Audit Maternal Perinatal: Fondasi, Sejarah, dan Relevansi untuk Sistem Kesehatan Indonesia

Semester 3 | Periode 1 | MK Audit Maternal Perinatal & Surveilans Respons (4 SKS) | Sesi 1 | Modul 1
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
Malang, Maret 2026

A. Deskripsi Modul

Februari 2023. Dr. Rahmat, SpOG., Subsp.Obginsos., baru tiga minggu menjabat sebagai anggota tim teknis Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah ketika ia diminta untuk mereview laporan AMP (Audit Maternal Perinatal) dari 13 kabupaten/kota selama setahun terakhir.

Yang ia temukan membuatnya diam lama di depan layar komputer.

Dari 13 kabupaten, delapan menyerahkan laporan AMP yang identik strukturnya — kolom-kolom terisi, narasi kasus ada, kesimpulan ada. Tetapi ketika ia membaca lebih seksama, sesuatu terasa tidak pas: hampir semua kasus berakhir dengan kesimpulan yang sama, ditulis dengan frasa yang hampir verbatim: "Kematian terjadi karena keterlambatan keluarga dalam mengambil keputusan rujukan." Faktor sistem — ketersediaan transportasi, kesiapan fasilitas, kompetensi petugas, rantai komunikasi — hampir tidak pernah muncul sebagai faktor utama.

Lima kabupaten lainnya menyerahkan laporan yang jauh lebih tipis, jelas ditulis tergesa-gesa, dengan data yang tidak lengkap. Dua kabupaten tidak menyerahkan laporan sama sekali, meskipun secara administratif sudah terdaftar sebagai "sudah melaksanakan AMP."

Dr. Rahmat menutup laptopnya dan berpikir: Apakah yang selama ini kita lakukan ini benar-benar audit? Atau hanya ritual administratif yang tidak menghasilkan apapun?

Pertanyaan Dr. Rahmat bukan pertanyaan yang unik. Ia adalah pertanyaan yang telah diajukan oleh para ahli kesehatan maternal di seluruh dunia selama beberapa dekade. Jawabannya membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang apa sebenarnya audit maternal perinatal — dan mengapa, ketika dilakukan dengan benar, ia menjadi salah satu alat paling kuat yang dimiliki sistem kesehatan untuk melindungi ibu dan bayi.

Modul ini adalah titik berangkat: membangun pemahaman tentang fondasi konseptual, sejarah perkembangan, dan relevansi audit maternal perinatal dalam konteks sistem kesehatan Indonesia yang sedang bertransformasi.

B. Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Menjelaskan definisi, tujuan, dan prinsip-prinsip dasar Audit Maternal Perinatal (AMP) dalam kerangka peningkatan kualitas sistem kesehatan
  2. Menelusuri sejarah perkembangan AMP dari model awal di negara maju hingga adaptasinya dalam konteks negara berkembang termasuk Indonesia
  3. Membedakan berbagai jenis audit maternal (confidential enquiry, clinical audit, criterion-based audit, near-miss audit) dan mengidentifikasikan kapan masing-masing paling tepat digunakan
  4. Menganalisis posisi AMP dalam siklus peningkatan kualitas yang lebih luas dan menjelaskan hubungannya dengan surveilans kesehatan maternal
  5. Mengidentifikasikan kondisi-kondisi yang membedakan AMP yang efektif dari AMP yang sekadar ritual administratif

C. Materi Inti

C.1. Apa Itu Audit Maternal Perinatal

C.1.1. Definisi dan Esensi

AUDIT MATERNAL PERINATAL (AMP):

Definisi WHO (2004):
"Proses penilaian kritis terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada perempuan yang mengalami komplikasi atau kematian selama kehamilan, persalinan, dan masa nifas, serta bayi baru lahir — dengan tujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat dihindari dan merumuskan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti."


TIGA KATA KUNCI DALAM DEFINISI INI:

PENILAIAN KRITIS:

  • Bukan sekadar dokumentasi kejadian
  • Bukan pencatatan statistik
  • Penilaian yang mempertanyakan: "Apakah pelayanan yang diberikan sudah sesuai standar? Di mana ada kesenjangan? Apa yang dapat dilakukan berbeda?"

FAKTOR YANG DAPAT DIHINDARI (AVOIDABLE FACTORS):

  • Inti dari seluruh proses AMP
  • Pertanyaan: dari semua yang terjadi, apa yang seharusnya TIDAK terjadi jika sistem berjalan dengan optimal?
  • Ini bukan tentang menyalahkan — tetapi tentang mengidentifikasi di mana sistem dapat diperbaiki

REKOMENDASI YANG DAPAT DITINDAKLANJUTI (ACTIONABLE RECOMMENDATIONS):

  • Titik di mana banyak AMP gagal
  • Rekomendasi yang terlalu umum ("tingkatkan pelatihan bidan") tidak dapat ditindaklanjuti secara konkret
  • Rekomendasi yang efektif: spesifik, realistis, ada yang bertanggung jawab untuk melaksanakan, ada tenggat waktu

MENGAPA AMP, BUKAN HANYA PENCATATAN STATISTIK?

Data statistik kematian maternal memberitahu kita:

  • BERAPA banyak ibu yang meninggal
  • Di mana kematian terjadi
  • Penyebab medis langsung

Yang TIDAK diberikan oleh statistik:

  • Mengapa ibu meninggal — faktor sistem, perilaku, dan konteks apa yang berkontribusi
  • Apa yang SEHARUSNYA terjadi berbeda
  • Di mana titik-titik dalam sistem yang paling perlu diperkuat

AMP mengisi gap ini:
ia mengubah angka menjadi pemahaman, dan pemahaman menjadi tindakan.

C.1.2. Prinsip-Prinsip Dasar AMP

PRINSIP 1 — CONFIDENTIALITY (KERAHASIAAN):

Identitas pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan yang terlibat dalam kasus yang diaudit harus dijaga kerahasiaannya

Mengapa ini kritis:

  • Jika tenaga kesehatan khawatir bahwa kasus mereka akan diidentifikasi dan mereka akan dihukum, mereka tidak akan melaporkan kasus secara jujur
  • Tanpa pelaporan yang jujur, data yang diperoleh tidak mencerminkan kenyataan
  • Kerahasiaan adalah fondasi kepercayaan yang diperlukan agar AMP berfungsi

Implementasi praktis:

  • Anonim-isasi data sebelum dibahas dalam pertemuan
  • Tidak mencatat nama petugas dalam laporan
  • Larangan menggunakan data AMP untuk tujuan medikolegal atau disiplin
PRINSIP 2 — NO BLAME (TANPA MENYALAHKAN):

AMP bukan mekanisme untuk menghukum individu tetapi untuk memperbaiki sistem

Perbedaan penting:

  • Blame: "Bidan Ani tidak melakukan AMTSL dengan benar → Bidan Ani harus dihukum"
  • Systems learning: "AMTSL tidak dilakukan dengan benar → Mengapa? Apakah ada masalah kompetensi? Supervisi? Ketersediaan obat? Beban kerja? → Apa yang perlu diperbaiki dalam sistem?"

Tantangan praktis:

  • Prinsip no-blame sering disalahpahami sebagai impunitas total
  • Perbedaan penting: no-blame ≠ no accountability
  • Jika ada negligence yang jelas dan serius, ada mekanisme lain (disiplin profesi, hukum) — tetapi AMP bukan mekanisme tersebut
PRINSIP 3 — MULTI-DISIPLIN DAN MULTI-LEVEL:

Audit yang efektif melibatkan semua pihak yang relevan

Mengapa:

  • Kematian maternal hampir selalu melibatkan banyak titik dalam sistem: komunitas, bidan, Puskesmas, RSUD, transportasi, keluarga
  • Perspektif satu profesi atau satu level tidak akan menangkap gambaran lengkap
  • Solusi yang hanya datang dari satu pihak akan sering tidak relevan untuk pihak lain

Komposisi ideal tim AMP:

  • Dokter SpOG / Obginsos
  • Dokter umum (Puskesmas)
  • Bidan senior
  • Perawat
  • Ahli kesehatan masyarakat
  • Representasi manajemen Dinkes / RS
  • (Dalam beberapa model) representasi komunitas
PRINSIP 4 — PEMBELAJARAN DAN TINDAK LANJUT:

AMP yang tidak menghasilkan tindakan adalah AMP yang gagal — terlepas dari seberapa baik prosesnya

Siklus yang harus lengkap:
KASUS → REVIEW → REKOMENDASI → TINDAKAN → MONITORING → KASUS (siklus berikutnya)

Kegagalan paling umum:

  • Rekomendasi ada tetapi tidak ada yang bertanggung jawab untuk implementasi
  • Rekomendasi ada tetapi tidak ada sumber daya untuk melaksanakan
  • Tidak ada monitoring apakah rekomendasi sudah dilaksanakan
  • Pertemuan AMP berikutnya tidak pernah mengecek tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya
PRINSIP 5 — BERBASIS STANDAR:

Penilaian dalam AMP harus menggunakan standar yang jelas sebagai referensi

Tanpa standar:

  • "Apakah pelayanan ini sudah baik?" menjadi pertanyaan yang tidak dapat dijawab secara objektif
  • Bias pendapat individu mendominasi

Dengan standar:

  • "Apakah AMTSL dilakukan sesuai protokol yang berlaku?" dapat dinilai secara objektif
  • Standar dapat berupa: pedoman nasional, SPO RS, panduan WHO, atau kombinasi

C.2. Sejarah Perkembangan Audit Maternal

C.2.1. Akar Sejarah: Dari Semmelweis hingga Confidential Enquiry

AKAR HISTORIS:

IGNAZ SEMMELWEIS (1840-an):

  • Pengamatan pertama yang sistematis tentang penyebab kematian maternal yang dapat dicegah
  • Mengidentifikasi hubungan antara pemeriksaan dokter yang datang dari kamar mayat dan demam puerperal
  • Intervensi: cuci tangan dengan larutan klorin
  • Hasilnya dramatis: angka kematian turun dari ~10% menjadi ~1-2%
  • Ditolak oleh komunitas medis pada zamannya — pelajaran tentang resistensi terhadap perubahan berbasis bukti

PELAJARAN UNTUK AMP:

  • Bahkan lebih dari 150 tahun lalu, pengamatan sistematis + intervensi berbasis bukti + monitoring hasil = penyelamatan nyawa
  • Resistensi institusional terhadap temuan yang "menyalahkan" sistem adalah hambatan yang berulang sepanjang sejarah

CONFIDENTIAL ENQUIRY INTO MATERNAL DEATHS (CEMD), UK:

1952: Inggris memulai program audit maternal paling berpengaruh dalam sejarah

Model awal:

  • Review nasional terhadap SEMUA kematian maternal
  • Panel multi-disiplin yang mengkaji setiap kasus secara rahasia
  • Identifikasi "substandard care" — pelayanan di bawah standar yang berkontribusi pada kematian
  • Laporan triennial (3 tahunan) yang menjadi acuan perbaikan kebijakan

Dampak yang terdokumentasi:

  • AKI UK 1952: ~87/100.000 KH
  • AKI UK 2020: ~9/100.000 KH
  • Sebagian besar penurunan ini diatribusikan pada program CEMD yang menghasilkan perbaikan kebijakan yang berkelanjutan selama 70 tahun

Mengapa UK menjadi model:

  • Lintas departemen (lintas level dan fasilitas)
  • Truly confidential: tidak ada data yang dapat digunakan untuk tujuan hukum atau disiplin
  • Rekomendasi yang ditindaklanjuti secara serius oleh pembuat kebijakan
  • Konsistensi selama lebih dari tujuh dekade

PENYEBARAN KE NEGARA BERKEMBANG (1980-2000-an):

Tantangan adaptasi:

  • Model UK membutuhkan: sistem pencatatan kematian yang baik, kapasitas review yang terlatih, data yang lengkap
  • Kondisi yang tidak tersedia di sebagian besar negara berkembang

WHO dan adaptasi:

  • WHO mengembangkan "Beyond the Numbers" (2004): panduan komprehensif untuk implementasi AMP dalam berbagai setting
  • Pendekatan pragmatis: mulai dari apa yang tersedia, bukan menunggu kondisi ideal
  • Berbagai metode untuk berbagai kapasitas sistem

C.2.2. Perkembangan AMP di Indonesia

KONTEKS INDONESIA:

Skala tantangan:

  • Negara kepulauan terbesar di dunia: 17.000+ pulau
  • Keragaman kapasitas sistem: dari RS tersier di Jakarta hingga Puskesmas terpencil tanpa listrik 24 jam
  • AKI yang masih jauh dari target SDG: 305/100.000 KH (SUPAS 2015) vs. target 70/100.000 KH

Sejarah regulasi:

  • 1990-an: Pertemuan AMP mulai diperkenalkan di beberapa provinsi sebagai pilot
  • 2010: AMP menjadi program nasional melalui Pedoman AMP Kemenkes
  • 2013: Revisi pedoman dan integrasi dengan sistem surveilans
  • 2017: Penguatan melalui Permenkes No. 97 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan

MODEL AMP DI INDONESIA (VERSI KEMENKES):

Tingkatan pelaksanaan:

  • Tingkat Kabupaten/Kota: AMP kasus semua kematian maternal dan perinatal yang terjadi di wilayah
  • Tingkat Provinsi: AMP kasus terpilih + analisis agregat kabupaten/kota
  • Tingkat Nasional: Analisis trend nasional + evaluasi kebijakan

Proses standar:

STEP 1: Notifikasi kematian
→ Semua kematian maternal dan perinatal dilaporkan dalam 24 jam

STEP 2: Pengisian formulir
→ Formulir standar Kemenkes (Form Maternal / Form Perinatal)
→ Diisi oleh fasilitas tempat kematian terjadi

STEP 3: Autopsi verbal
→ Wawancara keluarga tentang riwayat sebelum kematian
→ Mengumpulkan perspektif komunitas dan keluarga

STEP 4: Review kasus
→ Pertemuan tim AMP kabupaten/kota
→ Analisis faktor yang dapat dihindari menggunakan "Tiga Terlambat"

STEP 5: Rekomendasi dan tindak lanjut
→ Rekomendasi spesifik per kasus
→ Rencana tindak lanjut dengan penanggung jawab


REALITAS IMPLEMENTASI:

Tantangan yang konsisten teridentifikasi:

KELENGKAPAN PELAPORAN:

  • Under-reporting signifikan — banyak kematian yang terjadi di rumah atau dalam perjalanan tidak pernah masuk sistem
  • Estimasi: hanya 30-50% kematian maternal yang dilaporkan di beberapa kabupaten terpencil

KUALITAS REVIEW:

  • Pertemuan AMP sering menjadi ritual administrative
  • Fokus pada "Tiga Terlambat" dari sisi keluarga, mengabaikan faktor sistem
  • Kurang pelatihan fasilitator AMP yang kompeten

TINDAK LANJUT:

  • Rekomendasi ada tetapi tidak ada mekanisme monitoring
  • Pertemuan AMP berikutnya jarang mengecek status rekomendasi sebelumnya

BIAS SISTEMIK:

  • Seperti yang ditemukan Dr. Rahmat: kecenderungan untuk menyalahkan keluarga dan komunitas alih-alih mengidentifikasi kegagalan sistem
  • Bias ini melindungi institusi dan tenaga kesehatan dari akuntabilitas tetapi menghasilkan rekomendasi yang tidak tepat sasaran

C.3. Tipologi Audit Maternal dan Perinatal

C.3.1. Berbagai Pendekatan Audit

MODEL 1 — CONFIDENTIAL ENQUIRY (PENYELIDIKAN RAHASIA):

Karakteristik:

  • Review semua atau sampel kematian maternal di tingkat nasional/regional
  • Proses sepenuhnya rahasia
  • Panel review multi-disiplin yang independen
  • Mengidentifikasi substandard care dan faktor yang dapat dihindari
  • Menghasilkan laporan periodik dengan rekomendasi kebijakan

Kekuatan:

  • Gambaran menyeluruh tentang kualitas pelayanan di tingkat sistem
  • Rekomendasi kebijakan yang berbasis bukti
  • Model paling terbukti efektif secara historis

Keterbatasan:

  • Membutuhkan kapasitas sistem yang tinggi
  • Proses panjang — tidak menghasilkan umpan balik cepat
  • Biaya tinggi

Paling tepat untuk:
→ Tingkat nasional/provinsi
→ Sistem dengan kapasitas review yang sudah baik


MODEL 2 — CLINICAL AUDIT (AUDIT KLINIS):

Karakteristik:

  • Membandingkan praktik klinis aktual dengan standar yang sudah ditetapkan
  • Pertanyaan: "Apakah kita melakukan apa yang seharusnya dilakukan sesuai standar?"
  • Dapat dilakukan untuk setiap kasus kematian atau untuk sampel kasus

Contoh dalam konteks obstetri:

  • Apakah MgSO4 diberikan kepada semua pasien eklamsia sesuai protokol?
  • Apakah AMTSL diterapkan pada semua persalinan?
  • Apakah ANC dilakukan minimal 6 kali sesuai pedoman?

Kekuatan:

  • Langsung mengukur kepatuhan terhadap standar
  • Relatif mudah dilakukan
  • Hasil yang mudah dikomunikasikan

Keterbatasan:

  • Hanya mengukur apa yang sudah ada standarnya
  • Tidak mengkaji faktor kontekstual yang lebih dalam
  • Dapat menghasilkan "box-ticking" tanpa perbaikan substansial

Paling tepat untuk:
→ Evaluasi implementasi protokol spesifik
→ Setting RS atau Puskesmas individual


MODEL 3 — CRITERION-BASED CLINICAL AUDIT (AUDIT BERBASIS KRITERIA):

Karakteristik:

  • Lebih terstruktur dari clinical audit biasa
  • Menggunakan kriteria yang diturunkan dari standar yang sudah ada sebagai alat penilaian
  • Proses: CRITERIA → DATA COLLECTION → COMPARISON WITH CRITERIA → GAP ANALYSIS → IMPROVEMENT → RE-AUDIT

Contoh kriteria:

  • "Semua pasien dengan pre-eklamsia berat harus menerima MgSO4 dalam 30 menit setelah diagnosis ditegakkan"
  • "Semua kasus perdarahan postpartum harus mendapat respons uterotonik dalam 5 menit"

Kekuatan:

  • Objektif dan reproducible
  • Mudah disosialisasikan kepada tenaga kesehatan
  • Siklus re-audit memungkinkan monitoring perbaikan

Keterbatasan:

  • Kualitas bergantung pada kualitas kriteria yang dipilih
  • Dapat mengabaikan isu di luar kriteria yang ditetapkan

Paling tepat untuk:
→ Evaluasi intervensi spesifik sebelum dan sesudah implementasi
→ RS dengan sistem rekam medis yang cukup baik


MODEL 4 — NEAR-MISS AUDIT (AUDIT HAMPIR MENINGGAL):

Near-miss / severely acute maternal morbidity:
Kasus di mana ibu hampir meninggal tetapi selamat karena intervensi medis yang tepat waktu atau keberuntungan

Karakteristik:

  • Mengaudit kasus yang selamat dari kondisi yang mengancam jiwa
  • Jauh lebih banyak kasusnya dibanding kematian — menghasilkan data statistik yang lebih kuat
  • Ibu masih hidup sehingga dapat memberikan perspektif langsung

WHO Near-miss criteria:
Kondisi tertentu yang memenuhi kriteria near-miss:

  • Disfungsi organ yang berat (kardiovaskular, respiratori, renal, koagulasi, hepatik, neurologik, uterine)
  • Intervensi kritis yang menunjukkan ancaman jiwa (intubasi, histerektomi, transfusi masif >5 unit)

Kekuatan:

  • Volume kasus jauh lebih besar dari kematian
  • Ibu yang selamat dapat bercerita — rich data
  • Dapat mengidentifikasi faktor protektif yang mencegah kematian
  • Lebih acceptable secara etis dan psikologis untuk tim kesehatan

Keterbatasan:

  • Membutuhkan definisi near-miss yang jelas
  • Kualitas rekam medis yang baik diperlukan
  • Mungkin tidak menangkap kematian yang terjadi sangat cepat

Paling tepat untuk:
→ RS dengan kapasitas rekam medis yang baik
→ Pelengkap, bukan pengganti, audit kematian


MODEL 5 — PERINATAL AUDIT (AUDIT PERINATAL):

Fokus pada:

  • Kematian janin (stillbirth): kematian janin ≥28 minggu atau ≥1000 gram
  • Kematian neonatal dini: kematian bayi dalam 7 hari pertama kehidupan
  • Near-miss neonatal

Spesifisitas:

  • Pendekatan serupa dengan audit maternal tetapi dengan kriteria yang spesifik untuk kondisi janin dan neonatal
  • Sering dilakukan bersamaan dengan audit maternal karena kematian perinatal dan maternal sering terkait dengan faktor sistem yang sama

Mengapa penting:

  • Indonesia masih memiliki AKB (Angka Kematian Bayi) yang tinggi: 21/1000 KH
  • Banyak kematian perinatal yang dapat dicegah dengan perbaikan sistem yang sama dengan yang menurunkan AKI

C.4. AMP dalam Siklus Peningkatan Kualitas

C.4.1. AMP sebagai Komponen Sistem Kualitas

AMP BUKAN BERDIRI SENDIRI — IA ADALAH SATU KOMPONEN DALAM SISTEM KUALITAS YANG LEBIH BESAR:

SIKLUS PENINGKATAN KUALITAS YANG LENGKAP:

STEP 1 — SURVEILLANCE:
Pemantauan berkelanjutan terhadap kejadian kematian dan komplikasi
→ Sistem pencatatan dan pelaporan rutin
→ Notifikasi kematian dalam 24 jam
→ Basis data yang terpelihara

STEP 2 — AUDIT (AMP):
Review mendalam terhadap kasus untuk mengidentifikasi faktor yang dapat dihindari
→ Ini adalah titik di mana "angka" diubah menjadi "pemahaman"
→ Dari "berapa yang meninggal" ke "mengapa dan bagaimana bisa dicegah"

STEP 3 — ANALISIS DAN REKOMENDASI:
Sintesis temuan menjadi rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti
→ Bukan daftar keinginan
→ Rekomendasi yang spesifik, realistis, terukur

STEP 4 — TINDAKAN:
Implementasi rekomendasi
→ Perbaikan kebijakan
→ Peningkatan kompetensi
→ Perbaikan infrastruktur
→ Penguatan sistem

STEP 5 — EVALUASI DAMPAK:
Apakah tindakan menghasilkan perbaikan yang terukur?
→ Kembali ke STEP 1: apakah angka berubah?
→ Apakah pola kasus berubah?
→ Apakah faktor yang sama masih muncul dalam siklus berikutnya?


HUBUNGAN AMP DAN SURVEILANS:

SURVEILANS adalah pemantauan berkelanjutan yang menghasilkan DATA

AMP adalah review mendalam yang menghasilkan PEMAHAMAN

Keduanya saling membutuhkan:

  • Tanpa surveilans yang baik: kasus yang diaudit tidak representatif — hanya kasus yang kebetulan dilaporkan
  • Tanpa AMP: data surveilans hanya menghasilkan statistik yang tidak menjelaskan mengapa dan apa yang harus dilakukan

HIRARKI PENCEGAHAN:

AMP yang baik menghasilkan rekomendasi di berbagai level pencegahan:

PENCEGAHAN TERSIER:

  • Mengelola komplikasi yang sudah terjadi dengan lebih baik
  • Paling umum dalam rekomendasi AMP — tetapi dampaknya paling terbatas

PENCEGAHAN SEKUNDER:

  • Deteksi dini dan penanganan faktor risiko sebelum menjadi komplikasi
  • Lebih efektif tetapi memerlukan sistem yang lebih kuat

PENCEGAHAN PRIMER:

  • Mencegah kondisi yang menyebabkan komplikasi sejak awal
  • Paling efektif jangka panjang tetapi paling jarang menjadi fokus rekomendasi AMP
  • Melibatkan perubahan sosial dan sistem yang lebih dalam

C.4.2. AMP dan Kerangka "Tiga Terlambat"

KERANGKA TIGA TERLAMBAT (THREE DELAYS MODEL):
(Thaddeus & Maine, 1994)

Kerangka klasik yang paling sering digunakan dalam analisis AMP di Indonesia:

TERLAMBAT 1 — MENGAMBIL KEPUTUSAN:
Keterlambatan dalam komunitas/keluarga untuk memutuskan mencari pertolongan medis

Faktor penyebab:

  • Tidak mengenali tanda bahaya
  • Budaya yang tidak mendukung pencarian pertolongan medis
  • Pengambilan keputusan bukan di tangan perempuan
  • Pengalaman buruk dengan sistem kesehatan sebelumnya
  • Ketidakpercayaan pada tenaga kesehatan

TERLAMBAT 2 — MENCAPAI FASILITAS:
Keterlambatan dalam mencapai fasilitas kesehatan yang tepat

Faktor penyebab:

  • Hambatan geografis
  • Tidak tersedianya transportasi
  • Biaya transportasi
  • Ketidaktahuan tentang di mana fasilitas yang tepat berada
  • Sistem rujukan yang tidak efektif

TERLAMBAT 3 — MENERIMA PENANGANAN:
Keterlambatan dalam menerima penanganan yang memadai di fasilitas

Faktor penyebab:

  • Kekurangan tenaga terlatih
  • Obat dan peralatan tidak tersedia
  • Komunikasi yang buruk dalam tim
  • Protokol yang tidak diikuti
  • Kapasitas fasilitas yang tidak memadai
KRITIK TERHADAP PENGGUNAAN TIGA TERLAMBAT DI INDONESIA:

Masalah yang teridentifikasi:

BIAS TOWARD DELAY 1:

  • AMP di Indonesia cenderung mendominasikan Terlambat 1 sebagai penyebab — menyalahkan keluarga/komunitas
  • Ini adalah bias sistemik yang melindungi sistem dari akuntabilitas
  • Data global menunjukkan Terlambat 3 (kegagalan sistem fasilitas) adalah kontributor yang seringkali lebih besar

MENGABAIKAN STRUCTURAL DETERMINANTS:

  • Kerangka Tiga Terlambat tidak menangkap determinan struktural yang lebih dalam: kemiskinan, ketidaksetaraan gender, kegagalan kebijakan
  • AMP yang baik perlu melampaui Tiga Terlambat

TIGA TERLAMBAT SEBAGAI KERANGKA YANG TIDAK LENGKAP:

  • Berguna sebagai titik berangkat tetapi tidak cukup sebagai satu-satunya kerangka analisis
  • Perlu dilengkapi dengan: analisis faktor sistemik, analisis kapasitas fasilitas, analisis kualitas pelayanan
KERANGKA YANG LEBIH KOMPREHENSIF:

"FOUR DELAYS" (penambahan dari beberapa peneliti):

DELAY 4 — STAYING HEALTHY:
Keterlambatan dalam mempertahankan kesehatan yang optimal selama kehamilan (nutrisi, deteksi dini komplikasi, ANC berkualitas)

ATAU pendekatan berbasis "FAKTOR YANG DAPAT DIHINDARI":
Mengkategorikan faktor ke dalam:

  • Faktor terkait pasien/keluarga
  • Faktor terkait pelayanan kesehatan (quality of care)
  • Faktor terkait sistem administrasi
  • Faktor terkait kebijakan dan sumber daya

C.5. Membedakan AMP yang Efektif dari Ritual Administratif

C.5.1. Anatomi AMP yang Gagal

KEMBALI KE DR. RAHMAT:

Apa yang ia temukan di Sulawesi Tengah adalah pola AMP yang gagal — yang sangat umum di Indonesia:

TANDA-TANDA AMP YANG TIDAK EFEKTIF:

1. FORMULIR TERISI, PEMAHAMAN KOSONG:

  • Semua kolom terisi
  • Narasi kasus ada
  • Tetapi semua berakhir pada "keterlambatan keluarga"
  • Tidak ada analisis mendalam tentang faktor sistem
  • Rekomendasi generik yang tidak dapat ditindaklanjuti

2. PERTEMUAN TANPA PEMBELAJARAN:

  • Hadir = hadir
  • Kasus dibahas secara superfisial
  • Tidak ada pertanyaan kritis: "Mengapa fasilitas tidak siap?" "Mengapa obat tidak tersedia?"
  • Pertemuan berakhir dalam 30 menit

3. REKOMENDASI TANPA TINDAK LANJUT:

  • Rekomendasi yang sama muncul di setiap laporan AMP, tahun demi tahun
  • Tidak ada yang mengecek apakah rekomendasi sebelumnya sudah diimplementasikan
  • Pertemuan AMP berikutnya mulai dari nol

4. UNDER-REPORTING YANG DITERIMA:

  • Semua tahu bahwa banyak kematian tidak dilaporkan
  • Tetapi tidak ada upaya aktif untuk meningkatkan kelengkapan
  • Sistem puas dengan kematian yang sudah dilaporkan

MENGAPA AMP GAGAL?

FAKTOR INSTITUSIONAL:

  • AMP dilihat sebagai kewajiban administratif, bukan alat peningkatan kualitas
  • Kepemimpinan tidak memberikan dukungan nyata
  • Hasil AMP tidak digunakan dalam perencanaan program

FAKTOR BUDAYA:

  • Blame culture: meskipun dilarang, dalam praktik orang takut datanya digunakan untuk menghukum
  • Hierarki: bidan tidak berani mengkritisi dokter, dokter tidak berani mengkritisi RS
  • Proteksi korps: "kita tidak boleh saling menyalahkan" disalahartikan menjadi "kita tidak boleh jujur tentang masalah"

FAKTOR KAPASITAS:

  • Fasilitator yang tidak terlatih dengan baik
  • Tidak ada champion yang mendorong kualitas proses
  • Kurang waktu — AMP dilihat sebagai beban tambahan
KONDISI YANG MEMBEDAKAN AMP YANG EFEKTIF:

KEPEMIMPINAN YANG BERKOMITMEN:

  • Kepala Dinas / Direktur RS yang secara eksplisit mendukung AMP sebagai alat peningkatan kualitas
  • Melindungi tenaga kesehatan dari konsekuensi hukum/disiplin karena kejujuran dalam AMP

FASILITATOR YANG TERLATIH:

  • Kemampuan memfasilitasi diskusi yang kritis tanpa blame
  • Pengetahuan tentang analisis faktor yang dapat dihindari
  • Kemampuan menyintesis temuan menjadi rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti

SISTEM YANG MENUTUP LOOP:

  • Setiap pertemuan AMP dimulai dengan review tindak lanjut pertemuan sebelumnya
  • Rekomendasi memiliki penanggung jawab dan tenggat waktu
  • Laporan AMP digunakan dalam perencanaan

BUDAYA YANG MENDUKUNG:

  • Psychological safety: orang merasa aman melaporkan masalah
  • Keingintahuan atas blame: "mengapa ini terjadi?" bukan "siapa yang salah?"
  • Pembelajaran sebagai nilai yang dihargai

D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen — Minggu 1)

Modul 1 adalah modul pembuka — tidak ada tugas yang dilekatkan. Thread diskusi ini adalah refleksi awal untuk membangun fondasi bersama sebelum masuk ke materi teknis.

Pertanyaan 1:

Dr. Rahmat menemukan bahwa hampir semua laporan AMP di wilayahnya mencantumkan "keterlambatan keluarga dalam mengambil keputusan" sebagai penyebab utama — dan hampir tidak pernah menyebut faktor sistem. Menggunakan konsep bias sistemik dan prinsip no-blame yang dibahas dalam modul, analisis: (a) mengapa pola ini muncul dan apa kepentingan yang dilindungi oleh pola ini; (b) apa konsekuensi dari pola ini terhadap kualitas rekomendasi dan kemampuan sistem untuk belajar; (c) jika Anda adalah Dr. Rahmat, apa satu langkah pertama yang paling konkret untuk mulai mengubah pola ini — tanpa memosisikan diri sebagai yang "paling tahu" di hadapan kabupaten-kabupaten yang sudah berpengalaman lebih lama?

Pertanyaan 2:

Dari empat model audit yang dibahas (confidential enquiry, clinical audit, criterion-based audit, near-miss audit), pilih satu yang menurut Anda paling feasible dan paling berdampak untuk diterapkan di kabupaten atau setting yang Anda kenal — dengan mempertimbangkan kapasitas sistem, sumber daya yang tersedia, dan kebutuhan spesifik daerah tersebut. Justifikasikan pilihan Anda dengan argumen yang mempertimbangkan kekuatan dan keterbatasan model tersebut dalam konteks spesifik yang Anda pilih, dan identifikasikan satu kondisi paling kritis yang harus dipenuhi agar model tersebut dapat berfungsi efektif.

E. Rangkuman

  1. Audit Maternal Perinatal adalah proses penilaian kritis terhadap kualitas pelayanan dalam kasus kematian atau komplikasi maternal dan perinatal, dengan tujuan mengidentifikasi faktor yang dapat dihindari dan menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti — bukan pencatatan statistik, bukan mekanisme hukum, dan bukan ritual administratif; efektivitasnya bergantung pada komitmen terhadap lima prinsip dasar: kerahasiaan, tanpa menyalahkan, multi-disiplin, berbasis pembelajaran dan tindak lanjut, serta berbasis standar yang jelas
  2. Sejarah AMP sejak Semmelweis hingga Confidential Enquiry di Inggris menunjukkan bahwa pengamatan sistematis yang jujur tentang penyebab kematian yang dapat dicegah, bila konsisten dilaksanakan dan ditindaklanjuti selama dekade, dapat menghasilkan penurunan AKI yang dramatis; pelajaran terpenting dari sejarah ini adalah bahwa resistensi institusional terhadap temuan yang "menyalahkan sistem" adalah hambatan yang berulang — dan mengatasinya memerlukan kepemimpinan yang berkomitmen pada transparansi
  3. Empat model audit — confidential enquiry, clinical audit, criterion-based audit, dan near-miss audit — masing-masing memiliki kekuatan, keterbatasan, dan konteks penggunaan yang berbeda; pilihan model harus disesuaikan dengan kapasitas sistem dan tujuan spesifik, bukan diambil secara uniform; near-miss audit menawarkan keunggulan volume kasus dan kelengkapan data yang menjadikannya pelengkap yang sangat berharga bagi audit kematian
  4. AMP adalah komponen dalam siklus peningkatan kualitas yang lebih besar yang meliputi surveilans, audit, analisis dan rekomendasi, tindakan, dan evaluasi dampak; kerangka Tiga Terlambat yang dominan dalam AMP Indonesia memiliki keterbatasan serius — ia cenderung mendorong bias terhadap faktor keluarga/komunitas dan mengabaikan kegagalan sistem — dan perlu dilengkapi dengan kerangka analisis faktor yang lebih komprehensif
  5. Perbedaan antara AMP yang efektif dan AMP yang sekadar ritual administratif bukan terletak pada prosedur yang diikuti, tetapi pada kepemimpinan yang berkomitmen, fasilitator yang terlatih, sistem yang menutup loop dari rekomendasi hingga evaluasi dampak, dan budaya yang mendorong kejujuran di atas proteksi institusional — kondisi-kondisi ini adalah yang paling sering tidak terpenuhi dalam implementasi AMP di Indonesia

F. Referensi

  1. WHO. Beyond the Numbers: Reviewing Maternal Deaths and Complications to Make Pregnancy Safer. Geneva: WHO; 2004.
    URL: https://www.who.int/publications/i/item/9241591838
  2. Thaddeus S, Maine D. Too far to walk: maternal mortality in context. Social Science & Medicine. 1994;38(8):1091-1110.
    DOI: https://doi.org/10.1016/0277-9536(94)90226-7
  3. Lewis G (ed). Saving Mothers' Lives: Reviewing Maternal Deaths to Make Motherhood Safer 2003–2005. The Seventh Report of the Confidential Enquiries into Maternal Deaths in the United Kingdom. London: CEMACH; 2007.
  4. Say L, Souza JP, Pattinson RC. Maternal near miss — towards a standard tool for monitoring quality of maternal health care. Best Practice & Research Clinical Obstetrics and Gynaecology. 2009;23(3):287-296.
    DOI: https://doi.org/10.1016/j.bpobgyn.2009.01.007
  5. Pattinson R, Kerber K, Waiswa P, et al. Perinatal mortality audit: counting, accountability, and overcoming challenges in scaling up in low- and middle-income countries. International Journal of Gynaecology and Obstetrics. 2009;107(S1):S113-S122.
    DOI: https://doi.org/10.1016/j.ijgo.2011.09.011
  6. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Audit Maternal Perinatal (AMP). Jakarta: Kemenkes RI; 2010.
    URL: https://www.kemkes.go.id
  7. Ronsmans C, Graham WJ. Maternal mortality: who, when, where, and why. Lancet. 2006;368(9542):1189-1200.
    DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(06)69380-X
  8. de Brouwere V, Zinnen V, Delvaux T. How to conduct maternal death reviews (MDR): guidelines and tools for health professionals. FIGO; Safe Motherhood and Newborn Health Committee. 2013.
    URL: https://www.figo.org/sites/default/files/uploads/project-publications/MDR_Guidelines.pdf
  9. Moucheraud C, Worku A, Molla M, Finlay JE, Leaning J, Yamin AE. Consequences of maternal mortality on infant and child survival. Reproductive Health. 2015;12(S1):S4.
    DOI: https://doi.org/10.1186/1742-4755-12-S1-S4
  10. Badan Pusat Statistik. Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015. Jakarta: BPS; 2015.
    URL: https://www.bps.go.id

Malang, Maret 2026
Penyusun