🀝 Modul 6 | Sesi 2 | Semester 2

Kemitraan Bidan dan Dukun: Rekonfigurasi Peran dalam Sistem KIA Modern

Semester 2 | Periode 1 | MK Manajemen Kesehatan Ibu & Anak Terpadu (6 SKS)

πŸ‘¨β€βš•οΈ
Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom.
A

Deskripsi Modul

Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Ambon. Selasa pagi.

Bidan Nani sudah tiga tahun bertugas di desa ini. Ia kenal hampir semua ibu hamil di wilayah kerjanya. Tetapi ada satu orang yang selalu lebih dulu ia kenal sebelum mengenal para ibu hamil itu: Mama Tina, dukun beranak yang sudah praktik sejak sebelum Bidan Nani lahir.

Dalam tiga tahun, mereka pernah bertengkar tiga kali β€” paling keras ketika Ny. Rika, hamil 38 minggu dengan letak lintang, memilih menunggu proses "pembalikan bayi" oleh Mama Tina selama dua hari sebelum akhirnya dirujuk dalam kondisi gawat. Ny. Rika selamat. Tetapi hubungan Bidan Nani dan Mama Tina sempat tidak bicara sebulan.

Kemudian sesuatu berubah. Kabupaten meluncurkan program kemitraan bidan-dukun. Mama Tina diundang ke pelatihan di Puskesmas β€” bukan untuk "diajarkan kebidanan modern", tetapi untuk mendiskusikan peran masing-masing. Mama Tina mendapat seragam, kartu identitas sebagai mitra kesehatan, dan insentif transport untuk setiap persalinan yang ia antar ke Bidan Nani.

Setahun kemudian: tidak ada lagi persalinan yang dilakukan Mama Tina sendirian di desa ini. Semua persalinan dilakukan oleh Bidan Nani β€” dengan Mama Tina hadir mendampingi, menenangkan keluarga, memimpin doa, dan memastikan tradisi yang bermakna tetap terjaga.

Dukun beranak adalah realitas yang tidak dapat diabaikan dalam sistem KIA Indonesia. Di banyak wilayah β€” terutama di pedesaan terpencil, kepulauan, dan komunitas adat β€” dukun bukan sekadar alternatif ketika bidan tidak ada. Mereka adalah figur kepercayaan yang memiliki otoritas sosial dan spiritual yang tidak dapat digantikan oleh kompetensi klinis semata.

Pendekatan "eliminasi dukun" yang pernah menjadi kebijakan pada era tertentu terbukti tidak efektif dan sering kontraproduktif β€” mendorong persalinan dukun ke bawah tanah, memutus hubungan komunitas dengan sistem kesehatan formal, dan menghilangkan modal sosial yang sebenarnya dapat digunakan untuk meningkatkan cakupan dan kepercayaan.

Modul ini membangun pemahaman kritis tentang kemitraan bidan-dukun: fondasi konseptualnya, bukti efektivitasnya, bagaimana merancang program kemitraan yang genuine (bukan sekadar administratif), dan bagaimana mengelola kompleksitas sosial dan budaya yang melekat dalam kemitraan ini.

B

Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Menjelaskan rasional dan fondasi bukti program kemitraan bidan-dukun dalam sistem KIA
  2. Menganalisis faktor yang menentukan keberhasilan dan kegagalan program kemitraan bidan-dukun di berbagai konteks
  3. Merancang program kemitraan bidan-dukun yang kontekstual, berbasis bukti, dan berkelanjutan
  4. Mengevaluasi ketegangan antara pendekatan biomedis dan pendekatan tradisional dalam pertolongan persalinan
  5. Mengintegrasikan perspektif sosial-budaya dalam strategi peningkatan cakupan persalinan nakes
C

Materi Inti

C.1. Dukun Beranak dalam Konteks Sistem KIA Indonesia

C.1.1. Siapa Dukun Beranak dan Mengapa Masih Relevan

DUKUN BERANAK (Traditional Birth Attendant / TBA):
Seseorang yang menolong persalinan berdasarkan pengalaman, tradisi, dan kepercayaan komunitas β€” bukan berdasarkan pendidikan formal kebidanan.

πŸ“ KETERSEDIAAN & AKSES

  • Ada di komunitas 24 jam: tidak perlu transportasi, tidak perlu biaya tambahan
  • Tidak mensyaratkan dokumen administrasi (JKN, KTP, kartu ANC)
  • Dapat dipanggil kapan saja tanpa antri atau prosedur

πŸ™ KEPERCAYAAN SOSIAL & SPIRITUAL

  • Figur yang dikenal sejak lama β€” sering menolong ibu, nenek, bahkan buyut pasien yang sama
  • Memiliki otoritas spiritual: doa, ritual, upacara yang diyakini melindungi ibu dan bayi
  • Tidak judgemental: tidak menghakimi kondisi sosial, status pernikahan, atau perilaku

🏠 PENDEKATAN BERPUSAT PADA PASIEN

  • Persalinan di rumah: lingkungan yang familiar, dikelilingi keluarga
  • Menghormati tradisi: posisi melahirkan, perlakuan plasenta, ritual pasca persalinan
  • Tidak membatasi kehadiran keluarga
DATA PERSALINAN DUKUN DI INDONESIA: 17%

Persalinan nasional masih ditolong dukun atau keluarga (SDKI 2017)

Variasi besar: di NTT, Papua, Maluku β€” persentase jauh lebih tinggi

Korelasi kuat dengan: daerah terpencil, komunitas adat, kemiskinan, pendidikan rendah

Dalam kondisi tidak ada bidan: angka persalinan dukun dapat mencapai 60–80% di desa tertentu

C.1.2. Risiko Klinis Persalinan Dukun

RISIKO KLINIS YANG TERDOKUMENTASI:
  • Risiko Infeksi: Alat tidak steril (pisau, benang, daun), praktik "ngolesi" tanpa teknik aseptik, pemberian ramuan melalui vagina yang meningkatkan risiko sepsis
  • Risiko Perdarahan: Tidak mampu melakukan AMTSL, tidak tersedia oksitosin/misoprostol, tidak mampu mengelola atonia uteri, keterlambatan merujuk kasus PPH
  • Risiko Distosia & Letak Abnormal: Tidak mampu menilai kemajuan persalinan secara klinis, praktik "versi luar" oleh dukun yang tidak terlatih, tidak mampu melakukan ekstraksi vakum/forsep
  • Risiko Neonatal: Tidak mampu resusitasi neonatal, tali pusat tidak dipotong steril (risiko tetanus neonatorum), tidak mampu menilai tanda bahaya bayi baru lahir
PENTING UNTUK DIPAHAMI:
Risiko ini BUKAN berarti dukun adalah "musuh" sistem β€” melainkan bahwa risiko ini justifikasi mengapa kemitraan yang memindahkan tindakan klinis ke bidan adalah prioritas, sementara peran sosial-budaya dukun dipertahankan dan dihargai.

C.1.3. Evolusi Kebijakan: Dari Eliminasi ke Kemitraan

ERA 1: 1970an–1990an

πŸŽ“ Pelatihan Dukun

Pendekatan: Latih dukun agar melakukan praktik yang lebih aman

  • Pelatihan higienis persalinan, penggunaan kit bersalin
  • Hasil: mixed evidence; penurunan infeksi tetapi tidak cukup menurunkan AKI
  • Keterbatasan: tidak mengatasi akar masalah (kompetensi klinis untuk komplikasi)
ERA 2: 1990an–2000an

πŸ₯ Bidan di Desa

Pendekatan: Tempatkan bidan di setiap desa untuk menggantikan dukun

  • Program bidan desa masif (75.000+ bidan)
  • Hasil: peningkatan cakupan persalinan nakes signifikan di banyak provinsi
  • Keterbatasan: daerah terpencil tetap rendah; dukun tidak hilang karena kepercayaan komunitas tidak dapat digantikan hanya dengan kehadiran fisik bidan
ERA 3: 2000an–Sekarang

🀝 Kemitraan Bidan-Dukun

Pendekatan: Bidan dan dukun bekerja bersama dengan peran yang berbeda dan komplementer

  • Program: berbagai model di berbagai daerah
  • Hasil: lebih menjanjikan dalam konteks tertentu β€” tetapi implementasi sangat bervariasi
  • Tantangan: memastikan kemitraan genuine, bukan sekadar administratif

C.2. Model Kemitraan Bidan-Dukun

C.2.1. Prinsip Kemitraan yang Genuine

❌ KEMITRAAN ADMINISTRATIF

  • Dukun mendapat sertifikat "mitra kesehatan" tetapi tidak ada perubahan praktik nyata
  • Pertemuan bulanan yang tidak menghasilkan perubahan perilaku
  • Dukun merasa "dibeli" bukan "dihargai"
  • Bidan merasa dukun adalah hambatan yang perlu "dikendalikan"
  • Komunitas melihat kemitraan sebagai formalitas tanpa makna

βœ… KEMITRAAN GENUINE

  • Saling menghormati peran masing-masing: bidan tidak merendahkan peran sosial-budaya dukun; dukun menghormati kompetensi klinis bidan
  • Pembagian peran yang jelas dan disepakati β€” bukan dipaksakan
  • Dukun mendapat manfaat nyata: insentif, pengakuan, identitas sebagai bagian sistem
  • Komunitas melihat dan merasakan bahwa kemitraan ini memberi nilai tambah
LIMA ELEMEN KEMITRAAN YANG EFEKTIF:
  1. Kesepakatan Peran: Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dukun β€” didiskusikan bersama, bukan didikte sepihak
  2. Sistem Komunikasi: Bagaimana dukun menghubungi bidan: nomor yang selalu aktif, protokol yang jelas, waktu respons yang disepakati
  3. Insentif yang Bermakna: Transport, pengakuan publik, identitas formal β€” bukan sekadar sertifikat yang tidak memberi nilai nyata
  4. Mekanisme Supervisi Supportif: Pertemuan rutin yang membahas kasus bersama, bukan mengevaluasi kepatuhan dukun
  5. Keterlibatan Komunitas: Tokoh masyarakat dan keluarga memahami dan mendukung pembagian peran bidan-dukun

C.2.2. Model Peran Dukun dalam Kemitraan

πŸ‘΅

DUKUN BERANAK

Peran Sosial-Budaya

  • Mendampingi ibu hamil ke ANC
  • Dukungan emosional & spiritual
  • Identifikasi ibu hamil baru di komunitas
  • Memastikan ibu minum tablet Fe
  • Mendampingi saat persalinan (bukan menolong)
  • Menghubungi bidan segera
  • Membantu transportasi & organisasi keluarga
  • Kunjungan rumah pasca persalinan
  • Memastikan pantang yang tidak berbahaya
  • Mendukung ASI eksklusif dalam kerangka budaya
TIDAK melakukan:
β€’ Pemeriksaan dalam β€’ Memimpin mengejan β€’ Memotong tali pusat β€’ Mengeluarkan plasenta
+
πŸ‘©β€βš•οΈ

BIDAN

Kompetensi Klinis

  • ANC berkualitas sesuai standar
  • Pertolongan persalinan aman
  • AMTSL & manajemen PPH
  • Resusitasi neonatal
  • Deteksi & penanganan komplikasi
  • Rujukan tepat waktu
  • Pencatatan & pelaporan
  • Edukasi kesehatan reproduksi
=

🎯 HASIL KEMITRAAN

Persalinan aman di fasilitas dengan dukungan budaya β€’ Cakupan persalinan nakes meningkat β€’ Kepercayaan komunitas terhadap sistem kesehatan meningkat β€’ Tradisi bermakna tetap terjaga β€’ Kematian ibu & bayi dapat dicegah

NEGOSIASI PERAN YANG SERING KOMPLEKS:
β†’ Pemotongan tali pusat: ritual penting dalam banyak budaya β€” siapa yang memotong, dengan apa, dan bagaimana memastikan steril
β†’ Perlakuan plasenta: penguburan, ritual β€” tidak menghalangi penilaian medis tetapi dihormati setelahnya
β†’ Posisi melahirkan: banyak dukun mendukung posisi jongkok atau berdiri β€” adaptasi yang mungkin dilakukan bidan untuk memfasilitasi
β†’ Siapa yang boleh hadir: dalam banyak budaya, kehadiran suami dilarang β€” bagaimana fasilitas mengakomodasi ini

C.2.3. Bukti Efektivitas Program Kemitraan

STUDI YANG MENDUKUNG:

Indonesia (berbagai daerah):

  • Evaluasi program kemitraan di Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan cakupan persalinan nakes dari 42% menjadi 71% dalam 3 tahun
  • Kabupaten di NTT yang mengimplementasikan kemitraan struktural (bukan hanya pelatihan) mencatat penurunan kematian ibu yang lebih cepat dibanding yang tidak

Sub-Sahara Afrika:

  • Model "obstetric referral networks" yang melibatkan TBA sebagai penghubung komunitas-fasilitas menunjukkan peningkatan rujukan kasus risiko tinggi
  • Studi cluster RCT di Tanzania: TBA yang dilatih sebagai "community health workers" (bukan birth attendants) meningkatkan cakupan ANC dan persalinan fasilitas
KETERBATASAN BUKTI:
β†’ Heterogenitas program yang disebut "kemitraan" sangat besar β€” sulit membandingkan hasil
β†’ Banyak evaluasi tidak menggunakan desain yang kuat (RCT atau quasi-experimental)
β†’ Konteks sangat menentukan: program yang berhasil di satu kabupaten tidak otomatis berhasil di kabupaten lain
β†’ Risiko bahwa kemitraan melegitimasi kehadiran dukun tanpa mengurangi persalinan dukun secara bermakna jika implementasi lemah
KESIMPULAN EVIDENCE:
Kemitraan bidan-dukun efektif KETIKA:
βœ… Peran dukun redefinisi dari "birth attendant" menjadi "community health promoter"
βœ… Ada insentif nyata dan pengakuan formal
βœ… Ada sistem komunikasi yang berfungsi
βœ… Komunitas memahami dan mendukung peran masing-masing
βœ… Ada monitoring yang memastikan tidak ada persalinan dukun yang tidak dilaporkan

C.3. Merancang Program Kemitraan

C.3.1. Analisis Konteks Sebelum Merancang

TIDAK ADA SATU MODEL KEMITRAAN YANG BERLAKU UNIVERSAL β€” KONTEKS MENENTUKAN DESAIN

Pertanyaan Konteks yang Harus Dijawab:
Tentang Dukun: Berapa jumlah dukun aktif? Bagaimana otoritas & legitimasi mereka? Apa motivasi mereka? Apakah ada hierarki antar dukun? Apakah mereka terbuka atau resistif?
Tentang Komunitas: Apa kepercayaan & nilai seputar kehamilan & persalinan? Siapa tokoh paling berpengaruh dalam keputusan tempat bersalin? Apa pengalaman komunitas dengan sistem kesehatan formal?
Tentang Bidan: Bagaimana sikap bidan terhadap dukun? Apakah bidan memahami & menghargai konteks budaya? Apakah beban kerja bidan memungkinkan untuk membangun relasi dengan dukun?
PEMETAAN DUKUN β€” Langkah pertama sebelum merancang program:
β†’ Identifikasikan semua dukun aktif: jumlah, lokasi, profil
β†’ Kategorisasikan: dukun yang sudah berkolaborasi informal, yang netral, yang resistif
β†’ Identifikasikan dukun "kunci" yang memiliki pengaruh paling besar β€” keterlibatan mereka adalah kritis

C.3.2. Komponen Program Kemitraan

πŸ“œ 1. Legitimasi & Pengakuan
  • SK resmi dari Dinkes/Pemda
  • Kartu identitas mitra kesehatan
  • Seragam atau atribut yang terlihat
  • Pengakuan publik dalam forum resmi
  • Pelibatan dalam musyawarah desa terkait kesehatan
πŸŽ“ 2. Orientasi & Pelatihan
  • Bukan pelatihan klinis (tidak untuk meningkatkan kemampuan menolong persalinan)
  • Tetapi: orientasi tanda bahaya yang harus segera dirujuk, cara menghubungi bidan, protokol transportasi
  • Diskusi peran masing-masing: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dukun
  • Memahami pentingnya ANC dan persalinan di fasilitas β€” dalam bahasa & konteks yang relevan
πŸ“ž 3. Sistem Komunikasi
  • Nomor HP bidan yang selalu aktif
  • Protokol yang jelas: hubungi bidan sebelum persalinan dimulai β€” tidak menunggu komplikasi
  • Grup komunitas yang mencakup bidan dan dukun untuk koordinasi
  • Sistem back-up ketika bidan tidak dapat dihubungi
πŸ’° 4. Insentif
  • Transport untuk setiap persalinan yang diantar ke bidan/fasilitas
  • Bukan untuk persalinan yang ditolong sendiri (tidak memberi insentif perilaku yang salah)
  • Insentif non-finansial: pengakuan, seragam, keterlibatan dalam program
  • Transparansi: semua dukun mendapat insentif yang sama sesuai mekanisme yang sama
πŸ“Š 5. Monitoring
  • Pencatatan setiap persalinan di wilayah: ditolong siapa, di mana
  • Review berkala: apakah ada persalinan dukun yang tidak dilaporkan?
  • Kunjungan bersama pasca persalinan: memastikan tidak ada komplikasi tersembunyi
  • Forum diskusi kasus: kemitraan digunakan untuk pembelajaran bersama, bukan hanya koordinasi

C.3.3. Mengelola Kompleksitas dan Ketegangan

βš–οΈ Ketegangan 1: Kepercayaan Budaya vs. Praktik Berbasis Bukti

Contoh: Dukun meyakini bahwa "bayi yang turun terlalu cepat" harus diperlambat dengan cara tertentu β€” yang bertentangan dengan manajemen persalinan

πŸ’° Ketegangan 2: Ekonomi Dukun vs. Tujuan Program

Contoh: Dukun yang kehilangan pendapatan dari persalinan tidak memiliki insentif ekonomi untuk merujuk β€” bahkan setelah program diimplementasikan

πŸ‘‘ Ketegangan 3: Otoritas Profesional Bidan vs. Otoritas Sosial Dukun

Contoh: Bidan merasa kompetensinya tidak dihargai ketika dukun masih "mendikte" keputusan; dukun merasa otoritasnya dikurangi oleh sistem formal
KAPAN KEMITRAAN HARUS DIEVALUASI ULANG:
β†’ Jika dukun masih menolong persalinan secara mandiri setelah program berjalan 12 bulan β€” evaluasi apakah insentif dan peran sudah cukup jelas
β†’ Jika bidan tidak dapat dihubungi saat dibutuhkan β€” sistem komunikasi rusak
β†’ Jika komunitas tidak merasakan manfaat nyata dari kemitraan β€” keterlibatan komunitas perlu diperkuat

❓ Pertanyaan Diskusi

Thread Dosen – Minggu 6 | Modul 6

Pertanyaan 1: Merancang Program Kemitraan dari Nol

Bidan Nani dan Mama Tina di awal modul ini akhirnya membangun kemitraan yang berfungsi β€” tetapi itu terjadi setelah insiden Ny. Rika yang hampir fatal dan program kabupaten yang menyediakan struktur formal. Bayangkan Anda adalah konsultan Obginsos yang baru tiba di kabupaten dengan kondisi: cakupan persalinan nakes 58%, diperkirakan ada 120 dukun aktif di 47 desa, tidak ada program kemitraan formal yang pernah berjalan, dan sikap bidan terhadap dukun berkisar dari "toleran tapi tidak mau bekerja sama" hingga "terang-terangan memusuhi".

  • (a) Rancang langkah-langkah yang akan Anda ambil dalam 3 bulan pertama sebelum meluncurkan program kemitraan formal β€” apa yang perlu Anda pahami, siapa yang perlu Anda temui, dan data apa yang perlu Anda kumpulkan agar program tidak gagal sejak desain? Justifikasikan setiap langkah berdasarkan materi modul
  • (b) Salah satu dukun yang paling berpengaruh di kabupaten β€” sebut saja Mama Yuliana β€” secara terbuka menyatakan di forum desa bahwa "bidan zaman sekarang tidak bisa pegang bayi, hanya bisa pegang jarum suntik". Bagaimana Anda merespons situasi ini sebagai konsultan: apakah Anda mengkonfrontasi pernyataan tersebut secara langsung, mendekati Mama Yuliana secara personal, atau menggunakan pendekatan lain? Rancang strategi yang spesifik dan justifikasikan pilihan Anda
  • (c) Program kemitraan yang Anda rancang berjalan 6 bulan. Data menunjukkan cakupan persalinan nakes naik dari 58% menjadi 67% β€” kemajuan yang baik. Tetapi Anda mendapat laporan bahwa tiga dukun di dua desa masih menolong persalinan secara mandiri tanpa memanggil bidan, dan satu dari kasus tersebut adalah bayi yang lahir dengan asfiksia berat dan akhirnya meninggal. Bagaimana Anda merespons situasi ini tanpa menghancurkan kemitraan yang sudah dibangun tetapi juga tanpa membiarkan praktik yang berbahaya berlanjut?

Pertanyaan 2: Argumen Pro dan Kontra Kemitraan

Program kemitraan bidan-dukun sering disebut sebagai "solusi pragmatis untuk konteks Indonesia". Tetapi ada ketegangan mendasar yang jarang dibahas secara terbuka: dengan mempertahankan peran dukun dalam sistem β€” meskipun dalam kapasitas yang teredefinisi β€” apakah kita secara tidak langsung melegitimasi kehadiran figur yang, dalam kondisi tertentu, masih dapat membahayakan ibu dan bayi?

  • (a) Bangun argumen yang mendukung program kemitraan bidan-dukun sebagai kebijakan yang tepat dalam konteks Indonesia saat ini β€” gunakan data, teori, dan konteks sosial-budaya yang relevan
  • (b) Bangun argumen yang kritis terhadap program kemitraan: apa risiko yang paling serius dari pendekatan ini, dan dalam kondisi apa kemitraan justru dapat memperburuk keselamatan ibu dibanding tidak ada program kemitraan sama sekali?
  • (c) Setelah membangun kedua argumen tersebut, nyatakan dan justifikasikan posisi Anda sendiri: apakah program kemitraan bidan-dukun harus dipertahankan, direformasi secara fundamental, atau ditinggalkan demi pendekatan yang berbeda? Posisi Anda harus didukung oleh argumentasi yang koheren, bukan hanya pilihan yang pragmatis
E

Rangkuman

  1. Dukun beranak bukan sekadar "alternatif ketika bidan tidak ada" β€” mereka adalah figur kepercayaan dengan otoritas sosial dan spiritual yang dibangun selama generasi, dan otoritas ini tidak dapat dieliminasi hanya dengan menempatkan bidan di desa; memahami mengapa komunitas memilih dukun β€” ketersediaan, kepercayaan, pendekatan yang menghormati tradisi, dan ketiadaan hambatan administratif β€” adalah prasyarat untuk merancang program kemitraan yang genuine
  2. Evolusi kebijakan dari pelatihan dukun ke bidan di desa ke kemitraan mencerminkan pembelajaran yang panjang bahwa tidak ada pendekatan tunggal yang cukup; kemitraan berbasis redefinisi peran β€” dukun sebagai community health promoter, bukan birth attendant β€” menggabungkan kekuatan sistem formal (kompetensi klinis) dengan kekuatan sistem tradisional (kepercayaan komunitas) tanpa memaksakan yang satu menggantikan yang lain
  3. Kemitraan genuine berbeda secara fundamental dari kemitraan administratif β€” yang membedakan adalah apakah dukun merasakan penghargaan yang nyata atas perannya, apakah pembagian peran disepakati (bukan dipaksakan), apakah sistem komunikasi berfungsi untuk kasus nyata, dan apakah komunitas melihat dan merasakan manfaat dari kolaborasi tersebut
  4. Ketegangan antara kepercayaan budaya dan praktik berbasis bukti, antara ekonomi dukun dan tujuan program, serta antara otoritas bidan dan otoritas dukun adalah kompleksitas yang tidak dapat dihilangkan tetapi dapat dinavigasi melalui komunikasi yang terbuka, pembagian peran yang eksplisit, dan insentif yang menyelaraskan motivasi dukun dengan tujuan program
  5. Bukti efektivitas kemitraan bidan-dukun adalah nyata tetapi kontekstual β€” program yang sama dapat berhasil di satu wilayah dan gagal di wilayah lain; analisis konteks yang mendalam sebelum merancang program, monitoring yang jujur terhadap apakah persalinan dukun benar-benar berkurang, dan kesiapan untuk mereformasi program ketika bukti menunjukkan kemitraan tidak berfungsi adalah tanda manajemen program yang matang
F

Referensi

  1. Sibley LM, Sipe TA. Transition to skilled birth attendance: is there a future role for trained traditional birth attendants? Journal of Health, Population and Nutrition. 2006;24(4):472-478. URL: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3001150/
  2. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Kemitraan Bidan dan Dukun. Jakarta: Kemenkes; 2008. URL: kemkes.go.id
  3. Badan Pusat Statistik. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017. Jakarta: BPS; 2018. URL: bps.go.id
  4. Jokhio AH, Winter HR, Cheng KK. An intervention involving traditional birth attendants and perinatal and maternal mortality in Pakistan. New England Journal of Medicine. 2005;352(20):2091-2099. DOI: 10.1056/NEJMoa042830
  5. Prost A, Colbourn T, Seward N, et al. Women's groups practising participatory learning and action to improve maternal and newborn health in low-resource settings. The Lancet. 2013;381(9879):1736-1746. DOI: 10.1016/S0140-6736(13)60685-6
  6. Kruske S, Barclay L. Effect of shifting policies on traditional birth attendant training. Journal of Midwifery & Women's Health. 2004;49(4):306-311. DOI: 10.1016/j.jmwh.2004.01.005
  7. Titaley CR, Hunter CL, Heywood P, Dibley MJ. Why don't some women attend antenatal and postnatal care services? BMC Pregnancy and Childbirth. 2010;10:61. DOI: 10.1186/1471-2393-10-61
  8. Hulton L, Matthews Z, Stones RW. A Framework for the Evaluation of Quality of Care in Maternity Services. Southampton: University of Southampton; 2000.
  9. WHO. Traditional Birth Attendants: A Joint WHO/UNFPA/UNICEF Statement. Geneva: WHO; 1992. URL: apps.who.int/iris/handle/10665/38994
  10. Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Laporan Evaluasi Program Kemitraan Bidan-Dukun Provinsi NTT 2019–2022. Kupang: Dinkes NTT; 2023. URL: dinkes.nttprov.go.id