONED, kita dapat mencegah estimasi 15-20 kematian per tahun. Ini adalah Rp 9-12 juta per nyawa yang diselamatkan."
C.4. Menghubungkan Temuan AMP dengan Siklus Perencanaan
C.4.1. Arsitektur Perencanaan Daerah dan Titik Masuk
Memahami siklus ini kritis agar rekomendasi AMP mendapat alokasi sumber daya:
- JANUARI-FEBRUARI: Evaluasi capaian tahun lalu, identifikasi isu prioritas
→ TITIK MASUK: Laporan AMP tahunan sebagai dokumen evaluasi berbasis bukti; Temuan AMP dapat memperkuat argumen bahwa isu ini perlu diprioritaskan - MARET-APRIL: Musrenbang kecamatan dan kabupaten
→ TITIK MASUK: Data AMP yang dipetakan per kecamatan dapat memprioritaskan wilayah yang memerlukan intervensi; Rekomendasi yang sudah diframing sebagai proposal program yang konkret - MEI-JUNI: Penyusunan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) dan KUA-PPAS
→ TITIK MASUK: Rekomendasi AMP yang sudah dipetakan ke program dan kegiatan dalam nomenklatur APBD; Diperlukan: kemampuan menerjemahkan rekomendasi klinis ke bahasa perencanaan APBD - JULI-AGUSTUS: Pembahasan RAPBD di DPRD
→ TITIK MASUK: Briefing komisi yang menangani kesehatan dengan data AMP; Dukungan DPRD dapat memastikan anggaran yang sudah diusulkan tidak dipotong - SEPTEMBER-NOVEMBER: Finalisasi APBD
→ TITIK MASUK: Last resort advocacy jika anggaran terancam dipotong - DESEMBER: APBD disahkan
→ Persiapan implementasi untuk tahun berikutnya
Rekomendasi klinis:
"Semua bidan Puskesmas PONED harus mendapat pelatihan PONED yang diperbarui"
Versi APBD:
- Program: Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
- Kegiatan: Pelatihan Kompetensi PONED bagi Tenaga Kesehatan Puskesmas Rawat Inap
- Sub-kegiatan: Pelaksanaan Pelatihan PONED
- Volume: 47 orang peserta × 3 hari × biaya operasional = estimasi anggaran
Siapa yang perlu diyakinkan:
KEPALA BAPPEDA:
- Kunci pintu masuk ke proses perencanaan
- Perlu melihat: relevansi dengan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), khususnya target IPM dan AKI
- Argumen: "Rekomendasi ini adalah intervensi berbasis bukti yang paling cost-effective untuk mencapai target AKI dalam RPJMD kita"
TIM ANGGARAN BPKAD:
- Mengontrol alokasi anggaran teknis
- Perlu: estimasi biaya yang realistis, output yang terukur, keselarasan dengan program yang sudah ada
KOMISI DPRD:
- Dapat memperjuangkan anggaran atau memotongnya
- Perlu: narasi yang kuat, data yang mudah dipahami, dampak pada konstituen
C.4.2. Membangun Sistem Dokumentasi Pembelajaran
Masalah yang umum:
- Setiap fasilitator AMP mengembangkan keahlian sendiri secara individual
- Ketika ia pindah atau pensiun, keahlian itu hilang
- Kabupaten berikutnya "menemukan kembali roda" yang sudah ditemukan
- Kesalahan yang sama diulang di tempat yang berbeda
Apa yang perlu didokumentasikan:
- KNOWLEDGE BASE TEMUAN AMP: Database root cause yang teridentifikasi lintas siklus; Rekomendasi yang sudah diuji — mana yang berhasil, mana yang tidak, dalam konteks apa; Kasus-kasus anonim yang ilustratif untuk pelatihan
- KNOWLEDGE BASE PROSES AMP: Teknik fasilitasi yang efektif dalam konteks spesifik; Cara mengatasi tantangan dinamika kelompok yang sering muncul; Adaptasi instrumen yang sudah dilakukan dan hasilnya
- KNOWLEDGE BASE ADVOKASI DAN KEBIJAKAN: Argumen yang berhasil menggerakkan kebijakan; Stakeholder yang berpengaruh dan cara pendekatannya; "Quick wins" yang membangun momentum
ANNUAL LEARNING REPORT:
Laporan tahunan yang mengintegrasikan:
- Temuan AMP tahun ini
- Perbandingan dengan tahun sebelumnya
- Apa yang dipelajari tentang sistem
- Apa yang berhasil dan tidak berhasil dari rekomendasi tahun lalu
- Prioritas tahun depan
CASE STUDY BANK:
Koleksi kasus anonim yang dapat digunakan untuk:
- Pelatihan fasilitator AMP baru
- Pelatihan tenaga klinis tentang keselamatan pasien
- Bahan presentasi kepada pengambil kebijakan
GOOD PRACTICE DATABASE:
Dokumentasi praktik baik yang teridentifikasi:
- Puskesmas atau RS mana yang melakukan sesuatu lebih baik?
- Apa tepatnya yang mereka lakukan?
- Dalam konteks apa ini dapat direplikasi?
C.5. Benchmarking dan Pembelajaran Lintas Wilayah
C.5.1. Menggunakan Perbandingan untuk Mendorong Perbaikan
Definisi:
Proses sistematis untuk membandingkan kinerja dengan referensi eksternal (fasilitas lain, kabupaten lain, standar nasional/internasional) untuk mengidentifikasikan gap dan peluang perbaikan
JENIS BENCHMARKING:
- INTERNAL BENCHMARKING: Perbandingan antar unit dalam satu kabupaten
→ Puskesmas mana yang memiliki kesiapan PONED terbaik?
→ Apa yang mereka lakukan berbeda?
→ Dapat langsung direplikasi dalam konteks yang sama - COMPETITIVE BENCHMARKING: Perbandingan dengan kabupaten lain dengan kondisi yang mirip
→ Kabupaten tetangga dengan demografi serupa tetapi AKI lebih rendah — apa yang mereka lakukan?
→ Argumen yang kuat: "Jika kabupaten X bisa, mengapa kita tidak bisa?" - BEST PRACTICE BENCHMARKING: Perbandingan dengan yang terbaik — terlepas dari konteks
→ Provinsi atau negara dengan AKI sangat rendah: apa faktor kuncinya?
→ Tidak selalu dapat langsung direplikasi tetapi memberikan aspirasi dan arah yang jelas
Jebakan yang umum:
- Membandingkan angka AKI tanpa memperhitungkan perbedaan kualitas pelaporan
- Mengambil "praktik terbaik" dari konteks yang sangat berbeda tanpa adaptasi
- Benchmarking menjadi alat mempermalukan alih-alih alat pembelajaran
Prinsip penggunaan yang etis:
- Fokus pada pembelajaran, bukan ranking
- Kontekstualisasi: selalu jelaskan perbedaan konteks yang mempengaruhi perbandingan
- Ajukan: "Apa yang dapat kita pelajari?" bukan "Mengapa kita lebih buruk?"
Model yang efektif:
- Jaringan kabupaten yang secara rutin berbagi temuan AMP dan pembelajaran
- Bukan kompetisi — tetapi kolaborasi untuk memecahkan masalah bersama
- Pertemuan regional 2-4 kali setahun: berbagi kasus, berbagi solusi, berbagi data
Contoh yang berhasil:
- Institute for Healthcare Improvement (IHI) Collaborative model: digunakan di berbagai negara termasuk beberapa provinsi di Indonesia
- Kunci: psychological safety — peserta merasa aman untuk berbagi kegagalan, bukan hanya keberhasilan
D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen — Minggu 8)
Modul 8 memiliki Tugas Kelompok 3 yang dikumpulkan Minggu ke-8. Thread diskusi di bawah ini adalah refleksi paralel.
Pertanyaan 1:
Dr. Rahmat diminta mempresentasikan temuan AMP kepada Rakerkesda yang dihadiri Bupati dan Kepala Dinas dari seluruh kabupaten. Ia memiliki data 47 kematian maternal dengan root cause yang didominasi ketidaksiapan PONED. Rancang strategi presentasi Dr. Rahmat: (a) identifikasikan tiga pesan kunci yang harus ada dalam presentasi 15 menit kepada audience campuran ini; (b) untuk setiap pesan, jelaskan bagaimana Anda akan memvisualisasikan atau menyajikannya agar resonan dengan audience non-klinis; (c) antisipasi satu pertanyaan atau resistensi yang paling mungkin muncul dari Bupati atau Kepala Dinas, dan rancang respons yang tidak defensif tetapi tetap berbasis data.
Pertanyaan 2:
Seorang konsultan Obginsos baru ditugaskan di kabupaten yang tidak pernah mengintegrasikan temuan AMP ke dalam siklus perencanaan APBD — rekomendasi AMP selalu ada tetapi tidak pernah mendapat alokasi anggaran. Menggunakan kerangka siklus perencanaan daerah yang dibahas dalam modul, identifikasikan: (a) dua titik masuk yang paling strategis dalam siklus perencanaan untuk mulai mengintegrasikan temuan AMP; (b) untuk masing-masing titik masuk, apa yang konkret harus disiapkan dan siapa yang perlu dilibatkan; (c) apa satu "quick win" yang dapat diadvokasikan dalam siklus perencanaan pertama untuk membangun kepercayaan bahwa integrasi ini mungkin?
E. Rangkuman
- Laporan AMP yang efektif dimulai dengan pertanyaan "siapa pembacanya dan keputusan apa yang perlu mereka buat?" — laporan yang sama tidak dapat melayani tim klinis, manajemen, dan pengambil kebijakan secara bersamaan; struktur yang memisahkan executive summary dari detail teknis memungkinkan setiap audience mengambil apa yang relevan tanpa harus membaca keseluruhan dokumen
- Pemilihan indikator kinerja program penurunan AKI harus mencakup seluruh rantai input-proses-output-outcome-impact, dan indikator kualitas proses AMP itu sendiri — kelengkapan autopsi verbal, ketepatan waktu review, proporsi rekomendasi yang diimplementasikan — adalah yang paling sering diabaikan padahal merupakan prasyarat validitas semua indikator lainnya
- Komunikasi temuan AMP kepada pengambil kebijakan memerlukan formula data-narasi-solusi: data memberikan legitimasi, narasi menciptakan urgensi yang tidak dapat diabaikan, dan solusi yang konkret dengan estimasi biaya memberikan jalan keluar yang actionable; tanpa narasi, data tetap abstrak; tanpa solusi, narasi hanya menghasilkan kecemasan tanpa arah
- Integrasi rekomendasi AMP ke dalam siklus perencanaan APBD memerlukan pemahaman tentang kapan setiap titik masuk terbuka — dari Musrenbang di awal tahun hingga pembahasan RAPBD di DPRD — dan kemampuan menerjemahkan rekomendasi klinis ke bahasa program dan kegiatan dalam nomenklatur anggaran daerah yang dapat dipahami oleh Bappeda dan tim anggaran
- Benchmarking dan learning collaborative adalah mekanisme yang mengakselerasi perbaikan dengan mencegah setiap kabupaten atau fasilitas harus belajar dari kesalahan yang sama secara independen; efektivitasnya bergantung pada psychological safety — lingkungan di mana berbagi kegagalan dilihat sebagai kontribusi, bukan kelemahan — dan pada kualitas dokumentasi pembelajaran yang memungkinkan akumulasi pengetahuan lintas siklus dan lintas wilayah
F. Referensi
- Shiffman J, Smith S. Generation of political priority for global health initiatives: a framework and case study of maternal mortality. Lancet. 2007;370(9595):1370-1379.
DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(07)61579-7 - Nolan T, Berwick DM. All-or-none measurement raises the bar on performance. JAMA. 2006;295(10):1168-1170.
DOI: https://doi.org/10.1001/jama.295.10.1168 - Langley GJ, Moen R, Nolan KM, et al. The Improvement Guide. 2nd ed. San Francisco: Jossey-Bass; 2009.
- Berwick DM, Nolan TW, Whittington J. The triple aim: care, health, and cost. Health Affairs. 2008;27(3):759-769.
DOI: https://doi.org/10.1377/hlthaff.27.3.759 - WHO. Monitoring, Evaluation and Review of National Health Strategies. Geneva: WHO; 2011.
URL: https://www.who.int/publications/i/item/9789241564700 - Graham WJ, Varghese B. Quality, quality, quality: gaps in the continuum of care. Lancet. 2012;379(9811):e5-e6.
DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(12)60116-6 - Kementerian Dalam Negeri RI. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan Daerah. Jakarta: Kemendagri; 2017.
URL: https://peraturan.bpk.go.id - Bappenas. Pedoman Penyelenggaraan Musrenbang. Jakarta: Bappenas; 2020.
URL: https://www.bappenas.go.id - Institue for Healthcare Improvement. The Breakthrough Series: IHI's Collaborative Model for Achieving Breakthrough Improvement. Boston: IHI; 2003.
URL: https://www.ihi.org - Ronsmans C, Graham WJ. Maternal mortality: who, when, where, and why. Lancet. 2006;368(9542):1189-1200.
DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(06)69380-X
Malang, Maret 2026
Penyusun
TUGAS KELOMPOK 3 — SESI 2 (MINGGU 8)
Mata Kuliah: Audit Maternal Perinatal & Surveilans Respons | Semester: 3 | Periode: 1 | Sesi: 2
Identitas Tugas
| Jenis Tugas | Tugas Kelompok Ketiga — Sesi 2 |
|---|---|
| Minggu | Minggu ke-8 |
| Materi | Modul 6–8 (penekanan pada Modul 7 dan 8) |
| Bobot Nilai | 15% dari nilai akhir mata kuliah |
| Komposisi Kelompok | 3–4 orang (kelompok yang sama) |
| Batas Pengumpulan | Akhir Minggu ke-8 (7 hari sejak tugas dibuka) |
| Format Luaran | (1) Laporan analitik Word/PDF; (2) Executive summary satu halaman; (3) Draft slide presentasi 8–10 slide |
| Panjang Laporan | 1.800–2.500 kata (tidak termasuk executive summary dan slide) |
| Referensi | Minimal 6 referensi dalam format Vancouver |
PETUNJUK PENGERJAAN
- Tugas ini menuntut integrasi antara analisis RCA (Modul 6–7) dan pemanfaatan data untuk kebijakan (Modul 8) — keduanya harus hadir secara proporsional dan terhubung
- Bagian 1 adalah analisis RCA yang harus menggunakan metode secara eksplisit — sebutkan metode yang digunakan dan tunjukkan penerapannya, bukan hanya hasilnya
- Bagian 2 adalah produk komunikasi yang harus dapat langsung digunakan — executive summary dan slide bukan ringkasan akademis tetapi dokumen yang siap diserahkan kepada pengambil kebijakan
- Kualitas dinilai dari ketajaman analisis dan realisme produk komunikasi, bukan dari panjang laporan
SKENARIO
"Pola yang Tidak Bisa Diabaikan"
Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara. Dr. Intan, SpOG., Subsp.Obginsos., telah memimpin tim AMP kabupaten selama satu tahun. Dalam empat siklus AMP terakhir (total 12 bulan), timnya telah mereview 19 kematian maternal.
Rekapitulasi temuan empat siklus AMP:
Profil kematian:
- AKI kabupaten: 267/100.000 KH (berdasarkan laporan rutin; estimasi tim bahwa angka sesungguhnya 30-40% lebih tinggi)
- Distribusi lokasi kematian: 8 di RSUD, 5 di Puskesmas, 4 di komunitas/perjalanan, 2 tidak diketahui
- Penyebab langsung: perdarahan 9 kasus (47%), eklamsia/pre-eklamsia berat 6 kasus (32%), sepsis 2 kasus (11%), lain-lain 2 kasus (10%)
Root cause yang teridentifikasi (dari RCA yang sudah dilakukan tim):
| Root Cause | Jumlah Kasus | Kategori |
|---|---|---|
| Tidak ada sistem monitoring stok obat emergensi di Puskesmas | 11 kasus | Kesiapan fasilitas |
| Tidak ada SOP tertulis dan terpasang untuk kegawatan obstetri | 9 kasus | Kesiapan fasilitas |
| Bidan tidak terlatih / tidak tersupervisi untuk prosedur spesifik | 8 kasus | Kompetensi |
| Sistem komunikasi rujukan yang tidak berfungsi | 7 kasus | Sistem rujukan |
| Tidak ada on-call dokter atau bidan senior yang dapat dihubungi | 6 kasus | Kesiapan fasilitas |
| Kematian di komunitas tidak dilaporkan ke sistem | 4 kasus | Surveilans |
Temuan tambahan dari tim:
- Tiga Puskesmas dari 9 Puskesmas di kabupaten tidak pernah hadir dalam pertemuan AMP manapun dalam 12 bulan terakhir
- Kepala Dinas yang lama (yang mendukung AMP) baru diganti tiga bulan lalu; Kepala Dinas baru belum pernah dibrief tentang AMP dan tampak tidak familiar dengan isu ini
- Musrenbang kabupaten untuk perencanaan tahun anggaran berikutnya akan dilaksanakan dalam 6 minggu
- Anggaran program KIA tahun ini 15% di bawah yang diajukan — alasan: "efisiensi"
TUGAS
Bagian 1 — Analisis RCA Lanjutan (40%)
1a. Sintesis Pola Root Cause (20%)
Dari enam root cause yang teridentifikasi dalam rekapitulasi:
- Lakukan analisis pola menggunakan pendekatan yang diajarkan di Modul 8 (C.5.1): kelompokkan root cause ke dalam kategori yang lebih besar, dan identifikasikan kondisi sistemik yang mendasari munculnya beberapa root cause secara bersamaan
- Argumentasikan: jika hanya ada satu intervensi yang dapat dilakukan dengan sumber daya yang sangat terbatas, root cause mana yang menjadi prioritas dan mengapa — gunakan argumen berbasis frekuensi, dampak, dan feasibilitas
- Identifikasikan faktor protektif yang mungkin menjelaskan mengapa 8 Puskesmas (minus 3 yang tidak pernah hadir AMP) belum menghasilkan kematian sebanyak yang mungkin terjadi — apa yang mungkin bekerja dengan baik?
1b. RCA Mendalam Satu Kasus (20%)
Pilih salah satu dari dua skenario kasus di bawah ini dan lakukan RCA menggunakan London Protocol secara lengkap:
Kasus A: Ny. Wati, 24 tahun, G1P0A0, meninggal karena perdarahan postpartum 2 jam setelah melahirkan di Puskesmas Rawat Inap Wawonii. Bidan yang menolong adalah bidan baru (8 bulan bertugas). AMTSL tidak dilakukan karena bidan tidak membawa kit persalinan lengkap. Oksitosin ada di gudang obat tetapi tidak di kamar bersalin. Tidak ada dokter di Puskesmas saat kejadian. Kondisi terus memburuk; saat keputusan rujukan diambil (1,5 jam setelah perdarahan mulai), kondisi sudah terlalu kritis untuk diselamatkan dalam perjalanan rujukan selama 2 jam.
Kasus B: Ny. Hartini, 38 tahun, G5P4A0, rujukan dari Puskesmas Wawotobi dengan diagnosis pre-eklamsia berat. MgSO4 tidak diberikan di Puskesmas karena "tidak ada yang bisa memberikan" — tidak ada bidan senior dan dokter sedang bertugas di lokasi lain. Saat tiba di RSUD 3,5 jam kemudian, sudah mengalami kejang berulang. Meninggal 6 jam setelah tiba di RSUD akibat komplikasi eklamsia berat dan edema pulmoner.
Untuk kasus yang dipilih, hasilkan:
- Tabular timeline lengkap
- Identifikasikan minimal 3 Care Delivery Problems
- Untuk setiap CDP, identifikasikan contributory factors menggunakan ketujuh kategori London Protocol
- Identifikasikan 2 root causes utama
- Susun 2 rekomendasi SMART+ yang terpetakan ke root cause tersebut
Bagian 2 — Produk Komunikasi (60%)
2a. Executive Summary untuk Kepala Dinas Baru (25%)
Tulis executive summary satu halaman (maksimal 500 kata, format dokumen terpisah) yang ditujukan kepada Kepala Dinas yang baru — yang belum pernah dibrief tentang AMP dan belum familiar dengan isu ini. Executive summary ini harus:
- Menyampaikan gambaran situasi dengan angka kunci yang tidak dapat diabaikan
- Menjelaskan apa yang sudah dilakukan dan apa yang ditemukan — dalam bahasa yang dapat dipahami non-klinisi
- Membingkai pola root cause sebagai masalah sistem yang dapat diperbaiki, bukan sebagai kegagalan individual
- Mengajukan 2-3 tindakan yang diminta dari Kepala Dinas — spesifik dan realistis
- Menciptakan urgensi tanpa menimbulkan defensivitas
- Menyebutkan window of opportunity: Musrenbang 6 minggu lagi
2b. Slide Presentasi untuk Musrenbang (35%)
Rancang 8–10 slide presentasi (dalam format deskripsi konten slide — bukan slide yang dibuat secara grafis, tetapi deskripsi lengkap yang dapat langsung digunakan untuk membuat slide) untuk slot presentasi 10 menit dalam Musrenbang kabupaten.
Audience Musrenbang: Bupati, Kepala Bappeda, Kepala Dinas sektoral, perwakilan DPRD, tokoh masyarakat.
Untuk setiap slide, deskripsikan:
- Judul slide (yang merupakan pesan/kesimpulan, bukan deskripsi konten)
- Konten utama yang akan ditampilkan (angka kunci, visual yang disarankan, atau poin-poin)
- Poin verbal yang akan disampaikan presenter (speaker notes, 2–4 kalimat)
Urutan yang disarankan:
- Slide 1: Opening — framing yang menciptakan urgensi
- Slide 2-3: Gambaran masalah dengan data yang tidak dapat diabaikan
- Slide 4-5: Diagnosis sistem — ini bukan nasib, ini kegagalan yang dapat diperbaiki
- Slide 6-7: Apa yang perlu diubah — rekomendasi prioritas dengan estimasi biaya
- Slide 8: Apa yang diminta dari forum ini — call to action yang spesifik
- Slide 9-10 (opsional): Bukti bahwa ini bekerja di tempat lain + penutup
RUBRIK PENILAIAN
| Bagian | Komponen Penilaian Utama | Bobot |
|---|---|---|
| 1a | Kedalaman sintesis pola; kualitas argumen prioritisasi; identifikasi faktor protektif | 20% |
| 1b — Timeline | Kelengkapan dan akurasi kronologi | 5% |
| 1b — CDP & CF | Ketepatan identifikasi CDP; kedalaman analisis contributory factors per kategori | 10% |
| 1b — Root Cause & Rekomendasi | Ketepatan root cause; kualitas rekomendasi SMART+ yang terpetakan | 5% |
| 2a — Executive Summary | Kejernihan narasi; ketepatan framing; kekuatan call to action; relevansi untuk Kadis baru | 25% |
| 2b — Slide | Kekuatan pesan per slide; kualitas speaker notes; koherensi alur presentasi; persuasivitas keseluruhan | 35% |
REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN
- Vincent C, Taylor-Adams S, Stanhope N. Framework for analysing risk and safety in clinical medicine. BMJ. 1998;316(7138):1154-1157.
- Shiffman J, Smith S. Generation of political priority for global health initiatives. Lancet. 2007;370(9595):1370-1379.
- WHO. Beyond the Numbers. Geneva: WHO; 2004.
- Langley GJ, et al. The Improvement Guide. 2nd ed. San Francisco: Jossey-Bass; 2009.
- Kemenkes RI. Pedoman AMP. Jakarta: Kemenkes; 2010.
- Berwick DM, Nolan TW, Whittington J. The triple aim. Health Affairs. 2008;27(3):759-769.
Malang, Maret 2026
Penyusun