🚨 Modul 9 | Sesi 2 | Semester 2

Kesehatan Ibu dan Anak dalam Konteks Bencana dan Krisis Kemanusiaan

Semester 2 | Periode 1 | MK Manajemen Kesehatan Ibu & Anak Terpadu (6 SKS)

πŸ‘¨β€βš•οΈ
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
A

Deskripsi Modul

Posko Kesehatan Darurat, Kecamatan Palu Timur, Sulawesi Tengah. Empat hari setelah gempa bumi dan tsunami 28 September 2018.

Dr. Sari, SpOG., baru tiba dari Makassar bersama tim medis sukarela. Di depannya: tenda besar yang dijadikan klinik darurat, antrean panjang pengungsi, dan satu catatan dari koordinator lapangan yang ditempel di tiang tenda:

"Prioritas hari ini: 47 ibu hamil yang teridentifikasi di kamp pengungsian. 12 di antaranya trimester ketiga. Dua yang kami tahu dalam kondisi kritis β€” satu eklamsia, satu dengan perdarahan. Bidan yang ada hanya 2. Obat-obatan terbatas. Tidak ada USG. Tidak ada oksigen. Persalinan pertama diprediksi dalam 48 jam."

Di bagian bawah catatan, dengan tulisan tangan yang berbeda:

"Dan ini baru yang kita tahu. Yang tidak kita ketahui, mungkin lebih banyak."
Bencana dan krisis kemanusiaan β€” gempa bumi, banjir, konflik bersenjata, pengungsian massal β€” bukan hanya merusak infrastruktur fisik. Mereka mendisrupsi sistem kesehatan yang sudah fragil, memutus rantai layanan yang sudah terbangun, dan secara dramatis meningkatkan kerentanan kelompok yang paling rentan: ibu hamil, ibu menyusui, bayi baru lahir, dan anak kecil.

Dalam konteks bencana, kebutuhan KIA tidak menghilang β€” ia justru meningkat. Persalinan tidak menunggu kondisi aman. Komplikasi tidak bisa dijadwalkan ulang. Dan ketika sistem reguler kolaps, konsultan Obginsos yang memahami manajemen KIA dalam kondisi krisis adalah aset yang tidak ternilai.

Modul ini membangun kompetensi untuk bekerja dalam konteks darurat: memahami kerangka respons bencana, mengidentifikasi kebutuhan KIA spesifik dalam kondisi krisis, mengimplementasikan Minimum Initial Service Package (MISP) untuk kesehatan reproduksi, dan membangun sistem koordinasi yang memastikan layanan KIA tersedia sejak hari pertama bencana.

B

Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Menjelaskan dampak bencana dan krisis kemanusiaan terhadap kesehatan ibu dan anak secara komprehensif
  2. Menguraikan komponen Minimum Initial Service Package (MISP) untuk kesehatan reproduksi dalam kedaruratan
  3. Menganalisis kebutuhan KIA spesifik dalam berbagai jenis krisis dan mengidentifikasi prioritas respons
  4. Merancang sistem layanan KIA darurat yang fungsional dengan sumber daya yang sangat terbatas
  5. Mengintegrasikan perspektif hak asasi manusia dalam respons kesehatan reproduksi pada konteks krisis
C

Materi Inti

C.1. Dampak Bencana terhadap Kesehatan Ibu dan Anak

C.1.1. Mekanisme Dampak

πŸ—οΈ Jalur 1: Infrastruktur

Hancurnya infrastruktur fisik

  • Fasilitas kesehatan rusak/hancur
  • Jalan & jembatan putus: sistem rujukan kolaps
  • Listrik & air bersih terputus
  • Komunikasi terganggu

πŸ‘₯ Jalur 2: Tenaga Kesehatan

Disrupsi tenaga kesehatan

  • Tenaga kesehatan menjadi korban
  • Tenaga yang selamat fokus pada keluarga sendiri
  • Rantai komando hancur

πŸ“ˆ Jalur 3: Kerentanan Populasi

Peningkatan kerentanan

  • Pengungsian: kehilangan dokumen & riwayat ANC
  • Kondisi kamp: sanitasi buruk, kepadatan tinggi
  • Stres psikologis memicu persalinan prematur
  • KBG meningkat tajam

πŸ“¦ Jalur 4: Rantai Suplai

Terputusnya rantai suplai

  • Obat-obatan habis: oksitosin, antibiotik
  • Darah untuk transfusi tidak tersedia
  • Kontrasepsi terputus: kehamilan tidak direncanakan meningkat
DATA DAMPAK KIA DALAM BENCANA:
β†’ AKI dapat meningkat 2–5Γ— dalam 6 bulan pertama pasca bencana besar
β†’ Prematuritas meningkat: stres & gangguan nutrisi memicu persalinan prematur
β†’ BBLR meningkat: malnutrisi akut & stres pada ibu hamil
β†’ Stillbirth & kematian neonatal meningkat: fasilitas tidak berfungsi, tenaga tidak tersedia
β†’ Kekerasan seksual & eksploitasi meningkat di kamp pengungsian tanpa proteksi memadai

C.1.2. Kelompok Paling Rentan dalam Bencana

🀰 Ibu Hamil Trimester 3

  • Persalinan tidak dapat ditunda
  • Risiko komplikasi meningkat karena stres & lingkungan
  • Paling sulit diungsikan karena mobilitas terbatas
  • Memerlukan layanan spesifik yang tidak tersedia di posko umum

πŸ‘Ά Ibu Baru Melahirkan

  • Risiko infeksi pasca persalinan meningkat di sanitasi buruk
  • Memerlukan dukungan menyusui yang sering tidak tersedia
  • Rentan terhadap perdarahan sekunder

🍼 Bayi Baru Lahir & Neonatus

  • Paling rentan hipotermia: suhu tenda tidak terkontrol
  • Rentan infeksi: air tidak bersih, sanitasi buruk
  • ASI terancam: ibu stres & kekurangan gizi menurunkan produksi ASI

⚠️ Korban Kekerasan Seksual

  • Memerlukan layanan khusus: PEP HIV, kontrasepsi darurat, dukungan psikologis
  • Sering tidak teridentifikasi karena stigma
  • Sistem kesehatan darurat sering tidak memiliki kapasitas respons

C.1.3. Konteks Indonesia: Kerentanan Tinggi

MENGAPA INDONESIA SANGAT RENTAN:
πŸ—ΊοΈ Geografis: Ring of Fire (gempa, tsunami, letusan) β€’ Iklim tropis (banjir, longsor) β€’ Kepulauan: isolasi saat bencana parah
πŸ‘₯ Demografis: AKI baseline tinggi β€’ Cakupan ANC belum universal β€’ Distribusi fasilitas tidak merata
βš™οΈ Sistem: Kapasitas respons kesehatan darurat bervariasi β€’ Koordinasi BNPB/BPBD-Dinkes sering tidak optimal β€’ Tidak semua kabupaten memiliki rencana kontinjensi KIA siap pakai
BENCANA BESAR INDONESIA & PELAJARAN KIA:
β†’ Gempa-Tsunami Aceh 2004: Estimasi 1.500–2.000 ibu hamil terdampak β€’ Sistem ANC & persalinan kolaps total β€’ Pembelajaran: pentingnya data ibu hamil yang dapat dipulihkan
β†’ Gempa Yogyakarta 2006: RSUD Bantul hancur β€’ Persalinan di tenda darurat berbulan-bulan β€’ Pembelajaran: pentingnya hospital preparedness & fasilitas backup
β†’ Gempa-Tsunami-Likuefaksi Palu 2018: Tiga jenis bencana bersamaan β€’ Sistem kesehatan Sulteng kolaps hampir total β€’ Pembelajaran: koordinasi respons internasional-domestik yang lebih baik diperlukan

C.2. Minimum Initial Service Package (MISP)

C.2.1. Konsep dan Komponen MISP

MINIMUM INITIAL SERVICE PACKAGE (MISP):
Paket layanan kesehatan reproduksi minimum yang harus tersedia sejak hari pertama respons kedaruratan.

Dikembangkan oleh: UNFPA, WHO, UNHCR, IAWG (Inter-Agency Working Group)
Prinsip Dasar:
βœ… IMMEDIATE: Dapat dimulai dalam 24–72 jam pertama β€” tidak menunggu situasi "stabil"
βœ… MINIMUM: Tidak mencakup semua layanan, tetapi yang paling kritikal untuk mencegah kematian & kesakitan
βœ… PACKAGE: Semua komponen harus ada bersamaan β€” bukan satu atau dua

Lima Komponen Utama MISP

1
Koordinator KR

Satu orang/lembaga bertanggung jawab mengkoordinasikan semua layanan kesehatan reproduksi dalam respons

2
Pencegahan & Pengelolaan KBG

Sistem pelaporan aman β€’ PEP HIV dalam 72 jam β€’ Kontrasepsi darurat β€’ Dukungan psikologis

3
Pencegahan HIV & IMS

Ketersediaan kondom β€’ Universal precautions β€’ Darah transfusi aman β€’ Keamanan injeksi

4
Pencegahan Kematian Ibu & Neonatal

Persalinan bersih β€’ Manajemen komplikasi obstetri β€’ Resusitasi neonatal β€’ Sistem rujukan

5
Perencanaan Layanan Komprehensif

ANC untuk kehamilan berlanjut β€’ Kontrasepsi reguler β€’ Layanan IMS β€’ Aborsi aman sesuai hukum

C.2.2. Implementasi MISP dalam Konteks Indonesia

ADAPTASI MISP UNTUK INDONESIA: PPAM (Paket Pelayanan Awal Minimum)
β†’ Permenkes No. 64/2013 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan
β†’ Pedoman PPAM Kesehatan Reproduksi pada Krisis Kesehatan β€” adaptasi Indonesia dari MISP internasional
β†’ Standar Operasional Prosedur (SOP) Kemenkes untuk respons KIA dalam kedaruratan
TANTANGAN IMPLEMENTASI PPAM DI INDONESIA:
β†’ Kesadaran yang rendah: banyak tim respons darurat tidak mengetahui PPAM
β†’ Koordinasi yang lemah: banyak lembaga membawa "program sendiri" tanpa koordinasi
β†’ Rantai suplai tidak siap: kit PPAM tidak selalu tersedia di gudang kabupaten rawan bencana
β†’ Stigma terhadap layanan KBG: komponen ini sering tidak diprioritaskan karena dianggap "sensitif"

C.2.3. Reproductive Health Kits

πŸŽ’ Kit 0: Individual
  • Untuk bidan/tenaga kesehatan individu
  • Berisi: sarung tangan, kassa, benang jahit, spuit, infus set, partus set minimal
  • Untuk: 1 persalinan normal
Field Use
πŸ“¦ Kit 1: Community
  • Untuk tim yang melayani 1.000 penduduk
  • Berisi: 10 persalinan bersih, peralatan ANC dasar, kondom, kontrasepsi oral
  • Durasi: 3 bulan
Camp Use
βš•οΈ Kit 2: CMR
  • Untuk penanganan kekerasan seksual
  • Berisi: PEP HIV, kontrasepsi darurat, antibiotik IMS, alat dokumentasi
GBV Response
πŸ”ͺ Kit 6: Surgery
  • Untuk fasilitas yang masih berfungsi
  • Berisi: peralatan SC, laparotomi, operasi obstetri darurat
  • Memerlukan SpOG & kamar operasi
Hospital Use
INDONESIA DAN RH KITS:
βœ… UNFPA Indonesia memiliki stockpile RH Kits yang dapat dikerahkan dalam 48–72 jam untuk bencana besar
βœ… Dinas Kesehatan provinsi di daerah rawan bencana seharusnya memiliki buffer stock
⚠️ Realitas: banyak daerah yang belum memiliki buffer stock yang memadai

C.3. Manajemen KIA di Lapangan

C.3.1. Triase dan Prioritas KIA dalam Bencana

MERAH β€” SEGERA
Mengancam Jiwa
  • Eklamsia/ancaman eklamsia
  • PPH aktif
  • Solusio plasenta
  • Sepsis dengan syok
  • Persalinan dengan komplikasi aktif
KUNING β€” DITUNDA
Serius tapi Stabil
  • Ibu hamil risiko tinggi tanpa komplikasi aktif
  • Persalinan kala 1 tanpa komplikasi
  • PEB tanpa gejala berat
HIJAU β€” MINIMAL
Dapat Ditunda
  • Ibu hamil trimester 1 & 2 tanpa komplikasi
  • Kontrasepsi reguler
  • ANC rutin tanpa masalah
HITAM
Tidak Mungkin Diselamatkan
  • Keputusan sangat sulit dalam konteks bencana
  • Memerlukan protokol jelas untuk menghindari pemborosan sumber daya
PENDATAAN IBU HAMIL β€” Langkah pertama respons KIA bencana:
Metode Pendataan Cepat: Koordinasi dengan kader posyandu β€’ Sweeping kamp β€’ Pengumuman di kamp β€’ Data dari Puskesmas yang selamat
Data yang Dikumpulkan: Nama & usia ibu β€’ Usia kehamilan β€’ Riwayat komplikasi β€’ Lokasi saat ini β€’ Kontak keluarga β€’ Prediksi tanggal persalinan

C.3.2. Persalinan Aman dalam Kondisi Darurat

PRINSIP PERSALINAN AMAN DALAM KONDISI TERBATAS:
βœ… Bersih Lebih Penting dari Steril: Sterilisasi sempurna tidak selalu mungkin, tetapi kebersihan dasar SELALU mungkin: cuci tangan, permukaan bersih, alat baru/dididihkan
βœ… Minimal Tetapi Aman: Fokus pada yang paling esensial untuk keselamatan
βœ… AMTSL Tetap Wajib: Manajemen aktif kala tiga adalah intervensi yang tidak dapat dikompromikan

Enam Bersih (Clean Delivery Minimum)

πŸ‘
Tangan Bersih
🧼
Permukaan Bersih
βœ‚οΈ
Pisau/Gunting Bersih
🧡
Benang Bersih
🧺
Kain Bersih
🚫
Tidak Memasukkan Apapun
MANAJEMEN KOMPLIKASI DENGAN SUMBER DAYA TERBATAS:
β†’ PEB/Eklamsia: MgSO4 (intervensi penyelamat jiwa) β€’ Protokol loading dose & maintenance β€’ Nifedipin oral sebagai alternatif
β†’ PPH: AMTSL prioritas utama β€’ Bimanual compression tanpa peralatan β€’ Oksitosin/misoprostol β€’ Rujukan segera jika tidak terkendali
β†’ Sepsis: Ampisilin + gentamisin sebagai regimen efektif β€’ Cairan IV untuk resusitasi syok sepsis

C.3.3. Koordinasi dan Sistem Informasi Darurat

πŸ₯ Health Cluster

Dipimpin oleh: WHO (internasional) atau Kemenkes (nasional)

  • Mencakup semua komponen kesehatan termasuk KIA
  • Pertemuan koordinasi minimal harian pada fase akut
  • Memastikan tidak ada duplikasi atau gap layanan

🀰 RH Sub-Cluster

Dipimpin oleh: UNFPA

  • Koordinasi spesifik untuk semua layanan kesehatan reproduksi
  • Termasuk KIA, keluarga berencana, dan penanganan KBG
  • Memastikan komponen MISP terimplementasi
SISTEM INFORMASI DARURAT KIA β€” Yang Harus Diketahui Setiap Saat:
β†’ Jumlah ibu hamil di area terdampak & distribusinya
β†’ Ibu hamil dengan kebutuhan segera: trimester 3, risiko tinggi
β†’ Jumlah persalinan yang terjadi per hari
β†’ Komplikasi yang ditangani & hasilnya
β†’ Fasilitas yang berfungsi & kapasitasnya
β†’ Ketersediaan suplai kritis: oksitosin, MgSO4, kit persalinan

Format Pelaporan: Daily SITREP (Situation Report) β€’ 5Ws: Who does What, Where, When, for Whom
PRINSIP "DO NO HARM" DALAM RESPONS BENCANA:
β†’ Distribusi susu formula dalam kondisi bencana: dapat menghancurkan inisiasi menyusui & meningkatkan risiko infeksi β€” hindari
β†’ Pengobatan massal tanpa indikasi: resistensi antibiotik & efek samping
β†’ Pendataan yang mengekspos kelompok rentan: data ibu hamil & korban KBG harus dijaga kerahasiaannya
β†’ Intervensi yang menciptakan ketergantungan: program yang tidak dapat dilanjutkan oleh sistem lokal setelah respons internasional ditarik

C.4. Kesiapsiagaan Sistem KIA untuk Bencana

C.4.1. Rencana Kontinjensi KIA

RENCANA KONTINJENSI KIA: Dokumen yang disiapkan sebelum bencana terjadi yang menggambarkan bagaimana sistem KIA akan merespons berbagai skenario bencana.

Komponen Rencana Kontinjensi KIA:
1️⃣ Analisis Risiko Bencana: Jenis bencana paling mungkin β€’ Area paling rentan β€’ Fasilitas berisiko rusak β€’ Populasi ibu hamil paling rentan
2️⃣ Peta Sumber Daya: Fasilitas backup β€’ Tenaga cadangan β€’ Stockpile suplai β€’ Transportasi darurat
3️⃣ Protokol Aktivasi: Kapan rencana diaktifkan β€’ Siapa yang mengaktifkan β€’ Rantai komunikasi
4️⃣ Sistem Data Ibu Hamil: Register ANC yang dapat dipulihkan β€’ Data minimal yang harus tersimpan di luar fasilitas
HOSPITAL PREPAREDNESS UNTUK BENCANA:
βœ… RSUD & Puskesmas rawat inap harus memiliki Hospital Disaster Plan (HDP)
βœ… Komponen KIA dalam HDP: Area persalinan darurat alternatif β€’ Protokol evakuasi ibu hamil β€’ Suplai darurat 72 jam β€’ Komunikasi dengan fasilitas rujukan alternatif

C.4.2. Pemulihan Sistem KIA Pasca Bencana

1
Fase 1: Stabilisasi (Minggu 1–4)

Layanan darurat minimal berfungsi β€’ Semua ibu hamil teridentifikasi & dalam sistem pemantauan β€’ Suplai kritis tersedia

2
Fase 2: Rehabilitasi (Bulan 1–6)

Fasilitas sementara lebih permanen β€’ ANC reguler dimulai kembali β€’ Sistem rujukan berfungsi β€’ Tenaga kesehatan kembali bertugas

3
Fase 3: Rekonstruksi (Bulan 6+)

Fasilitas permanen dibangun kembali dengan standar lebih tahan bencana β€’ Sistem informasi dipulihkan β€’ Program KIA reguler berjalan penuh

"BUILD BACK BETTER":
Rekonstruksi pasca bencana adalah kesempatan untuk memperbaiki sistem yang sebelum bencana sudah tidak optimal:
β†’ Fasilitas baru: dirancang lebih tahan bencana & dengan kapasitas KIA lebih baik
β†’ Tenaga: kesempatan untuk melatih ulang & meningkatkan kompetensi
β†’ Sistem informasi: digitalisasi & backup yang lebih baik dari sebelumnya
β†’ Koordinasi: mekanisme yang terbangun selama bencana dilembagakan untuk digunakan sehari-hari

❓ Pertanyaan Diskusi

Thread Dosen – Minggu 9 | Modul 9

Pertanyaan 1: Respons Dr. Sari di Palu

Dr. Sari tiba di Palu empat hari setelah gempa dan menemukan catatan: 47 ibu hamil teridentifikasi, 12 trimester ketiga, dua dalam kondisi kritis, hanya 2 bidan tersedia.

  • (a) Dalam 6 jam pertama kehadiran Dr. Sari, apa yang harus ia lakukan β€” rancang prioritas tindakan dengan urutan yang spesifik; gunakan kerangka MISP/PPAM dan triase obstetri dalam menjustifikasikan setiap prioritas
  • (b) Dari 12 ibu hamil trimester ketiga, bagaimana Dr. Sari mengalokasikan 2 bidan yang tersedia secara optimal β€” rancang sistem pembagian tugas dan monitoring yang dapat berjalan dengan hanya 2 bidan
  • (c) Hari ke-7, tim internasional menawarkan untuk mendistribusikan susu formula kepada semua bayi yang lahir di kamp selama fase darurat sebagai "jaminan nutrisi". Dr. Sari diminta berkomentar sebagai spesialis. Apa posisi Dr. Sari dan bagaimana ia mengkomunikasikannya kepada koordinator yang tidak berlatar belakang medis β€” dengan cara yang menghargai niat baik tetapi tegas tentang risiko kesehatan?

Pertanyaan 2: Rencana Kontinjensi KIA

Rencana kontinjensi KIA adalah dokumen yang seharusnya ada di setiap kabupaten rawan bencana di Indonesia β€” tetapi dalam kenyataannya sangat jarang ditemukan.

  • (a) Rancang kerangka rencana kontinjensi KIA untuk kabupaten kepulauan yang rawan gempa dan tsunami β€” komponen apa yang paling kritis dan mengapa, khususnya untuk konteks kepulauan di mana bantuan dari luar dapat memakan waktu 48–72 jam untuk tiba
  • (b) Salah satu komponen yang paling sering absen dalam rencana kontinjensi adalah sistem data ibu hamil yang dapat dipulihkan setelah bencana β€” rancang sistem yang realistis, dapat diimplementasikan dengan teknologi yang tersedia di kabupaten terpencil, dan yang memastikan data tidak hilang meskipun Puskesmas hancur
  • (c) Prinsip "build back better" menyatakan bahwa rekonstruksi pasca bencana adalah kesempatan untuk memperbaiki sistem β€” berikan satu contoh konkret di mana bencana besar di Indonesia telah (atau seharusnya) menghasilkan peningkatan sistem KIA yang permanen, dan analisis mengapa peluang tersebut berhasil dimanfaatkan atau justru terlewatkan
E

Rangkuman

  1. Bencana mendisrupsi kesehatan ibu dan anak melalui empat jalur yang bersamaan β€” hancurnya infrastruktur fisik, disrupsi tenaga kesehatan, peningkatan kerentanan populasi, dan terputusnya rantai suplai β€” dan dampaknya tidak terbatas pada fase akut tetapi berlanjut selama bulan-bulan pemulihan; AKI dapat meningkat 2–5 kali dalam 6 bulan pertama pasca bencana besar jika respons KIA tidak memadai
  2. MISP/PPAM adalah kerangka yang memastikan layanan KIA paling kritis tersedia sejak hari pertama respons β€” termasuk koordinasi, pencegahan dan pengelolaan kekerasan seksual, persalinan bersih dan aman, manajemen komplikasi obstetri, dan resusitasi neonatal; keterlambatan mengaktifkan PPAM karena menunggu situasi "stabil" adalah kesalahan yang menyebabkan kematian yang dapat dicegah
  3. Triase obstetri dalam kondisi bencana β€” mengalokasikan sumber daya yang sangat terbatas kepada kasus yang paling membutuhkan dan paling mungkin diselamatkan β€” adalah kompetensi yang memerlukan latihan dan protokol yang jelas; pendataan cepat ibu hamil adalah langkah pertama yang tidak dapat ditunda karena tanpa data yang tersedia, respons yang ditarget tidak mungkin dilakukan
  4. Prinsip "do no harm" dalam respons bencana mencakup penolakan terhadap distribusi susu formula massal, pengobatan massal tanpa indikasi, dan program yang menciptakan ketergantungan tanpa membangun kapasitas lokal β€” konsultan Obginsos memiliki tanggung jawab untuk menegakkan prinsip ini bahkan dalam tekanan kondisi darurat yang sering mendorong tindakan cepat tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang
  5. Kesiapsiagaan yang dibangun sebelum bencana β€” rencana kontinjensi, stockpile suplai, sistem data yang dapat dipulihkan, hospital preparedness β€” menentukan seberapa cepat dan efektif respons KIA dapat dilakukan; dan prinsip "build back better" menegaskan bahwa setiap fase rekonstruksi adalah kesempatan untuk meningkatkan sistem KIA yang sebelum bencana mungkin sudah tidak optimal
F

Referensi

  1. IAWG on Reproductive Health in Crises. Inter-Agency Field Manual on Reproductive Health in Humanitarian Settings. New York: IAWG; 2018. URL: iawg.net/resources/field-manual
  2. UNFPA. Minimum Initial Service Package (MISP) for Reproductive Health in Crisis Situations. New York: UNFPA; 2020. URL: unfpa.org/resources/minimum-initial-service-package-misp-reproductive-health-crisis-situations
  3. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) Kesehatan Reproduksi pada Krisis Kesehatan. Jakarta: Kemenkes; 2017. URL: kemkes.go.id
  4. Sorensen BS, Balsari S, Falb K, et al. Reproductive health in humanitarian settings: a global review. Conflict and Health. 2021;15:27. DOI: 10.1186/s13031-021-00363-6
  5. Casey SE. Evaluations of reproductive health programs in humanitarian settings. Conflict and Health. 2015;9(Suppl 1):S1. DOI: 10.1186/1752-1505-9-S1-S1
  6. Black BO, Bouanchaud PA, Bignall JK, Simpson E, Bhatt N. Reproductive health during conflict. The Obstetrician & Gynaecologist. 2014;16(3):153-160. DOI: 10.1111/tog.12091
  7. Onyango MA, Burkhardt G, Rouhani S, et al. Minimum initial service package (MISP) for reproductive health: time for a new paradigm? Conflict and Health. 2019;13:12. DOI: 10.1186/s13031-019-0197-z
  8. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Jakarta: BNPB; 2016. URL: bnpb.go.id
  9. WHO. Surgical Care at the District Hospital. Geneva: WHO; 2003. URL: who.int/surgery/publications/en/SCDH.pdf
  10. Sphere Association. The Sphere Handbook: Humanitarian Charter and Minimum Standards in Humanitarian Response (4th ed.). Geneva: Sphere; 2018. URL: spherestandards.org/handbook-2018

πŸ“‹ TUGAS KELOMPOK 4 – SESI 2 (MINGGU 9)

Mata Kuliah: Manajemen Kesehatan Ibu & Anak Terpadu (6 SKS)

Jenis Tugas Tugas Kelompok Keempat β€” Sesi 2
Bobot Nilai 15% dari nilai akhir mata kuliah
Komposisi 3–4 orang
Batas Pengumpulan Akhir Minggu ke-9
Format Laporan Word/PDF + slide presentasi (max 15 slide)
Panjang 2.000–3.000 kata

πŸ“– Petunjuk Pengerjaan

  1. Tugas ini adalah integrasi empat modul Sesi 2 β€” kemitraan bidan-dukun, gizi ibu hamil, sistem neonatal, dan KIA dalam bencana β€” dalam satu skenario krisis yang memaksa semua komponen berinteraksi bersamaan
  2. Skenario ini sengaja dirancang kompleks karena itulah realitas lapangan yang akan dihadapi konsultan Obginsos β€” tidak ada bencana yang hanya melibatkan satu isu
  3. Kualitas integrasi antar modul akan menjadi pembeda nilai tertinggi β€” jawaban yang hanya membahas satu atau dua modul tidak mencerminkan pemahaman holistik yang diharapkan
  4. Cantumkan nama, NIM, dan pembagian peran yang jelas di halaman pertama

πŸ—ΊοΈ "Hari Ketujuh di Pulau Moa"

Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku. Tujuh hari setelah gempa bumi 6,8 SR.

Dr. Indra, SpOG., Subsp.Obginsos., tiba bersama tim Kemenkes pada hari ketiga setelah bencana. Kini, di hari ketujuh, ia menulis laporan situasi kepada Koordinator Kesehatan Provinsi.

8.400
Total Pengungsi
94
Ibu Hamil Teridentifikasi
31
Trimester 3
7
Bidan Tersedia
1
Inkubator Portabel
4 hari
Bahan Bakar Genset

Kondisi Infrastruktur: RSUD Tiakur rusak berat β€’ 3 dari 5 Puskesmas rawat inap rusak β€’ Jalan ke 6 desa terpencil terputus β€’ Listrik hanya dari genset β€’ Komunikasi 60% pulih

Populasi Terdampak: 94 ibu hamil (31 trimester 3, 8 dengan riwayat komplikasi) β€’ 67 ibu menyusui β€’ 19 neonatus (4 prematur pasca bencana)

Tenaga Kesehatan: 7 bidan (dari 12) β€’ 2 dokter umum β€’ Dr. Indra: satu-satunya SpOG β€’ Tidak ada SpA β€’ 11 dukun beranak aktif di kamp

Suplai: Kit PPAM: 2 unit β€’ Oksitosin: ~3 minggu β€’ MgSO4: ~2 minggu β€’ Antibiotik: ~10 hari β€’ Tablet Fe: hanya cukup 30% ibu hamil β€’ Genset: 1 unit, bahan bakar 4 hari

Isu Tambahan: 3 ibu hamil trimester 3 di desa terisolir β€’ 1 neonatus prematur 28 minggu kritis β€’ 2 laporan kekerasan seksual belum ditindaklanjuti β€’ Distributor susu formula menawarkan 500 kaleng bantuan

🎯 BAGIAN A β€” Analisis Situasi dan Triase Prioritas (30%)

A1 β€” Pemetaan Masalah Berlapis (15%)

  • (a) Lakukan pemetaan masalah komprehensif yang mengidentifikasikan semua isu KIA kritis dalam skenario ini β€” kategorisasikan berdasarkan: kematian ibu yang mengancam, kematian neonatal yang mengancam, isu gizi, isu kemitraan/tenaga, dan isu sistem
  • (b) Dengan sumber daya yang sangat terbatas, triase prioritas adalah kritis. Buat matriks prioritas yang mengurutkan masalah berdasarkan urgensi (mengancam jiwa dalam 24–48 jam), magnitude (jumlah yang terdampak), dan reversibility (dapat dicegah atau dibalik jika ditangani sekarang)
  • (c) Identifikasikan tiga keputusan sulit yang Dr. Indra harus buat dalam 24 jam ke depan β€” di mana tidak ada pilihan yang sempurna dan setiap keputusan memiliki trade-off yang nyata; analisis trade-off tersebut secara eksplisit

A2 β€” Analisis Isu Lintas Modul (15%)

  • (a) Sebelas dukun di kamp adalah aset yang belum dioptimalkan. Berdasarkan konteks bencana dan pengetahuan dari Modul 6 β€” dalam kondisi kekurangan tenaga yang ekstrem ini, bagaimana peran dukun dapat dioptimalkan tanpa melanggar prinsip keamanan? Rancang briefing 2 jam untuk dukun
  • (b) Tablet Fe hanya cukup untuk 30% ibu hamil selama 4 minggu. Bagaimana Dr. Indra memprioritaskan distribusi β€” rancang kriteria alokasi yang adil dan berbasis bukti; dan strategi gizi realistis lainnya dalam kondisi darurat
  • (c) Empat neonatus prematur di kamp, satu inkubator portabel, tidak ada SpA. Rancang protokol perawatan neonatal prematur darurat untuk kamp ini β€” siapa yang melakukan apa, bagaimana inkubator dialokasikan, dan bagaimana KMC diimplementasikan

🎯 BAGIAN B β€” Rencana Respons Terpadu 14 Hari (45%)

B1 β€” Respons Hari 1–3: Stabilisasi (15%)
Rancang rencana kerja 72 jam untuk Dr. Indra dan timnya dengan alokasi tugas konkret; strategi penjangkauan darurat untuk 3 ibu hamil di desa terisolir dalam 48 jam; protokol respons minimal untuk 2 laporan kekerasan seksual.

B2 β€” Respons Hari 4–14: Konsolidasi (20%)
Rencana manajemen energi KIA dengan bahan bakar genset hanya 4 hari; sistem manajemen persalinan darurat untuk 11 persalinan diprediksi; surat resmi (250–300 kata) kepada LSM tentang 500 kaleng susu formula.

B3 β€” Sistem Informasi dan Koordinasi (10%)
Rancang Daily SITREP KIA satu halaman; identifikasikan tiga komponen rencana kontinjensi KIA yang jika sudah ada sebelum bencana akan paling signifikan mengubah kapasitas respons di hari pertama.

🎯 BAGIAN C β€” Refleksi Sistem dan Pembelajaran (25%)

C1 β€” Analisis Kesiapsiagaan Pra-Bencana (10%)
Kondisi hari ke-7 di Pulau Moa mencerminkan tidak hanya dampak bencana tetapi juga kondisi sistem KIA sebelum bencana. Identifikasikan tiga indikator yang menunjukkan sistem KIA sudah bermasalah sebelum bencana; rekomendasikan tiga prioritas investasi "build back better".

C2 β€” Kepemimpinan dalam Krisis (15%)
Dr. Indra adalah satu-satunya SpOG, pemimpin tim, dan pengambil keputusan dalam situasi yang terus berubah. Analisis proses pengambilan keputusan etis untuk neonatus prematur 28 minggu kritis; rancang tindakan konkret dalam 24 jam untuk merespons kelelahan tim.

πŸ“Š Rubrik Penilaian

Bagian Komponen Penilaian Utama Bobot
A1 Komprehensivitas pemetaan masalah; ketajaman matriks triase; kedalaman analisis trade-off 15%
A2 Kreativitas dan keamanan peran dukun; ketepatan kriteria alokasi Fe; realisme protokol neonatal prematur 15%
B1 Realisme rencana 72 jam dan delegasi; kreativitas strategi penjangkauan desa terisolir; ketepatan protokol KBG minimal 15%
B2 Kualitas manajemen energi KIA; komprehensivitas sistem persalinan 11 kasus; kualitas surat kepada LSM 20%
B3 Fungsionalitas template SITREP; ketepatan tiga komponen kontinjensi; justifikasi berbasis kondisi nyata 10%
C1 Ketajaman identifikasi masalah pra-bencana; relevansi rekomendasi build back better 10%
C2 Kedalaman analisis pengambilan keputusan etis; concreteness respons terhadap kelelahan tim 15%