AMP sebagai Gerakan: Kepemimpinan, Ekosistem, dan Transformasi Sistem Kesehatan Maternal

Semester 3 | Periode 1 | MK Audit Maternal Perinatal & Surveilans Respons (4 SKS) | Sesi 2 | Modul 10
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Malang, Maret 2026

A. Deskripsi Modul

Januari 2024. Dr. Rahmat berdiri di depan ruangan yang tidak pernah ia bayangkan akan ia isi satu tahun lalu: Rapat Koordinasi Nasional Program Kesehatan Ibu, dihadiri oleh Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, perwakilan WHO Indonesia, dan Kepala Dinas Kesehatan dari 15 provinsi.

Ia diminta mempresentasikan "model Sulawesi Tengah" — bagaimana dalam 18 bulan, provinsi yang sebelumnya memiliki sistem AMP yang hampir tidak berfungsi berhasil membangun ekosistem yang kini mencakup 11 dari 13 kabupaten/kota, dengan completeness pelaporan dari 34% menjadi 78%, dan estimasi 23 kematian maternal yang dapat dikaitkan dengan perubahan sistem yang dihasilkan AMP.

Saat menyiapkan presentasinya, Dr. Rahmat merefleksikan perjalanan itu. Bukan teknologi yang mengubah ini. Bukan formulir yang lebih baik. Bukan database yang lebih canggih. Yang mengubah adalah cara orang mulai melihat kematian ibu — bukan sebagai nasib, bukan sebagai kegagalan individual yang memalukan, tetapi sebagai sinyal sistem yang harus direspons.

AMP bukan program. AMP adalah cara pandang. Dan cara pandang itu bisa menyebar.

Modul terakhir ini bergerak dari level operasional ke level transformasional. AMP yang benar-benar efektif bukan hanya sistem teknis yang berjalan — ia adalah gerakan yang mengubah cara sistem kesehatan melihat, merespons, dan belajar dari kematian ibu. Modul ini membangun pemahaman tentang kepemimpinan yang diperlukan untuk mewujudkan transformasi ini, ekosistem yang mendukungnya, dan bagaimana pengalaman Indonesia dapat berkontribusi pada pembelajaran global.

B. Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Mengartikulasikan visi AMP sebagai komponen gerakan transformasi sistem kesehatan maternal, bukan sekadar program teknis
  2. Mengidentifikasikan karakteristik kepemimpinan yang diperlukan untuk membangun dan mempertahankan ekosistem AMP yang efektif
  3. Menganalisis ekosistem pendukung AMP — regulasi nasional, jaringan profesional, komunitas sipil, dan mitra internasional — dan mengidentifikasikan cara mengaktifkannya
  4. Mengevaluasi pelajaran dari implementasi AMP di berbagai konteks global dan mengidentifikasikan relevansinya untuk konteks Indonesia
  5. Merancang kontribusi pribadi sebagai Subspesialis Obginsos dalam mendorong transformasi sistem kesehatan maternal di tingkat yang melampaui satu kabupaten atau satu program

C. Materi Inti

C.1. Dari Program ke Gerakan

C.1.1. Mengapa AMP Sering Tetap Menjadi Program, Bukan Gerakan

PERBEDAAN FUNDAMENTAL:

PROGRAM:

  • Memiliki awal dan akhir
  • Bergantung pada pendanaan eksternal
  • Dijalankan oleh tim yang ditunjuk
  • Berhasil ketika target tercapai
  • Berhenti ketika proyek berakhir

GERAKAN:

  • Memiliki momentum yang melampaui satu siklus anggaran
  • Digerakkan oleh nilai dan keyakinan, bukan hanya mandat
  • Menyebar melalui jaringan, bukan hanya struktur hierarki
  • Berhasil ketika cara pandang berubah
  • Berlanjut karena orang percaya bahwa ini penting

KONDISI YANG MEMBUAT AMP TETAP MENJADI PROGRAM:
  • Tidak ada narasi yang kuat tentang MENGAPA ini penting — hanya HOW dan WHAT
  • Implementasi top-down: diwajibkan dari atas tanpa membangun kepemilikan di tingkat fasilitas dan komunitas
  • Tidak ada bukti dampak yang terlihat dan dikomunikasikan: orang tidak tahu bahwa AMP yang mereka lakukan menghasilkan perubahan
  • Bergantung pada champion tunggal yang memiliki motivasi personal
KONDISI YANG MEMUNGKINKAN AMP MENJADI GERAKAN:
  • NARASI YANG KUAT: "Setiap kematian ibu adalah sinyal — dan kita punya tanggung jawab untuk merespons sinyal itu"
  • KEPEMILIKAN DI SEMUA LEVEL: dari bidan desa hingga Bupati, masing-masing merasakan bahwa ini adalah tanggung jawab mereka
  • BUKTI DAMPAK YANG TERLIHAT: "Karena kita melakukan ini, ibu-ibu ini selamat"
  • JARINGAN PEMBELAJARAN: orang saling terhubung, berbagi, dan menginspirasi satu sama lain
  • KEPEMIMPINAN YANG TERSEBAR: bukan satu champion, tetapi banyak champion di banyak level

C.1.2. Teori Perubahan dalam Transformasi Sistem

TEORI PERUBAHAN (THEORY OF CHANGE) UNTUK AMP:

Pertanyaan teori perubahan:
"Jika kita melakukan X, maka Y akan terjadi, karena Z" — di mana Z adalah asumsi yang harus diuji

TEORI PERUBAHAN SEDERHANA YANG SERING DIGUNAKAN:
"Jika kita melakukan pertemuan AMP (X), maka kematian maternal akan berkurang (Y), karena tenaga kesehatan akan belajar dari setiap kematian dan mengubah praktik mereka (Z)"

Asumsi Z yang sering tidak terpenuhi:

  • Asumsi bahwa tenaga kesehatan yang menghadiri pertemuan AMP akan mengubah praktik — tidak otomatis terjadi tanpa mekanisme yang mendukung
  • Asumsi bahwa perubahan praktik individual cukup — sering kali perubahan sistem diperlukan
TEORI PERUBAHAN YANG LEBIH KOMPREHENSIF:

Untuk AMP menjadi efektif, diperlukan perubahan simultan di tiga level:

LEVEL 1 — INDIVIDU:

  • Tenaga kesehatan percaya bahwa setiap kematian dapat dipelajari
  • Mereka memiliki kompetensi untuk menganalisis dan merespons
  • Mereka merasa aman untuk melaporkan secara jujur

LEVEL 2 — ORGANISASI:

  • Fasilitas memiliki sistem yang mendukung praktik yang baik
  • Manajemen mengalokasikan sumber daya untuk implementasi rekomendasi
  • Ada akuntabilitas yang nyata

LEVEL 3 — SISTEM:

  • Kebijakan yang konsisten mendukung AMP
  • Insentif yang selaras: sistem tidak menghukum pelaporan yang jujur
  • Arus informasi yang lancar dari tingkat bawah ke kebijakan

AMP yang hanya bekerja di satu level tidak akan menghasilkan perubahan yang berkelanjutan

C.2. Kepemimpinan Transformasional dalam AMP

C.2.1. Profil Pemimpin AMP yang Efektif

KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL:
  • "Lakukan ini karena itu adalah tugas Anda"
  • Berbasis pada mandat dan insentif/sanksi
  • Efektif untuk compliance jangka pendek
  • Tidak membangun komitmen yang dalam
KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL:
  • "Mari kita ubah ini bersama karena kita semua percaya bahwa kematian ibu dapat dicegah"
  • Berbasis pada visi dan nilai bersama
  • Membangun komitmen yang tulus
  • Menghasilkan perubahan yang berkelanjutan

KARAKTERISTIK PEMIMPIN AMP YANG EFEKTIF:

VISIONER DAN NARATIF:

  • Dapat mengartikulasikan MENGAPA AMP penting dalam bahasa yang resonan bagi berbagai audience
  • Menggunakan cerita konkret, bukan hanya statistik
  • Membangun rasa urgensi tanpa menciptakan kecemasan yang melumpuhkan

PEMBANGUN KEPERCAYAAN:

  • Konsisten: berkata satu hal, melakukan hal yang sama
  • Transparan: berbagi informasi, termasuk yang tidak menyenangkan
  • Tidak menggunakan data AMP untuk menghukum — pernah — tidak pernah
  • Hadir: tidak hanya mendelegasikan tetapi aktif terlibat

ORCHESTRATOR, BUKAN PELAKSANA:

  • Membangun kapasitas orang lain, bukan melakukan sendiri
  • Menciptakan kondisi di mana banyak orang dapat memimpin di level mereka masing-masing
  • Menghubungkan orang dan sumber daya, bukan memiliki dan mengontrol

PEMBUAT MAKNA:

  • Membantu orang melihat bahwa pekerjaan mereka penting dan bermakna
  • Merayakan setiap kemajuan, sekecil apapun
  • Mengkonversi kegagalan menjadi pelajaran, bukan menjadi rasa malu
SELF-LEADERSHIP UNTUK SUBSPESIALIS OBGINSOS:

Sebagai Subsp.Obginsos:

  • Anda adalah yang paling terlatih secara teknis dalam sistem ini
  • Tetapi otoritas teknis tidak otomatis menghasilkan pengaruh untuk perubahan sistem
  • Pengaruh yang nyata datang dari kemampuan membangun hubungan, kepercayaan, dan narasi yang menggerakkan

Jebakan yang umum bagi spesialis:

  • Terlalu fokus pada teknis, tidak cukup pada manusia
  • Frustrasi dengan lambatnya perubahan sistem dibanding kecepatan tindakan klinis
  • Meremehkan kompleksitas sistem kesehatan sebagai sistem sosial

Prinsip pengaruh yang efektif:

  • Mulai dari yang sudah setuju dengan Anda — bangun koalisi sebelum berhadapan dengan resistensi
  • Cari quick wins yang visible untuk membuktikan bahwa perubahan mungkin
  • Gunakan data dari konteks sendiri — data lokal lebih persuasif dari data global

C.3. Ekosistem Pendukung AMP di Indonesia

C.3.1. Pemetaan Ekosistem

EKOSISTEM AMP INDONESIA:

LEVEL NASIONAL:

Kemenkes RI:

  • Direktorat Kesehatan Keluarga: penanggung jawab kebijakan AMP
  • Telah menerbitkan pedoman AMP
  • Program pelatihan fasilitator AMP nasional — belum merata implementasinya

Organisasi Profesi:

  • POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia): kewenangan profesi, standar kompetensi
  • IBI (Ikatan Bidan Indonesia): jaringan bidan yang kritis untuk implementasi di lapangan
  • IDI: relevan untuk dokter umum di Puskesmas

Akademisi dan Lembaga Penelitian:

  • Fakultas Kedokteran yang memiliki program Obginsos
  • BKKBN: data kependudukan yang relevan
  • BPS: data survei dan sensus
LEVEL INTERNASIONAL:

WHO:

  • Technical guidance MDSR yang menjadi referensi global
  • Technical assistance melalui WHO Indonesia
  • WHO Country Office: hubungan langsung dengan Kemenkes

UNFPA:

  • Salah satu mitra terbesar untuk program kematian maternal di Indonesia
  • Sering mendanai pelatihan fasilitator dan pengembangan sistem

UNICEF:

  • Relevan untuk komponen perinatal dari AMP

USAID / USAID MOMENTUM:

  • Program bilateral yang mendukung maternal health di beberapa provinsi

Global Network for Maternal and Newborn Health / WHO MMSR:

  • Komunitas praktik global untuk implementasi MDSR
LEVEL MASYARAKAT SIPIL:

LSM Kesehatan:

  • Yayasan Kesehatan Perempuan, PKBI, dan LSM lokal: dapat menjadi mitra untuk surveilans komunitas dan autopsi verbal
  • Hubungan dengan komunitas yang tidak dimiliki sistem formal

Media:

  • Dapat menjadi kekuatan untuk atau melawan AMP: pemberitaan yang menghukum tenaga kesehatan merusak blame-free culture
  • Perlu: media literacy untuk tenaga kesehatan dan media health literacy untuk jurnalis
MENGAKTIFKAN EKOSISTEM:

Strategi untuk Subsp.Obginsos:

INTERNAL PROFESIONAL:

  • POGI cabang: advokasi untuk standarisasi kompetensi fasilitator AMP sebagai kompetensi wajib SpOG
  • IBI: kemitraan untuk pelatihan bidan koordinator sebagai fasilitator AMP tingkat pertama

PEMERINTAH:

  • Dinkes Provinsi: advokasi untuk regulasi provinsi yang mewajibkan AMP dengan standar minimum
  • Bappenas/Bappeda: integrasi AMP dalam indikator RPJMN/RPJMD

AKADEMIK:

  • FK/Program Studi Obginsos: AMP sebagai kurikulum wajib, bukan elektif
  • Penelitian implementasi: apa yang bekerja dalam konteks Indonesia?

C.3.2. Pembelajaran dari Konteks Global

PELAJARAN DARI IMPLEMENTASI AMP DI BERBAGAI NEGARA:

INGGRIS — MBRRACE-UK (Mothers and Babies: Reducing Risk through Audits and Confidential Enquiries):

  • Sistem confidential enquiry tertua dan paling mapan di dunia
  • Berjalan sejak 1952
  • Kunci keberhasilan: kerahasiaan yang dijaga ketat secara hukum dan budaya, laporan yang dipublikasikan dan digunakan oleh profesi untuk perubahan standar
  • Pelajaran untuk Indonesia: investasi jangka panjang dalam sistem — tidak ada perubahan besar dalam 5 tahun pertama, tetapi setelah 20 tahun, dampaknya luar biasa

SOUTH AFRICA — NCCEMD (National Committee on Confidential Enquiries into Maternal Deaths):

  • Dibangun dalam konteks post-apartheid dengan sumber daya yang terbatas
  • Berhasil membangun sistem nasional dari hampir nol dalam 10 tahun
  • Kunci: kepemimpinan profesional yang kuat (SASOG — South African Society of O&G), kemitraan dengan pemerintah tanpa bergantung padanya
  • Pelajaran untuk Indonesia: organisasi profesi dapat menjadi backbone yang lebih stabil dari birokrasi pemerintah

TANZANIA — MDSR:

  • Membangun MDSR dengan sumber daya sangat terbatas di setting Afrika Sub-Sahara
  • Kunci: komunitas sebagai sumber informasi primer, bukan hanya fasilitas; kader kesehatan komunitas sebagai tulang punggung notifikasi
  • Pelajaran untuk Indonesia: komunitas bukan hanya objek — mereka adalah mitra aktif dalam surveilans

NEPAL — AMP dalam Konteks Post-Konflik:

  • Membangun sistem setelah konflik sipil yang merusak infrastruktur
  • Kunci: adaptasi yang radikal terhadap konteks, penggunaan teknologi sederhana (radio komunitas untuk notifikasi), fasilitasi oleh bidan komunitas
  • Pelajaran untuk Indonesia: kondisi yang sangat sulit bukan alasan untuk tidak memulai
APA YANG KONSISTEN DI SEMUA KONTEKS YANG BERHASIL:
  • Kerahasiaan yang dijaga tanpa kompromi
  • Kepemimpinan profesional yang tulus, bukan hanya birokrasi
  • Bukti dampak yang dikomunikasikan kembali ke pelaksana
  • Waktu: tidak ada yang berhasil dalam 1-2 tahun

YANG BERBEDA-BEDA DAN HARUS DIADAPTASI:

  • Format dan frekuensi review
  • Teknologi yang digunakan
  • Peran komunitas vs. fasilitas
  • Hubungan dengan pemerintah vs. organisasi profesi

C.4. Kontribusi Subspesialis Obginsos dalam Transformasi Sistem

C.4.1. Peran Strategis yang Unik

POSISI UNIK SUBSP.OBGINSOS:

Subsp.Obginsos adalah:

  • Klinisi dengan kompetensi tertinggi dalam penanganan kasus obstetri dan ginekologi sosial
  • Ahli yang memahami baik dimensi klinis maupun dimensi sistem kesehatan
  • Pemimpin yang dipercaya oleh komunitas obstetri dan kebidanan
  • Peneliti yang dapat menghasilkan bukti yang relevan untuk kebijakan

Tidak ada posisi lain dalam sistem kesehatan yang memiliki kombinasi ini.


PERAN YANG TIDAK DAPAT DIGANTIKAN:

TRANSLATOR ANTARA KLINIS DAN KEBIJAKAN:

  • Mengubah temuan klinis AMP menjadi argumen kebijakan
  • Mengubah kebijakan abstrak menjadi protokol klinis yang dapat diimplementasikan
  • Ini adalah gap yang sangat sering ada — klinisi tidak berbicara bahasa kebijakan, pembuat kebijakan tidak mengerti klinis

MENTOR DAN PEMBANGUNAN KAPASITAS SISTEM:

  • Melatih SpOG dan dokter umum dalam metodologi AMP
  • Membangun kapasitas fasilitator di kabupaten yang tidak memiliki SpOG
  • Mengembangkan instrumen dan panduan yang kontekstual

PENELITI IMPLEMENTASI:

  • Mengevaluasi apa yang bekerja dan tidak bekerja dalam konteks Indonesia
  • Menghasilkan bukti yang relevan untuk konteks lokal — tidak hanya mengadopsi temuan dari negara lain
  • Mempublikasikan dan berbagi melalui jaringan global

ADVOKAT KEBIJAKAN:

  • Bersuara di forum nasional dan internasional
  • Menggunakan data dari pengalaman lapangan untuk memperkuat argumen kebijakan
  • Membangun koalisi dengan profesi lain, LSM, dan pemangku kepentingan lain
DARI INDIVIDU KE LEGACY:

Pertanyaan untuk refleksi:

  • Sistem apa yang akan tetap berjalan setelah Anda tidak ada di posisi Anda?
  • Berapa banyak fasilitator yang Anda latih yang akan melatih fasilitator lain?
  • Kebijakan apa yang Anda advokasikan yang akan melindungi ibu-ibu bahkan setelah Anda pensiun?

Legacy seorang Subsp.Obginsos dalam sistem kesehatan maternal bukan hanya tentang berapa banyak kasus yang ia tangani secara klinis — tetapi tentang kondisi sistem yang ia tinggalkan bagi generasi berikutnya.

C.4.2. Menutup Lingkaran: AMP sebagai Cara Pandang

KEMBALI KE PERTANYAAN AWAL:

Di Modul 1, kita bertanya: "Mengapa sistem kesehatan yang sudah memiliki sumber daya, protokol, dan tenaga terlatih masih gagal menyelamatkan ibu?"

Setelah 10 modul:

Jawabannya bukan pada satu faktor. Ia ada di persimpangan antara:

  • Sistem yang tidak belajar dari kematian yang terjadi
  • Budaya yang melihat kematian sebagai nasib atau kegagalan individu yang memalukan, bukan sinyal sistem
  • Data yang ada tetapi tidak menjadi pengetahuan
  • Pengetahuan yang ada tetapi tidak menjadi tindakan
  • Tindakan yang ada tetapi tidak sistematis dan tidak diukur

AMP yang efektif memutus semua rantai ini secara bersamaan.

CARA PANDANG YANG MENGUBAH:

Dari:
"Ibu ini meninggal karena nasib / karena terlambat / karena bidan tidak kompeten"

Menjadi:
"Ibu ini meninggal karena sistem kita belum mampu memberinya kesempatan yang adil untuk selamat — dan kita bertanggung jawab untuk mengubah sistem itu"

Dari:
"Kita sudah melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan"

Menjadi:
"Kita sudah melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan dengan sistem yang ada sekarang — dan sekarang kita akan membangun sistem yang lebih baik"

KALIMAT TERAKHIR UNTUK MODUL INI:

Setiap kali seorang Subsp.Obginsos duduk dalam pertemuan AMP — apakah sebagai fasilitator, sebagai peserta, atau sebagai pelatih — ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar dari menganalisis satu kasus:

Ia sedang membangun sistem yang belajar.

Dan sistem yang belajar adalah sistem yang menyelamatkan nyawa.

D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen — Minggu 10)

Modul 10 adalah modul penutup Sesi 2 dan seluruh MK11 sebelum Quiz 2 dan Examination.

Pertanyaan 1:

Dr. Rahmat berhasil mengubah sistem AMP Sulawesi Tengah dari hampir tidak berfungsi menjadi mencakup 11 dari 13 kabupaten/kota dalam 18 bulan. Menggunakan kerangka teori perubahan tiga level (individu-organisasi-sistem) dari modul ini, analisis: (a) di level mana Dr. Rahmat mengintervensi paling efektif berdasarkan narasi perjalanannya sejak Modul 1 hingga Modul 10; (b) level mana yang kemungkinan masih paling lemah dan mengapa; (c) apa satu hal yang belum dilakukan yang, jika dilakukan, akan mengkonversi "program yang berhasil" ini menjadi "gerakan yang berkelanjutan"?

Pertanyaan 2:

Anda akan menyelesaikan pendidikan Subspesialis Obginsos dan kembali ke daerah atau institusi Anda masing-masing. Menggunakan refleksi dari seluruh MK11, rancang secara singkat "theory of change" personal Anda: (a) perubahan apa yang ingin Anda wujudkan dalam sistem kesehatan maternal di konteks Anda; (b) apa peran spesifik yang hanya dapat Anda mainkan sebagai Subsp.Obginsos; (c) apa yang akan Anda lakukan dalam 100 hari pertama, dan mengapa urutan itu penting?

E. Rangkuman

  1. Perbedaan antara AMP sebagai program dan AMP sebagai gerakan terletak pada apakah perubahan cara pandang terjadi — dari melihat kematian ibu sebagai nasib atau kegagalan individual yang memalukan menjadi melihatnya sebagai sinyal sistem yang menuntut respons; gerakan tumbuh ketika narasi ini menyebar melalui jaringan dan kepemilikan terbagi di semua level, bukan hanya dijalankan oleh satu champion atas mandat
  2. Kepemimpinan transformasional yang dibutuhkan untuk membangun ekosistem AMP berbeda dari kepemimpinan teknis klinis: ia menuntut kemampuan membangun kepercayaan yang konsisten, mengorkestrasi kapasitas banyak orang, membuat makna dari pekerjaan yang emosionally demanding, dan mempertahankan visi jangka panjang di tengah hambatan jangka pendek yang terus muncul
  3. Ekosistem AMP yang efektif mencakup aktor di semua level — Kemenkes dan regulasi nasional, organisasi profesi yang memberikan backbone yang lebih stabil dari birokrasi, mitra internasional yang menyediakan technical assistance, dan masyarakat sipil yang memiliki akses ke komunitas; kunci mengaktifkan ekosistem adalah kemampuan mengidentifikasikan kepentingan setiap aktor dan menemukan titik temu dengan agenda perubahan yang diadvokasikan
  4. Pelajaran konsisten dari implementasi AMP global — dari MBRRACE-UK yang berjalan sejak 1952 hingga Tanzania dan Nepal yang membangun dari nol — adalah bahwa kerahasiaan yang tidak dikompromikan, kepemimpinan profesional yang tulus, bukti dampak yang dikomunikasikan, dan kesabaran jangka panjang adalah prasyarat universal; sementara format, teknologi, dan peran komunitas vs. fasilitas harus diadaptasi sesuai konteks
  5. Subsp.Obginsos memiliki posisi yang tidak tergantikan sebagai translator antara klinis dan kebijakan, mentor yang membangun kapasitas sistem, peneliti implementasi yang menghasilkan bukti kontekstual, dan advokat yang bersuara di forum yang mempengaruhi nasib jutaan perempuan; legacy terbesar seorang Subsp.Obginsos bukan pada jumlah kasus yang ia tangani tetapi pada kondisi sistem yang ia tinggalkan — sistem yang belajar dari setiap kematian dan terus membaik

F. Referensi

  1. Pattinson RC, Say L, Makin JD, Bastos MH. Critical incident audit and feedback to improve perinatal and maternal mortality and morbidity. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2005;(4):CD002961.
    DOI: https://doi.org/10.1002/14651858.CD002961.pub2
  2. Knight M, Bunch K, Tuffnell D, et al. (eds.). Saving Lives, Improving Mothers' Care. Oxford: MBRRACE-UK; 2023.
    URL: https://www.npeu.ox.ac.uk/mbrrace-uk
  3. Pattinson RC, Bergh AM, Theron G, Mudokwenyu-Rawdon C. Implementing the ESMOE programme in South Africa: lessons learnt. South African Journal of Obstetrics and Gynaecology. 2018;24(1):3-7.
    DOI: https://doi.org/10.7196/SAJOG.2018.v24i1.1299
  4. Shiffman J, Smith S. Generation of political priority for global health initiatives: a framework and case study of maternal mortality. Lancet. 2007;370(9595):1370-1379.
    DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(07)61579-7
  5. Berwick DM. Improvement, trust, and the healthcare workforce. BMJ Quality & Safety. 2003;12(Suppl 1):i2-i6.
    DOI: https://doi.org/10.1136/qhc.12.suppl_1.i2
  6. WHO. Maternal Death Surveillance and Response: Technical Guidance. Geneva: WHO; 2013.
    URL: https://www.who.int/reproductivehealth/publications/monitoring/9789241506083/en
  7. Senge PM. The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization. New York: Doubleday; 1990.
  8. Kotter JP. Leading Change. Boston: Harvard Business Review Press; 1996.
  9. Ronsmans C, Graham WJ. Maternal mortality: who, when, where, and why. Lancet. 2006;368(9542):1189-1200.
    DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(06)69380-X
  10. Kementerian Kesehatan RI. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020–2024. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
    URL: https://www.kemkes.go.id

Malang, Maret 2026
Penyusun

QUIZ 2 — SESI 2 (MINGGU 10)

Mata Kuliah: Audit Maternal Perinatal & Surveilans Respons | Semester: 3 | Periode: 1 | Sesi: 2

PETUNJUK TEKNIS

JenisKuis Pilihan Ganda
MingguMinggu ke-10
Jumlah Soal10 soal
Waktu30 menit
Nilai per Soal10 poin
Total Nilai100 poin
Bobot dalam MK10% dari nilai akhir
Cakupan MateriModul 6–10 (Sesi 2)
SifatClosed book; dikerjakan secara individual

Soal 1
Sebuah Puskesmas PONED melakukan pertemuan AMP setelah kematian maternal akibat perdarahan postpartum. Tim mengidentifikasikan bahwa bidan yang bertugas tidak melakukan AMTSL karena tidak tahu prosedurnya. Menggunakan kerangka hierarki penyebab, pernyataan manakah yang paling tepat menggambarkan posisi "bidan tidak mengetahui prosedur AMTSL" dalam analisis?

  • A. Root cause, karena ini adalah alasan paling mendasar mengapa kematian terjadi
  • B. Contributing factor tingkat individu, karena ia menjelaskan mengapa CDP (tidak dilakukannya AMTSL) dapat terjadi, tetapi masih perlu digali lebih dalam mengapa kompetensi ini tidak dimiliki
  • C. Care delivery problem, karena ini adalah masalah dalam pemberian pelayanan yang menyimpang dari standar
  • D. Gejala, karena ini hanya manifestasi dari masalah yang lebih dalam di tingkat sistem

Soal 2
Tim AMP Kabupaten X menggunakan metode 5 Whys untuk menganalisis kematian maternal akibat eklamsia. Setelah menggali lima tingkat "mengapa," mereka menemukan: "Tidak ada sistem monitoring kesiapan PONED yang diaudit oleh Dinkes." Manakah pernyataan yang paling akurat tentang temuan ini?

  • A. Ini pasti merupakan root cause karena penggalian sudah sampai tingkat kelima
  • B. Ini kemungkinan root cause jika tidak dapat digali lebih dalam lagi dengan pertanyaan "mengapa" yang menghasilkan jawaban yang actionable
  • C. Ini adalah contributing factor karena masih berada di level organisasi, bukan level individu
  • D. Metode 5 Whys tidak tepat untuk kasus eklamsia — seharusnya menggunakan Fishbone

Soal 3
Dalam London Protocol, "tidak ada MgSO4 di Puskesmas saat pasien dengan impending eclampsia datang" paling tepat dikategorikan sebagai:

  • A. Root cause, karena ini langsung menyebabkan kematian
  • B. Contributing factor kategori material/peralatan
  • C. Care delivery problem, karena mewakili kegagalan dalam pemberian pelayanan yang sesuai standar
  • D. Contributing factor kategori organisasi dan manajemen

Soal 4
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Y mempresentasikan data AKI yang menunjukkan penurunan dari 320 menjadi 210/100.000 KH dalam lima tahun. Sebelum menerima klaim ini sebagai bukti keberhasilan, pertanyaan kritis yang paling penting untuk diajukan adalah:

  • A. Apakah penyebab kematian sudah diklasifikasikan menggunakan ICD-MM?
  • B. Apakah perubahan completeness pelaporan dapat menjelaskan sebagian dari penurunan yang terlihat?
  • C. Apakah jumlah fasilitator AMP meningkat dalam periode yang sama?
  • D. Apakah pertemuan AMP dilakukan secara bulanan atau triwulanan?

Soal 5
Seorang Subsp.Obginsos merancang laporan AMP tahunan untuk diserahkan kepada Kepala Dinas yang baru. Prinsip mana yang paling penting untuk memastikan laporan dibaca dan ditindaklanjuti?

  • A. Laporan harus sepanjang mungkin untuk menunjukkan kelengkapan analisis
  • B. Executive summary harus memuat semua detail teknis agar tidak ada informasi yang hilang
  • C. Laporan harus dirancang dengan audience yang spesifik — Kepala Dinas baru memerlukan narasi yang jelas, angka kunci yang tidak dapat diabaikan, dan call to action yang konkret
  • D. Laporan harus menggunakan terminologi ICD-MM secara konsisten agar presisi

Soal 6
Kabupaten Z memiliki anggaran AMP yang sangat terbatas dan fasilitator yang belum terlatih. Tim mempertimbangkan dua opsi: (1) melakukan review mendalam untuk 3 kasus terpilih dengan analisis RCA lengkap; (2) melakukan review singkat untuk semua 12 kematian yang terjadi tanpa RCA mendalam. Menggunakan prinsip elemen must-have AMP, opsi mana yang lebih baik?

  • A. Opsi 1, karena kualitas analisis lebih penting dari kuantitas kasus yang di-review
  • B. Opsi 2, karena review yang tidak selektif adalah elemen must-have yang tidak dapat dikompromikan, meskipun kedalaman analisis dikurangi
  • C. Keduanya setara — tidak ada bukti bahwa salah satu lebih efektif
  • D. Opsi 1, karena RCA yang lengkap menghasilkan rekomendasi yang lebih baik

Soal 7
Seorang fasilitator AMP menghadapi situasi di mana Kepala Puskesmas mendominasi diskusi dan selalu mengarahkan analisis ke "keterlambatan keluarga." Teknik fasilitasi yang paling tepat adalah:

  • A. Memotong pembicaraan Kepala Puskesmas dan langsung memberikan analisis yang benar
  • B. Mengajukan pertanyaan terbuka yang mengundang perspektif dari anggota lain: "Sebelum kita simpulkan, adakah rekan lain yang melihat faktor lain dari sisi fasilitas atau sistem yang mungkin berkontribusi?"
  • C. Mengakhiri pertemuan dan menjadwalkan ulang karena dinamika kelompok tidak produktif
  • D. Mencatat kesimpulan Kepala Puskesmas dan melanjutkan ke kasus berikutnya untuk menghindari konflik

Soal 8
Dalam konteks MDSR, "respons" yang paling baik menggambarkan komponen yang sering lemah di kabupaten-kabupaten Indonesia adalah:

  • A. Kemampuan fasilitas untuk merespons kegawatan obstetri secara klinis
  • B. Mekanisme terstruktur untuk menindaklanjuti rekomendasi dari review kematian dengan penanggung jawab yang jelas, tenggat waktu, dan monitoring implementasi
  • C. Kecepatan sistem kesehatan merespons notifikasi kematian yang masuk
  • D. Kemampuan Dinkes untuk merespons pertanyaan dari media tentang kematian maternal

Soal 9
Salah satu pilar keberlanjutan sistem AMP adalah "integrasi ke siklus perencanaan." Titik masuk yang paling strategis dalam siklus perencanaan APBD daerah untuk memastikan rekomendasi AMP mendapat alokasi anggaran adalah:

  • A. Saat APBD sudah disahkan di akhir tahun — agar dapat diimplementasikan tahun berikutnya
  • B. Saat pembahasan RAPBD di DPRD — karena legislatif dapat memaksa eksekutif mengalokasikan anggaran
  • C. Saat penyusunan RKPD dan KUA-PPAS (Mei–Juni) — karena ini adalah saat prioritas dan pagu anggaran ditetapkan sebelum pembahasan DPRD
  • D. Saat Musrenbang kecamatan — karena ini adalah level yang paling dekat dengan masalah

Soal 10
Perbedaan yang paling fundamental antara AMP sebagai "program" dan AMP sebagai "gerakan" adalah:

  • A. Gerakan menggunakan lebih banyak teknologi digital dibanding program
  • B. Program bergantung pada anggaran proyek eksternal sementara gerakan menggunakan APBD
  • C. Gerakan menghasilkan perubahan cara pandang yang menyebar melalui jaringan dan kepemilikan yang terbagi, sementara program bergantung pada mandat dan berhenti ketika mandat atau pendanaan berakhir
  • D. Program dilaksanakan oleh pemerintah sementara gerakan dilaksanakan oleh masyarakat sipil

KUNCI JAWABAN DAN PEMBAHASAN

(Untuk Dosen — Tidak Dibagikan kepada Mahasiswa)

Soal 1 — Jawaban: B
"Bidan tidak mengetahui prosedur AMTSL" adalah contributing factor tingkat individu (kategori pengetahuan dan keterampilan dalam London Protocol), bukan root cause. Ia menjelaskan mengapa CDP (tidak dilakukannya AMTSL) dapat terjadi — tetapi masih perlu digali: mengapa kompetensi ini tidak dimiliki? Apakah tidak ada pelatihan? Apakah pelatihan ada tetapi tidak diikuti? Mengapa tidak diikuti? Root cause kemungkinan ada di level sistem pelatihan atau manajemen SDM. CDP sendiri adalah "AMTSL tidak dilakukan" — bukan "bidan tidak tahu."

Soal 2 — Jawaban: B
Dalam metode 5 Whys, jumlah "mengapa" (lima) adalah panduan, bukan aturan absolut. Yang menentukan apakah sudah sampai root cause adalah apakah jawaban yang ditemukan: (1) tidak dapat digali lebih dalam lagi, atau (2) sudah menunjuk pada kondisi yang jika diubah akan mencegah semua masalah di atasnya. "Tidak ada sistem monitoring kesiapan PONED yang diaudit oleh Dinkes" memenuhi kriteria ini — jika sistem monitoring ada, maka ketidaktersediaan MgSO4 (dan obat emergensi lain) akan tertangkap sebelum menjadi masalah. Jawaban A salah karena angka 5 bukan patokan absolut.

Soal 3 — Jawaban: C
"Tidak ada MgSO4 di Puskesmas saat pasien datang" adalah care delivery problem — ia mewakili kegagalan dalam pemberian pelayanan yang menyimpang dari standar (standar mewajibkan tersedianya MgSO4 di fasilitas PONED). Ia bukan root cause (masih perlu digali mengapa tidak ada). Ia bukan contributing factor langsung (dalam London Protocol, contributing factor adalah yang menjelaskan mengapa CDP terjadi). Jawaban D adalah contributing factor yang mungkin menjelaskan mengapa CDP ini terjadi (tidak ada sistem manajemen stok), tetapi bukan kategori untuk kejadian "tidak adanya obat" itu sendiri.

Soal 4 — Jawaban: B
Pertanyaan paling kritis adalah tentang completeness pelaporan — apakah penurunan AKI mencerminkan penurunan kematian sesungguhnya, atau penurunan kelengkapan pelaporan? Ini adalah confounder utama yang harus dieksklusi sebelum menerima klaim keberhasilan. Jawaban A, C, dan D relevan untuk kualitas sistem AMP tetapi tidak secara langsung mengancam validitas klaim penurunan AKI.

Soal 5 — Jawaban: C
Prinsip paling penting dalam penulisan laporan yang efektif adalah merancangnya untuk audience yang spesifik. Kepala Dinas baru memerlukan: narasi yang jelas tentang situasi, angka kunci yang tidak dapat diabaikan (bukan semua detail teknis), dan call to action yang konkret tentang apa yang diminta darinya. Jawaban A (laporan panjang) dan B (executive summary berisi detail teknis) bertentangan dengan prinsip komunikasi yang efektif. Jawaban D relevan untuk akurasi klasifikasi tetapi bukan prinsip terpenting untuk memastikan laporan ditindaklanjuti.

Soal 6 — Jawaban: B
Review yang tidak selektif (semua kematian di-review) adalah elemen must-have yang tidak dapat dikompromikan. Memilih 3 kasus berarti sistem secara sistematis melewatkan 9 kematian yang mungkin memiliki root cause yang berbeda dan penting. Review singkat untuk semua kasus lebih baik karena mempertahankan prinsip tidak selektif — dengan catatan bahwa kasus-kasus yang memerlukan analisis lebih dalam dapat di-follow up setelah review awal.

Soal 7 — Jawaban: B
Teknik fasilitasi yang tepat untuk mengelola dominasi adalah mengajukan pertanyaan terbuka yang mengundang perspektif lain tanpa konfrontasi langsung. Pertanyaan "adakah rekan lain yang melihat faktor lain?" mengembalikan diskusi ke kelompok dan membuka ruang untuk perspektif yang berbeda tanpa mempermalukan Kepala Puskesmas. Jawaban A (memotong) menciptakan konfrontasi. Jawaban C (menghentikan pertemuan) tidak proporsional. Jawaban D (mencatat dan melanjutkan) membiarkan analisis yang bias tidak ditantang.

Soal 8 — Jawaban: B
Komponen "response" dalam MDSR bukan tentang respons klinis terhadap kegawatan (itu komponen kesiapan fasilitas), melainkan tentang mekanisme terstruktur untuk menindaklanjuti rekomendasi dari review. Ini adalah komponen yang paling konsisten lemah di Indonesia: review dilakukan, rekomendasi ditulis, tetapi mekanisme untuk memastikan rekomendasi diimplementasikan — dengan penanggung jawab yang jelas, tenggat waktu, dan monitoring — sering tidak ada.

Soal 9 — Jawaban: C
Titik masuk yang paling strategis adalah saat penyusunan RKPD dan KUA-PPAS (Mei–Juni), karena inilah saat prioritas dan pagu anggaran per bidang ditetapkan oleh eksekutif sebelum masuk ke pembahasan DPRD. Jika program sudah masuk dengan angka di tahap ini, kemungkinan lolos ke APBD final jauh lebih besar. Musrenbang (D) penting tetapi terjadi sebelum RKPD dan hasilnya tidak selalu diakomodasi. Pembahasan DPRD (B) adalah last resort, bukan titik masuk utama. Setelah APBD disahkan (A) sudah terlambat.

Soal 10 — Jawaban: C
Perbedaan fundamental antara program dan gerakan adalah pada perubahan cara pandang dan distribusi kepemilikan. Gerakan tumbuh ketika narasi menyebar melalui jaringan dan orang percaya bahwa ini penting — bukan karena diwajibkan atau didanai. Jawaban B (anggaran APBD vs. proyek) adalah aspek praktis yang relevan tetapi bukan perbedaan yang paling fundamental. Jawaban A dan D tidak akurat.

EXAMINATION — UJIAN AKHIR MK11 (MINGGU 11)

Audit Maternal Perinatal & Surveilans Respons
Semester 3 | Periode 1 | MK11 (4 SKS)

Identitas Ujian

Mata KuliahAudit Maternal Perinatal & Surveilans Respons
Kode MKMK11
SKS4 SKS
Semester / PeriodeSemester 3 / Periode 1
MingguMinggu ke-11
Bobot dalam MK30% dari nilai akhir
Waktu Pengerjaan180 menit (3 jam)
Sifat UjianOpen notes; dikerjakan secara individual
Format LuaranEssay analitik; dikumpulkan dalam format Word atau PDF
Panjang JawabanTotal 2.500–3.500 kata untuk seluruh ujian

PETUNJUK UJIAN

  1. Ujian ini terdiri dari empat bagian dengan total nilai 100 poin; alokasikan waktu secara proporsional
  2. Setiap jawaban harus menunjukkan penguasaan konsep, kemampuan aplikasi dalam konteks nyata, dan kualitas argumentasi — bukan hanya reproduksi definisi
  3. Referensi ke materi modul diperbolehkan; namun jawaban yang hanya meringkas materi tanpa analisis akan mendapat nilai terbatas
  4. Skenario dalam ujian ini adalah sintetis dan hanya untuk tujuan pendidikan — semua nama dan data bersifat fiktif

SKENARIO UJIAN

"Warisan dan Tantangan"

Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. AKI kabupaten berdasarkan laporan rutin tahun lalu: 289/100.000 KH — salah satu yang tertinggi di provinsi. Dr. Sinta, SpOG., Subsp.Obginsos., baru saja menyelesaikan pendidikan subspesialisasinya dan ditugaskan sebagai konsultan teknis Dinkes kabupaten ini selama dua tahun.

Dalam tiga minggu pertama, ia melakukan rapid assessment dan menemukan situasi berikut:

Temuan tentang sistem AMP:

  • Sistem AMP "ada" secara administratif — ada SK tim AMP, ada formulir, ada jadwal pertemuan triwulanan
  • Dalam 12 bulan terakhir: 3 dari 4 pertemuan triwulanan dilaksanakan; dari 27 kematian maternal yang dilaporkan, 19 memiliki formulir AMP yang terisi (tidak semua lengkap); tidak ada yang dilengkapi autopsi verbal
  • Dari 3 pertemuan yang dilaksanakan: setiap pertemuan menghasilkan rata-rata 4-5 rekomendasi; total 13 rekomendasi tercatat dalam setahun
  • Tindak lanjut rekomendasi: 3 dari 13 rekomendasi dikonfirmasi sudah diimplementasikan; 10 sisanya tidak jelas statusnya

Temuan tentang kualitas AMP:

  • Dr. Sinta menghadiri satu pertemuan AMP sebagai observer: pertemuan 2 jam dengan 8 peserta; diskusi didominasi oleh satu dokter senior; 4 dari 5 kasus yang di-review disimpulkan dengan faktor utama "keterlambatan keluarga" tanpa analisis lebih dalam; fasilitator tidak aktif menggali atau merestrukturisasi diskusi

Temuan tentang data surveilans:

  • Estimasi Dr. Sinta bahwa angka 27 kematian kemungkinan under-estimate: dari 3 kecamatan terpencil, kader menyebut ada kematian yang "tidak pernah dilaporkan ke mana-mana" dalam setahun terakhir
  • Tidak ada autopsi verbal yang pernah dilakukan — semua analisis berbasis rekam medis fasilitas
  • Rekapitulasi penyebab kematian dari rekam medis: perdarahan 11 kasus (41%), hipertensi dalam kehamilan 8 kasus (30%), sepsis 3 kasus (11%), lain-lain 5 kasus (18%)

Temuan tentang kapasitas dan konteks:

  • Tim Kesga Dinkes: 4 orang (1 Kepala Seksi + 3 staf)
  • 12 Puskesmas: 4 PONED, 8 non-PONED
  • 1 RSUD tipe B dengan 2 SpOG (keduanya kooperatif)
  • Kepala Dinas: sudah 3 tahun menjabat; familiar dengan AMP tetapi tidak aktif mendorong
  • Bupati: baru terpilih 6 bulan lalu dengan agenda "Luwu Utara Sehat"
  • Musrenbang kabupaten: 10 minggu lagi
  • Anggaran yang dapat dimobilisasi untuk AMP: Rp 90 juta/tahun

PERTANYAAN UJIAN

Bagian A — Diagnosis Komprehensif (25 poin)
Lakukan diagnosis sistem AMP Kabupaten Luwu Utara secara komprehensif, yang mencakup:

  1. Nilai kondisi sistem saat ini menggunakan dua dimensi: (a) kelengkapan komponen — apakah semua komponen MDSR ada; dan (b) kualitas fungsi — apakah komponen yang ada berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk setiap komponen MDSR, berikan penilaian pada kedua dimensi tersebut beserta evidensnya dari rapid assessment
  2. Identifikasikan tiga masalah paling kritis yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan jelaskan urutan prioritasnya — menggunakan argumen yang mencakup dampak pada kualitas data, kualitas analisis, dan kualitas respons sistem
  3. Identifikasikan dua peluang strategis dalam konteks Luwu Utara yang dapat dimanfaatkan Dr. Sinta untuk mempercepat perbaikan sistem — peluang yang mungkin tidak akan ada 12 bulan lagi

Bagian B — Analisis Kasus dengan RCA (25 poin)
Dari rekapitulasi data Dr. Sinta, perdarahan postpartum adalah penyebab terbesar kematian maternal (11 kasus, 41%). Dalam pertemuan AMP yang ia observasi, salah satu kasus perdarahan postpartum disimpulkan hanya dengan "terlambat karena jarak jauh dari rumah ke Puskesmas."

  1. Menggunakan metode 5 Whys, tunjukkan bagaimana analisis kasus ini seharusnya dilakukan secara lebih mendalam. Mulai dari "ibu meninggal akibat perdarahan postpartum" dan gali hingga Anda mengidentifikasikan root cause yang paling mungkin. Tunjukkan setiap tingkat penggalian secara eksplisit
  2. Bandingkan kesimpulan "terlambat karena jarak" dengan root cause yang Anda identifikasikan: (a) jelaskan mengapa kesimpulan awal adalah bias sistematis yang khas dalam pertemuan AMP yang tidak difasilitasi dengan baik; (b) apa konsekuensi dari kesimpulan yang salah ini terhadap rekomendasi yang dihasilkan dan kematian-kematian berikutnya
  3. Rancang dua rekomendasi SMART+ berdasarkan root cause yang Anda identifikasikan, yang berbeda dari rekomendasi generik "pastikan stok obat tersedia" atau "perkuat sistem rujukan"

Bagian C — Desain Intervensi Prioritas (25 poin)
Dr. Sinta memiliki waktu 10 minggu sebelum Musrenbang dan anggaran yang dapat dimobilisasi Rp 90 juta/tahun.

  1. Rancang intervensi prioritas 10 minggu yang berfokus pada tiga hal yang dapat dilakukan sebelum Musrenbang untuk: (a) memperbaiki kualitas satu pertemuan AMP berikutnya; (b) meningkatkan completeness pelaporan kematian dari kecamatan terpencil; (c) menghasilkan satu "bukti dampak" yang dapat digunakan dalam presentasi Musrenbang
  2. Rancang paket advokasi untuk Musrenbang yang mencakup: (a) tiga angka kunci yang akan Dr. Sinta gunakan dan penjelasan mengapa masing-masing dipilih; (b) satu narasi konkret (bukan hipotesis) yang akan ia gunakan untuk menciptakan urgensi; (c) dua tindakan spesifik yang diminta dari forum Musrenbang — beserta estimasi biaya dan justifikasinya
  3. Identifikasikan satu risiko terbesar dalam rencana 10 minggu Dr. Sinta dan rancang strategi mitigasi yang konkret

Bagian D — Refleksi Transformasional (25 poin)
Bagian ini tidak memiliki jawaban yang "benar" atau "salah" — ia dinilai berdasarkan kedalaman refleksi, koherensi argumen, dan relevansi dengan konteks yang dipelajari.

  1. Dr. Sinta ditugaskan di Luwu Utara selama dua tahun. Menggunakan konsep teori perubahan tiga level (individu-organisasi-sistem) dari Modul 10, rancang theory of change untuk dua tahun penugasannya: (a) di level mana ia akan mengintervensi paling intensif dan mengapa; (b) apa yang ia harapkan terjadi di level yang tidak ia intervensi secara langsung; (c) apa yang ia akan lakukan untuk memastikan perubahan yang ia mulai tidak berhenti ketika penugasannya selesai
  2. Salah satu tantangan terbesar yang akan Dr. Sinta hadapi adalah dokter senior yang mendominasi pertemuan AMP dan selalu mengarahkan analisis ke "keterlambatan keluarga." Ia adalah dokter yang dihormati dengan 20 tahun pengalaman dan memiliki pengaruh besar terhadap tenaga kesehatan lain di kabupaten. Rancang strategi Dr. Sinta untuk mengelola dinamika ini dalam jangka panjang — strategi yang tidak konfrontatif tetapi tidak juga membiarkan bias analitik terus merusak kualitas AMP
  3. Pada akhir dua tahun penugasannya, Dr. Sinta ingin meninggalkan sistem yang lebih baik dari yang ia temukan. Dalam satu paragraf yang kohesif, artikan apa arti "lebih baik" bagi Anda — bukan dalam angka AKI yang turun, tetapi dalam perubahan kondisi sistem, kapasitas, dan budaya yang Anda anggap sebagai warisan yang bermakna dari seorang Subsp.Obginsos

RUBRIK PENILAIAN

Bagian A — Diagnosis Komprehensif (25 poin)

KomponenIndikator PenilaianPoin
Penilaian komponen MDSRKetepatan penilaian dua dimensi; penggunaan evidens dari rapid assessment; tidak ada komponen yang terlewat10
Tiga masalah kritis + urutan prioritasKetajaman identifikasi; kualitas argumen prioritisasi; kedalaman pemahaman tentang rantai dampak10
Dua peluang strategisKreativitas dan ketepatan identifikasi peluang; pemahaman bahwa peluang bersifat kontekstual dan temporal5

Bagian B — Analisis Kasus dengan RCA (25 poin)

KomponenIndikator PenilaianPoin
5 Whys yang diterapkan secara eksplisitKedalaman penggalian; setiap tingkat ditunjukkan secara eksplisit; root cause yang diidentifikasikan dapat diargumentasikan10
Analisis bias "terlambat karena jarak"Kedalaman pemahaman tentang mekanisme bias; konsekuensi yang diargumentasikan dengan tepat8
Dua rekomendasi SMART+Spesifisitas; terhubung ke root cause yang diidentifikasikan; berbeda dari rekomendasi generik; realisme7

Bagian C — Desain Intervensi Prioritas (25 poin)

KomponenIndikator PenilaianPoin
Intervensi prioritas 10 mingguRealisme dengan kapasitas yang ada; sekuensing yang logis; ketiga sub-tujuan terpenuhi secara kohesif10
Paket advokasi MusrenbangKetepatan pilihan angka kunci dan justifikasi; kekuatan narasi; spesifisitas dan realisme permintaan tindakan + estimasi biaya10
Identifikasi risiko + mitigasiKetajaman identifikasi risiko yang paling kritis; realisme dan spesifisitas strategi mitigasi5

Bagian D — Refleksi Transformasional (25 poin)

KomponenIndikator PenilaianPoin
Theory of change dua tahunKedalaman analisis tiga level; koherensi antara intervensi dan harapan perubahan; strategi keberlanjutan setelah penugasan selesai10
Strategi mengelola dokter seniorKepekaan terhadap kompleksitas dinamika; kreativitas strategi yang tidak konfrontatif; pemahaman tentang pengaruh sosial dalam perubahan8
Definisi "warisan yang bermakna"Kedalaman refleksi; kemampuan melampaui angka menuju perubahan kondisi sistem; koherensi dengan nilai yang dipelajari sepanjang MK117

KRITERIA PENILAIAN KUALITATIF

Rentang NilaiDeskripsi
90–100Jawaban menunjukkan penguasaan konsep yang menyeluruh, kemampuan sintesis yang tinggi, dan refleksi yang melampaui materi yang diajarkan; rekomendasi dan analisis bersifat original dan kontekstual; argumen kohesif dan didukung oleh evidens yang tepat
80–89Jawaban menunjukkan pemahaman yang baik tentang konsep kunci dan kemampuan aplikasi yang solid; beberapa area mungkin kurang mendalam atau kurang orisinal tetapi tidak ada kesalahan konseptual yang signifikan
70–79Jawaban menunjukkan pemahaman dasar yang memadai; aplikasi cenderung tekstual (mengulang materi) dengan analisis kontekstual yang terbatas; rekomendasi cenderung generik
60–69Jawaban menunjukkan pemahaman parsial; ada kesalahan konseptual yang teridentifikasi; kemampuan aplikasi terbatas
< 60Jawaban tidak menunjukkan penguasaan konsep yang memadai atau tidak relevan dengan pertanyaan

REFERENSI MINIMAL YANG DISARANKAN

  1. WHO. Maternal Death Surveillance and Response. Geneva: WHO; 2013.
  2. Vincent C, Taylor-Adams S, Stanhope N. Framework for analysing risk and safety. BMJ. 1998;316:1154-1157.
  3. Shiffman J, Smith S. Generation of political priority. Lancet. 2007;370:1370-1379.
  4. Say L, Souza JP, Pattinson RC. Maternal near miss. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol. 2009;23(3):287-296.
  5. WHO. Beyond the Numbers. Geneva: WHO; 2004.
  6. Kemenkes RI. Pedoman AMP. Jakarta: Kemenkes; 2010.

Malang, Maret 2026
Penyusun